
HOOOAAAAMMM
Seorang gadis di balik selimut merah muda menggeliat kecil seraya menatap jam dinding di depannya.
Pukul 4.25 pagi.
Hooaaaaaam
Ara menggeliat sekali lagi seraya menyibakkan selimut tebalnya.
Setelah Mamy dan Dady nya menceritakan kisah masa lalunya. Ara pun tertidur pulas dengan nyaman di balik selimutnya.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, Ara akan menunaikan kegiatan rutin pertamanya. Ara menatap sekelilingnya. Mata Ara terbuka lebar. Melihat body & skin care yang sering di belinya ketika mendapat bayaran kerja part timenya.
Yup. Meskipun kebutubannya dan panti tercukupi. Namun Ara tetap belajar mandiri. Dengan membeli barang yang di inginkannya dengan hasil kerjanya.
"Waaaahhh skin care tercintahkuuuuuuu. Oh my good, ini mah stok buat setahuuuuunnn. YUHUUUUUUU glowing sejagaaaaaaattt." Teriak Ara girang.
Ara tak tahu saja jika di luar kamarnya ada Mamy yang terkekeh dengan tingkah puterinya.
"Kenapa, Mam?." Tanya Dady saat langkahnya menyusul isterinya yang berhenti di depan kamar puteri mereka.
"Puteri kita lucu banget, Dad." Ucap sang isteri tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
Mereka lanjut melangkah ke lantai satu
Fyi. Rumah 4 lantai itu terdiri dari lantai 1 dan 2 udah tau pasti kan.
Lantai 3 merupakan lantai private, atau bisa dikatakan hanya untuk keluarga dan orang terdekat. Yang terdiri dari 5 kamar Prince dan Princess. Master bed room. Living room, dinning room, kitchen room, dan balkon tempat bersantai yang menyatu dengan balkon kamar Ara yang terdapat swimming poolnya.
Sedangkan lantai 4 terdapat ruang billiard, bioskop mini, taman balkon yang bisa di pakai untuk jogging dan bersantai di gazebo.
"Aaaaah segarnyaaah." Ara menyelesaikan mandinya dengan air hangat dari shower.
Ara ingin sekali mencoba berendam ala - ala orang kaya, namun rasanya tak akan sempat.
Ara berjalan ke arah walk in closset mencari pakaian yang cocok untuk Ia gunakan pagi ini.
Pilihannya terjatuh pada setelan hitam.
Setelah Ara memakai sneakersnya, Ara segera menggantungkan ponsel pemberian Kakak pertamanya. Lalu dipasangkannya earphone biru kesukaannya. Dan segera Ia berlari kecil menuruni tangga.
Ara akan berjogging di halaman luar rumah Dady nya. Meski ada tempat jogging di lantai teratas, namun rasanya kurang puas. Sekalian Ara ingin merasakan suasana di luar rumah sang Dady.
Rumah ini bisa jadi seluas 4 rumah besar. Saat menuruni tangga, Ara berpapasan dengan beberapa art. Setiap Ia melewati lantai berbeda, 4 art tiap lantai terlihat sedang membersihkan rumah. Yang menurut Ara, terlihat sudah bersih.
Ara mengangkat bahunya. Gak mau ambil pusing dengan urusan orang kaya.
...^.Lah dia lupa apa pegimana, dia kan anaknya orang kaya.^...
Ketika joging berkeliling rumah pun tak luput dari sapa menyapa para pekerja di rumah Dady nya.
Bukan carmuk alias cari muka. Tapi memang Ara tipikal anak gampang bergaul dengan siapa aja, friendly.
__ADS_1
...Tetetetet...
...Tetetetet...
Ara berhenti joging ketika terdengar suara alarm ponselnya.
"Aaaah udah 20 menit. Perasaan baru bentar." Monolog Ara seraya berjalan masuk dari pintu samping.
Yup, tiap harinya pasti Ara akan menyempatkan waktu untuk joging. Tak sia - sia Ia memiliki tubuh bugar, sehat dan bonus tubuh ideal tentunya.
"Morning, Sayang." Sapa wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda.
Ara mengalihkan pandangannya dari benda layar pipih berwarna rose pada asal suara. Terlihat di dapur out door, sang Mamy sedang menyiapkan sarapan di bantu 2 art.
Ara tersenyum lalu menghampiri Mamy nya.
"Morning too, Mam." Sapa Ara seraya mencium pipi kiri sang Mamy.
Sang Mamy tersenyum. "Udah selesai jogingnya?" Tanya sang Mamy seraya melanjutkan memanggang sosis. Sedangkan 2 art membantu Mamy membersihkan alat tempur dapurnya. Dan mengupas buah - buahan untuk di buat jus.
