
3 jam Ara dan yang lainnya menghabiskan waktu di studio Akio. Masih mentahan. Namun nanti akan Akio bantu untuk merapihkan rekaman adik dan teman - temannya.
Ara berjalan ke arah kulkas yang ada di dapur di ikuti Bryan. Sedangkan yang lainnya langsung keluar ke samping rumah Ara.
Momy So Ra sudah menyiapkan camilan dan minuman di luar. Bahkan Momy So Ra menyiapkan meja panjang untuk menaruh segala camilan dan minuman, agar teman - teman anaknya tidak sungkan jika ingin minum dan makan.
Ara mengambil minuman isotonic botol miliknya di kulkas. Saat berbalik Ia terkejut sampai mengumpat.
"Haah moonyet monyat." Ara menatap kesal pada Bryan.
"Calon suami kok di katain monyet siih." Ucap Bryan.
"Siapa suruh ngagetin." Ucap Ara.
Bryan merebut botol isotonic dari tangan Ara. Lalu meminumnya tanpa rasa malu.
Ara hanya mendengus melihatnya. Sudah biasa. Bahkan makan satu sendok juga pernah.
Waktu kecil.
Bryan merangkul Ara berjalan ke luar rumah tempat teman - temannya latihan dance.
Langsung saja mereka mulai latihan koreo. Sampai tak terasa waktu sudah menjelang sore hari. Latihan hari ini pun selesai, dan perkembangannya sangat cepat. Terbukti dari teman - teman dancer yang semakin lancar koreonya.
Mereka pun pamit pada orang tua Ara dan ketiga kakak Ara yang kebetulan sedang bersantai di kursi kolam renang.
Empat sahabat Ara dan Bryan pun berpamitan pulang, karena jarak dari rumah Ara ke rumah mereka lumayan jauh. Jadi mereka tak ingin pulang larut. Meski sudah di tawari untuk menginap, namun mereka sungkan.
Tersjsa Ara, Bryan, Akio, tiga kakak Ara dan kedua orang tua Ara yang duduk di meja makan luar.
"Gimana kabar orang tua kamu, Bryan?" Tanya Dady Shi Won seraya menyeruput kopi panasnya perlahan.
"Baik, Om. Oyah, Dady dan Momy titip salam untuk Om dan Tante, katanya kapan - kapan berkunjunglah ke rumah." Ucap Bryan di angguki Shi Won dan So Ra.
"Ad, tiket kamu dan Ax juga Ans sudah siap?" Tanya Dady.
Adelard mengangguk. Ara yang kebingungan.
"Loh, emangnya Abang mau kemana?" Tanya Ara pada Adelard.
Dady menghela nafasnya pelan, "Kami harus ke Florida dulu sayang, ada urusan mendesak disana yang mengharuskan ketiga kakakmu ikut Kami." Ucap Dady.
"Heem, kemungkinan sehari sebelum classmeet kalian, Kami sampai disini. Kamu gak keberatan kan kalo Kamu dan Akio menginap dulu di rumah Dominic? Momy cuma khawatir meninggalkan kalian berdua meski di rumah banyak pelayan dan penjaga. Namun akan lebih tenang jika ada keluarga yang menjaga kalian." Ucap So Ra seraya mengusap puncuk kepala Ara.
Ara menatap Momy lalu Akio. Seakan meminta saran dari kakak ke empatnya itu. Akio mengangguk setuju. Tak masalah menurutnya. Lagian juga jarak rumah Bryan dan Sekolah lebih dekat.
Ara mengangguk. "Yaudah Mom, gak apa - apa. Kalian berangkat kapan emangnya?" Tanya Ara.
"Besok princess, jam 8 pesawat take off." Jawab Adelard.
Mau gak mau Ara mengangguk pasrah. Orang tua dan kakak - kakaknya sangat sibuk, Ia tidak boleh membuat mereka terlalu khawatir padanya.
__ADS_1
***
Tok
Tok
Tok
Ara yang sedang rebahan di kasur seraya menonton movie teralihkan dengan suara ketukan pintu.
Biasanya sang Momy yang suka datang ke kamarnya sebelum tidur. Untuk memeriksa keadaan putrinya atau sekedar bercerita.
Ara turun dari kasur lalu berjalan ke arah pintu.
Ceklek
Ara terkejut dengan kehadiran Bryan yang menggunakan celana pendek selutut juga kaos over size.
"Kenapa?" Tanya Ara.
Tanpa berucap apa - apa, Bryan memasuki kamar Ara. Dan dengan santainya Bryan merebahkan badannya di kasur Ara.
"Ngapain si Kamu, Bryaaaan. Keluar sana ah. Aku lagi asik - asik nonton juga." Ucap Ara megusir.
"Gak bisa tidur, By." Ucap Bryan.
