Possessive Vs Bucin

Possessive Vs Bucin
Meng-Iriiiii


__ADS_3


Bryan terperangah saat dirinya di tinggal sendirian di depan rumah, sedangkan Ara sudah di tarik Momy nya masuk ke dalam rumah.


Ara memutar kepalanya ke belakang menatap Bryan. Ara tersenyum kikuk. Bryan yang seakan mengerti tatapan itu segera menyusul Ara dan mengikuti mereka yang berkeliling rumah.


Bukannya Ara gak mau. Hanya saja mereka sudah bertahun - tahun tidak bertemu, Ia sedikit canggung untuk masuk ke dalam kediaman keluarga Bryan.


Rumah yang sekelilingnya pohon - pohon besar dan rimbun terlihat seperti rumah di tengah hutan. Yang baru pertama kali ke rumah itu jelas akan terkejut, awalnya melewati jalanan padat namun saat melewati gerbang maka akan disuguhkan pemandangan serba hijau.


Dan sedikit mencekam. Errrrrrrr. Karena meski siang hari, namun cahaya matahari hanya sedikit masuk lewati celah - celah pohon.


Seperti enggan menyinari tanah yang Ia pijak saat ini.


Ternyata rumah itu dulunya milik nenek moyang keluarga Dominic yang tinggal di negara I. Pohon - pohong yang saat ini menjulang tinggi itu, tidak lain hasil dari tangan nenek moyang Dominic.


"Mom, udah dong room tournya. Kasian tu Ara kecapean." Ucap Bryan ketika mereka sudah melewati banyak ruangan.


Saat ini mereka sedang ada dapur, Ara meringis menatapBryan. Kenapa namanya yang di jual. Tapi kalo gak gitu, kayaknya Mom Bianca gak akan berhenti sebelum semua ruangan terlewati.


"Eh, astaga sayaaaang maafin Momy ya? Momy terlalu excited." Ucap Bianca merasa bersalah. Ia baru sadar kalo wajah Ara sedikit pucat.


"Gak apa - apa, Mom. Ara seneng kok kalo liat Momy Bianca seneng." Ucap Ara lirih.


"Ya ampun, Bryaan, Kamu bawa Bela ke Kamar kamu cepat. Wajahnya pucat itu. Nanti Momy suruh pelayan bawain makanan sama camilan kesukaan Kamu ya sayang." Ucap Bianca cepat. Ara tersenyum menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku gak apa kok, Mom. Mungkin cuma kecapean aja. Momy Bianca gak usah repot - rep." Ucap Ara terputus karena Ia tiba - tiba ambruk.


Untung saja Bryan yang lekat menatap gelagat Ara, cepat tanggap dan langsung menyanggah tubuh ramping itu yang terlihat tak ada tenaga.


"Sayang, Momy panggilkan dokter aja yaaah." Ucap Bianca.


"Iya, Mom. Bryan ke atas dulu." Ucap Bryan.


Setelah lift terbuka, Bryan segera melangkah masuk dan menekan angka 3 dengan susah payah.


Lift bergerak naik, Bryan menatap khawatir melihat wajah itu semakin pucat.


Ting


Pintu lift terbuka tanda mereka sudah ada di lantai yang di tuju.


Bryan berjalan keluar dari lift dan mempercepat langkahnya ke arah kamarnya yang berada paling ujung lorong lantai 3, menghadap ke arah rimbunnya pohon di halaman belakang rumahnya.


Ceklek


__ADS_1


...(Credit by pinterest)...


Bryan menurunkan tubuh Ara pelan di atas kasur miliknya. Di simpannya tas slempang Ara di atas nakas, lalu segera Bryan melepaskan sandal yang di pakai Ara.


Setelahnya Bryan menggigit bibirnya, bingung harua berbuat apa. Mata Bryan seketika terbuka lebar kala Ia ingat, dulu waktu mereka kecil Ara pernah drop dengan wajah pucat dan badan panas.


Oke, Bryan membuka pakain atasnya hingga yang tersisa hanyalah short pants yang Ia kenakan tadi. Terlihat dada bidang dan lengan yang berotot serta six pack yang pasti membuat cewek - cewek meneteskan air liurnya.


Perlahan, Bryan melepas celana jumpsuit Ara hingga memperlihatkan celana legging pendek. Bryan juga membuka kaos Ara, hingga yang tersisa hanyalah sport bra.


Bryan menahan nafasnya. Dulu mereka hanyalah anak kecil yang bahkan pelukan dengan kondisi yang sama mereka tidak merasakan apa - apa.


Tapi sekarang?


Ayolaaah mereka sudah melewati masa puber pertama merekaaa. Yang otomatis bisa merasakan sesuatu yang... Mm.


Bryan menaiki ranjang king size nya, lalu masuk ke dalam selimut yang menutupi tubuh Ara. Perlahan, Bryan membalikkan tubuh Ara menghadap ke arahnya. Bryan menyelipkan lengan kanannya di bawah tengkuk Ara, dan satu lengannya lagi menahan punggung Ara agar tetap melekat padanya.


Bryan menon aktifkan ac kamarnya, dan menjentikkan jarinya dua kali dan otomatis lampu kamarnya mati, yang tersisa hanyalah lampu tidur.


