Possessive Vs Bucin

Possessive Vs Bucin
Kekacauan


__ADS_3

Bryan yang menyadari itu gegas menyusul Ara tanpa membuat keributan. Membuat Quenara menggelengkan kepalanya sambil berdecak.


"Dasar cowok."


"Bela." Panggil Bryan sedikit berteriak yang langsung mencekal lengan Ara saat gadis itu tak mau menghentikan langkah kakinya.


"Lepas." Ara berusaha melepaskan cekalan Bryan namun sia - sia saja. Jelas Ia akan kalah tenaga dengan Bryan yang memiliki lengan kekar.


"No. Dengerin dulu penjelasan aku!". Ucap Bryan dengan nada tegas.


"Kenapa kamu disini? Pacar kamu di tinggal gitu aja?". Ara mencoba mengalihkan pembicaraan.


Bryan menatap melas pada Ara. Ia hanya ingin mengakui semuanya dan kembali pada Ara.


"Plis, kita ngobrol sebentar yah! Tapi jangan disini?". Bryan berucap dengan nada memelas.


Ara berdecak dalam hati. Kalo ada maunya aja, mohon - mohon kayak gini.


Akhirnya Ara menyetujui ajakan Bryan. Tak enak juga di liat orang jika mereka berdua di dalam toilet perempuan.


Ara mengajak Bryan ke balkon samping ballroom.



Ara berdiri di samping pagar kaca, pandangannya menyapu pemandangan lampu - lampu yang berpendar dari gedung - gedung ibu kota. Tak menghiraukan sepasang mata yang menatap lekat padanya.


"Maaf karena selama ini aku gak pernah menghubungimu." Ucap Bryan mengawali obrolan mereka.


Ara menghela nafasnya pelan. "Karna dulu aku bukanlah siapa - siapa? Dan setelah tahu siapa aku sebenarnya, kamu segitu gigihnya meminta maaf?". Ara berucap dengan nada ketus seraya menatap cowok di hadapannya.


"Bel..". Bryan berusaha meraih tangannya.


"Apa? Apalagi Bryan? Gak cukup selama ini aku penuhin janji kamu dulu sebelum kamu pergi? Oh, aku lupa kalau dulu kita hanyalah anak kecil yang pastinya segala sesuatu yang diucapkan gak penting. Terlebih dulu aku hanyalah anak panti asuhan." Ucap Ara menggebu - gebu.


"Dan yaah, aku gak akan menagih janji kamu yang dulu. Sekarang terserah!! Aku pergi." Masih dengan kekesalan dan kecewa yang teramat menyesakkan, Ara melangkahkan kakinya meninggalkan Bryan yang termenung di tempatnya.


"BELAAA." Teriak Bryan dengan nafas yang turun naik.


Ara seketika berhenti sebelum kakinya melewati pintu balkon. Mendengar teriakan Bryan sebelumnya, membuat Ara menggigit bibirnya.


Perasaan gelisah, sedih, kecewa bercampur rindu. Semuanya membuatnya sesak. Ara belum pernah mendengar teriakan Bryan yang sirat akan emosi. Ia takut jika karena yang ia ucapkan tadi, Bryan berbalik memarahinya.


Labil.


Mungkin itu yang cocok untuk Ara saat ini. Bukankah benar jika Ia marah pada Bryan. Tapi kenapa justru saat ini Ara yang seakan takut Bryan marah balik padanya.


Remaja... Remaja...


Derap langkah dari pantofel semakin jelas terdengar dan terkesan terburu - buru. Ara merasakan jantungnya seperti di pompa habis - habisan. Mengepalkan kedua tangannya, Ara mantap untuk melangkahkan kakinya kembali.


Grep


Sayang seribu sayang, sebelum kakinya dapat melangkah sepasang tangan kekar sudah memeluknya posesif dari belakang.


"Sorry, i'm so sorry. Aku akui setelah mendapatkan teman baru disana, aku meremehkan kamu. Semua yang terjadi selama kita berpisah, semua salahku. Aku juga terlalu takut untuk menghubungimu, aku takut kamu gak mau berhubungan denganku lagi setelah tahu segala kebrengsekanku. Aku bukan lagi Bryan yang kamu kenal dulu, yang baik dengan segala sesuatu yang Bela sukai dari Bryan kecil." Ucap Bryan pelan di samping telinga Ara.


Setelah mendengarkan pengakuan Bryan, tak perlu ditanyakan lagi maksud dari kata - kata Bryan padanya. Karena Ara pun tahu.

__ADS_1


Ara yang sangat menyukai Bryan, tak pernah sedikitpun tertinggal dari segala informasi yang Ia dapat dari sosial media Bryan. Adapun dari akun - akun fanbase yang Ia temukan.