Ara menghela nafas. Lalu berjalan menaiki kasurnya berbaring di samping Bryan.
Bryan terkekeh melihat reaksi Ara.
"Kalo takut kenapa di tonton sih?" TanyaBryan.
"Seru tahu. Dag dig dug gimana gitu." Jawab Ara yang matanya masih fokus menatap berbagai adegan di tv itu.
Bryan tidak mengatakan apa - apa lagi. Ia membiarkan Ara menikmati film pilihannya itu.
40 menit kemudian, film zombie pun selesai. Ara menghela nafas lega. Dulu waktu di panti, Ia tidak bisa seperti sekarang yang ketika ada film baru tayang bisa langsung menonton dari rumah. Namun harus ke bioskop atau menunggu 3 bulan untuk menonton online.
Ara beranjak dari kasurnya berjalan ke arah mini kulkas yang ada di samping meja belajarnya.
"Kamu mau?" Tanya Ara pada Bryan yang saat ini duduk bersandar di head board.
"Coffee ada?" Tanya Bryan.
"Katanya susah tidur, tapi minumnya kopi. Gimana sih." Gerutu Ara namun tetap mengambil minuman kopi kaleng untuk Bryan. Sedangkan dirinya mengambil minuman kelapa.
"Nih." Bryan menerima minuman dari Ara.
Tak
Gluk
__ADS_1
Gluk
Ara menatap lamat Bryan yang tengah minum, kenapa jakunnya sangat menarik perhatiannyaaaaa.
Ara menggelengkan kepalanya lalu segera duduk di samping Bryan dan juga meminum minumannya. Rasanya tenggorokkan sangat kering setelah menonton film horor.
"Beb." Panggil Bryan menatap Ara yang ada di sampingnya.
Ara menaruh minumannya di nakas sebelah kanannya. Lalu menatap balik Bryan.
"Hm?"
"Kita merried besok aja yuk!" Ara melongo mendengar ajakan Bryan yang seperti tengah mengajaknya kencan.
Puk
Ara memukul dada bidang Bryan pelan.
Grep
Bryan menangkap tangan putih mulus milik Ara dan mendekapnya di dada bidangnya. Tepat dimana jantung berada. Hingga Ara dapat merasakan detakan yang bertalu cepat itu.
"Beb, merried besok yuk!" Lagi, Bryan mengulangi ucapannya dengan nada melas. Ia benar - benar gak tahan jika lama - lama melihat cowok di luaran sana menatap penuh damba pada kekasihnya ini.
Bryan ingin dunia tahu kalo Arabela hanya milik Bryan. Dengan menikah tentunya, lebih falid.
Ara terkekeh. "Kamu ini kebelet kawin yah?" Tanya Ara dengan kekehan lucunya.
"Iya, Aku kebelet kawin. Puas kamu?" Ucap Bryan kesal dengan Ara. Ia sedang serius, Dia malah becanda.
Bryan melepaskan tangan Ara dan bersedekap seraya meluruskan pandangannya pada TV yang mati.
"Utu utu utuuu, jangan ngambek doong sayangnya Akuuuu. Hm hm?" Ucap Ara seraya memeluk Bryan dari samping.
Saat mereka kecil, mereka sering tidur berpelukan seperti ini. Dulu rasanya Ara bisa melingkarkan lengannya sampai ke punggung Bryan. Tapi sekarang lihatlah, badan cowok itu berubah menjadi atletis. Tegap, kekar. Dan, semakin tampan.
"Kamu tau gak, By? Aku selalu insecure ketika melihat cewek - cewek yang deket sama Kamu dulu." Ucap Ara mengalihkan pembicaraan Bryan sebelumnya.
Ia juga sangat ingin sebenarnya untuk mensahkan secara agama dan negara hubungannya dengan Bryan. Namun Ia menghargai kedua orang tua mereka yang ingin mempersiapkan segalanya dengan matang.
"Kenapa? Kamu lebih baik dalam segal hal daripada mereka." Sanggah Bryan.
Ara menggelengkan kepalanya seraya tersenyum manis. "No no. Kalau urusan cantik dan semuanya, i'm the top." Ucap Ara sombong.
"Yang aku iriin itu, karena mereka bisa deket sama Kamu. Sedangkan Aku? Telpon bahkan chatting aja enggak." Ucap Ara ketika mengingat malangnya Dia hanya karena seorang Bryan.
"But now. I'm yours, and you are mine." Ucap Bryan merengkuh tubuh tinggi langsing Ara ke dalam pelukannya.
Ara balas memeluk bahu lebar Bryan. Tak butuh waktu lama bagi mereka menyelami alam mimpi. Yang mungkin saja mereka sedang mengarungi mimpi indah bersama.
...Bersambung...
__ADS_1