Di luarpun sedang hujan deras, jadi rasanya pas jika mereka tidur saja.


***


Sementara itu, seorang cowok yang sedang melajukkan mobil fortunernya yang bertujuan ke rumah sahabatnya menatap sekitar jalanan yang lumayan gelap. Hanya lampu dari mobilnya dan lampu jalan yang samar - samar terlihat.


Errrrrr, Ia mendadak merinding menatap sekitar. Mobilnya melaju pelan karena jalanan pasti sangan licin.


"Kenapa mesti hujan sih Tuhaaaan, perasaan udah masuk musim panas kenapa hujan siiiihh." Teriak cowok itu.


Beruntunglah 15 menit kemdian Ia sudah melihat bangunan yang berada di dataran lebih tinggi dari tanah yang sedang Ia lewati.


"Jika di pikir - pikir, kenapa itu rumah juga keliatan menyeramkan di liat dari sini. Apalagi keadaan hujan deras." Rumah dengan eksterior kastil modern itu seperti rumah - rumah yang ada film - film saja.


Tin


Tin


Mobil fortuner hitam dope itu berhenti di depan pintu utama. Karena hujan, biarlah Ia parkir sembarangan. Ia mengambil tas carrier nya, dan segera melangkah dan menekan bel rumah.


Ceklek


Seorang pelayan membukakan pintu untuk tamu yang ternyata sahabat tuan mudanya.


"Silahkan masuk Tuan Muda." Ucap pelayan itu seraya menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.


Cowok itu mengangguk mengucapkan terima kasih lalu berjalan memasuki kastil modern itu tanpa takut nyasar.

__ADS_1


Saat akan berteriak memanggil nyonya rumah itu, yang di cari terlihat akan menaiki lift.


"Momy Bianxa." Teriak Akio.


Bianca membalikkan badannya sedikit untuk melihat pemilik suara yang di kenalnya.


"Ssshhttt. Jangam berisik Akio!" Ucap Bianca sedikit melotot pada Akio. Bukannya marah, Akio menampilkan cengiran khasnya.


Mereka sudah akrab sejak lama, bahkan sejak keluarga Dominic mengenal Bela kecil. Memang takdir Tuhan tidak ada yang tahu.


"Momy mau kemana, buru - buru banget?" Tanya Akio saat sudah memasuki lift bersama ibu sahabatnya ini yang sudah biasa Ia panggil Momy.


"Momy mau ke kamar Bryan, mau cek keadaan Bela." Jawab Bianca membuat Akio bingung.


"Memangnya adik Aku kenapa, Mom?" Tanya Akio.


"Bela tadi pingsan, wajahnya pucat. Udah Kamu jangan bawel, jangan berisik. Nanti mantu Momy keganggu istirahatnya." Ucap Bianca galak mode on.


Akio mengangguk saja, menurut pada perintah Momy sahabatnya itu.


Mereka keluar dari lift dan berjalan menuju kamar Bryan yang berada paling ujung dan paling belakang di lantai itu.


Bryan sangat suka kehenginan saat Ia di rumah, makanya waktu keluarganya pindah menempati rumah Kakek dari Kakeknya Bryan, Ia berpesan untuk menempati kamar ini namun sedikit banyaknya Ia merenovasinya dengan memperluas kamarnya.


Ceklek


Bianca dan Akio masuk kamar Bryan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Karena pintu itu tidan di kunci oleh penghuninya dan lagi Bianca yakin putera nakalnya itu tidak akan berbuat kelewat batas, meski MESUM.


Bianca tersenyum melihat putra dan menantunya, RALAT. Calon mantu, namun Ia sudah menganggap Bela sebagai menantunya. Hanya Bela. Dan wanita paruh baya ini semakin tidak sabar dengan pernikahan mereka.


Beda dengan Akio yang terlihat masam. Mencibir Bryan dan mungampatinya dalam hati. Ya kali ia teriak, yang ada Momy Bianca akan menendangnya.


Meski begitu, Akio tetap mendekat pada adiknya yang saat ini sedang di peluk oleh sahabat lucknutnya. Apalagi saat Ia melihat dari dekat saat bahu sang adik terpampang tidak tertutup selimut.


Astagaaaaa, Bryan berani sekali. Dan Ia juga di buat kesal kala Bryan juga tidak memakai kaosnya. Namun begitu, Akio juga berterima kasih karena dengan begitu demam Ara perlahan turun.


Ia saja belum pernah tidur pelukan dengan adiknya itu. Lah ini Bryan?


Akio menghela nafasnya pelan kala mengingat keluarga Arthuro dan Ara terpisah sejak adiknya itu masih bayi. Karena terpaksa.


Sedangkan Bryan, Ia sudah mengenal adiknya kala mereka kecil dulu.


"Awas kalo lo berani unboxing adek gue sebelum hubungan lo resmi tercatat negara. Gue bawa kabur adek gue ke pluto sekalian." Gerutu Akio pelan seraya melayangkan tinju udaranya ke arah Bryan.


Akio mengecup dahi adiknya. Lalu keluar dari kamar tuan muda brandal itu, yang sayangnya adalah calon adik iparnya.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2