Ara tersenyum mengangguk. "He em, enak banget Mam joging di sini gak perlu jauh - jauh ke luar rumah cari lapangan." Ucap Ara terkekeh di akhir kalimat. Membuat So Ra terkekeh pula dengan ucapan sang putri.
Ara berjalan ke arah meja makan di teras samping kolam renang. Mata Ara berbinar kala matanya menangkap roti gandum, telur setengah matang. Baru saja Ara akan mencomot rotinya, sebuah suara menginterupsi kegiatannya.
"E eeeehhh cuci tangan dulu, Baby." Ucap suara lelaki berjalan menghampiri Ara.
Ara menatap lelaki itu dengan mencebikkan bibirnya. "Eh, btw Hyung Ki mau kemana minggu pagi udah rapih, wangi, hhhhhmmmm?" Tanya Ara mendelik Kakak ke Empatnya seraya mencium bau maskulin.
Akio berjalan dengan gaya cool ketika di sebut wangi.
Mata Ara berbinar terang mendengar nama Mall yang di sebut Akio.
"Aaaaaaaah Ara nebeng. Boleh yah boleh yaaaaah." Ucap Ara mengerlingkan matanya pada Akio seraya bergelayut manja di bahu Akio.
"Hhhhhhheeehhhh ngapain kamu nebeng? Ini lagi, mandi sono, asssccceeeeemm." Tanya Akio seraya pura - pura menutup hidung.
Ara mengendus keteknya. Hal itu tak luput dari sang Mamy, Dady dan ke Tiga Kakaknya yang baru datang. Mereka terkekeh di buatnya.
"Apaan, gak bau yaaaahhhh." Ucap Ara sebal seraya mengerucutkan bibir cerry nya.
Xixixii Akio terkekeh. Yah, Ara sepertinya pandai merawat tubuhnya. Meski berkeringat tapi tubuhnya tetap wangi.
"Udah - udah, si Aki jangan di dengerin. Mending kamu bersih - bersih dulu gih, kita tunggu di sini." Ucap Ans melerai perdebatan adik - adiknya itu.
Ara mengangguk lalu berjalan menjauh seraya menjulurkan lidahnya ke arah Akio.
Akio melotot seraya menganga lebar. Ara terbahak di buatnya, melihat ekspresi kakaknya itu. Sedang yang lain terkekeh geli. Begitu pula para art yang menyaksikan kegiatan anak majikannya.
Ara memasuki kamarnya, setelah melepas sepatunya tadi di bawah dan di ganti sandal rumah.
Segera Ara masuk kamar mandi. Dan melewatkan acara berendamnya. Karena pikirnya akan membuatnya semakin lama saja dan kakaknya semakin kesal.
Ceklek.
Ara keluar dengan bathrobe birunya dan handuk yang menggulung rambutnya. Ara berjalan ke arah walk in closset.
Setelah mendapatkan pakaian dan ***** bengeknya untuk menunjang penampilannya. Ara segera merapihkan diri. Mengeringkan rambut, skin care morning routine, make up tipis - tipis. Menata rambut, dll.
__ADS_1
Ara menatap kembali tampilannya di depan cermin tinggi di walk in clossetnya.
Di rasa cukup, Ara lalu memakai sneakers putih hitam yang Ia sesuaikan dengan ransel mini hitam blinknya. Tak lupa ponsel Ia gantungkan di leher.
Ara berjalan ke arah lift seraya mengirim pesan di grup wa khusus Ia dan para sahabatnya.
...💜Sweety Girls💜...
^^^Me:^^^
^^^"Nge Mall kuyy!"^^^
^^^Amel:^^^
^^^"Gas!"^^^
^^^Tiara:^^^
^^^"Yuk."^^^
^^^Mega:^^^
^^^"Okkeeeehh 😚."^^^
^^^Rain:^^^
^^^"Kuyy 😘."^^^
Begitu kira - kira isi pesan yang Ara kirim.
...Ting...
Ara keluar dari lift dan langsung mengusul keluarganya di meja makan.
"Maaf nunggu lama." Ucap Ara tak enak hati saat sampai di meja makan out door.
"It's okey, dear. Cantiknya anak Dady." Ucap Dady Won seraya mencium puncuk kepala Ara.
Ara tersenyum lalu menyapa ke tiga kakaknya. Lalu duduk dan sarapan bersama.
Mereka sarapan dengan di selingi canda tawa dan obrolan ringan. Dengan menu berbeda - beda, Ara tahu jika selera keluarganya bermacam - macam. Tentu seperti dirinya, yang saat ini memakan roti gandum dengan tengahnya di taruh telur setengah matang, potongan onion dan tomat, beaf dan saus bawang putih + keju. Dan susu almond.
Menu yang selalu di inginkannya, namun tak bisa setiap hari Ia memakan menu itu di rumah panti dulu.
...................................**Brsambung**
...♡´・ᴗ・`♡**...
Nb: photo from pinterest.
__ADS_1