Bryan yang dulu, baik, perhatian, selalu mengajaknya belajar bersama. Terlebih, Bryan yang dulu adalah anak penurut.


Tapi yang Ia lihat di sosial media, Bryan berubah 360°.


Cara berpenampilannya, segala yang menempel pada kulit dan tubuhnya. Balapan. Bahkan seorang PLAYBOY.


Yah, selain yang terakhir Ara lihat di sosial media. Bryan dan Queenara. Sebelumnya Bryan juga terlibat hubungan dekat dengan beberapa gadis.


Kecewa.


Sangat!


Tapi kenapa rasanya hati ini selalu mengkhianati keinginannya untuk melepaskan satu nama. Bryan.


Seolah hati ini memiliki jutaan penawar untuk menyembuhkan setiap luka yang di dapat. Dan selalu kembali pada titik awal yang membuat hati ini merindukannya.


Mereka tak sadar jika saat ini ada kamera yang menyorot pada mereka. Dengan posisi Bryan yang masih memeluk Ara dari belakang.


Mengucapkan segala permintaan maafnya untuk menenangkan seorang Ara.


Gambar mereka terpampang pada layar besar di samping stage di ballroom itu. Semua pasang mata yang hadir menyaksikannya. Menimbulkan pikiran - pikiran yang beragam.


Bertanya - tanya ada hubungan apa di antara anak dari dua pengusaha terkenal itu.


Bak sedang menonton acara drakor. Baik tamu yang hadir dan netizen yang menonton siaran live streaming itu terlihat menghayati.


Kembali pada Ara dan Bryan.


Ara masih terdiam dengan mata yang berair.


Timbul rasa bersalah yang semakin besar.


"Hm?". Bryan menunggu kelanjutan ucapan yang akan Ara keluarkan.


"Aku sampai membenci diriku sendiri, karena gak bisa berpaling dari seseorang yang bernama Bryan. Kamu jahat, Bryan. Hiks hiks hiks." Ucap Ara terisak.


Segera Bryan membalikkan badan Ara menghadapnya. Langsung saja Bryan memeluk Ara erat.


"Ja-jahat, kamu jahat." Ara memukul - mukul punggung tegap Bryan.


"Iya, aku jahat. Maafin aku, Bel. Maaf." Ucap Bryan tulus mengeratkan pelukkannya pada Ara.


Huuuuuu


Prok


Prok


Prok


Ara tersadar dari tangisnya kala mendengar teriakan dan tepukan tangan orang - orang.


Ara berusaha melepaskan pelukan Bryan, namun Bryan menahannya. Kedua pipi Ara sudah memerah menahan malu, namun sepertinya tidak dengan Bryan.


Seakan tuli, Bryan tak mengindahkan apa yang terjadi di sekitar mereka. Sampai Bryan terpaksa melepaskan pelukan Ara karena telinganya terasa panas.

__ADS_1


"Oh bagus yah anak nakal." Ucap seorang wanita setengah baya seraya menjawil telinga anak bungsunya.


Bryan menatap ke arah wanita tersebut lalu memasang wajah tanpa dosa.


"Ahw, Mom lepasin, ini sakit." Ucap Bryan meringis ngilu.


"Apa hah, sakit sakit sakit. Kita bicarakan ini di rumah nanti, PAHAM?". Mom Briana menekankan kata terakhiran untuk anak bungsunya yang nakal, siapa lagi kalo bukan Bryan.


"Iya iya. Oh God, emak sape sih?". Bryan membalikkan badannya ke arah Ara seraya mengusap telinga kirinya yang perih.


"Apa kamu bilang?". Mom Briana melotot ke arah Bryan.


"Hehe, enggak." Bryan menggelengkan kepalanya tersenyum bodoh.


"Bel." Bryan menelan ludahnya kala menatap Pria setengah baya yang memeluk Ara di hadapannya. Menatapnya seperti elang mengamati mangsanya.


💜💜💜


Setelah kerusuhan yang terjadi sebab adegan Bryan dan Ara. Pesta yang bertema perkenalan putri Arthuro pada publik berjalan semestinya sampai acara tersebut selesai.


Saat ini, di kediaman Arthuro terdapat dua keluarga besar tengah mengadakan musyawarah dadakan.


Tentang apalagi jika bukan tentang anak bungsu mereka.


Ara dan Bryan.


Dady Shi Won, Mom So Ra, Dady Dominic dan Mom Briana duduk berdampingan di sofa panjang dengan tatapan menyelidik mereka pada sepasang anak muda yang duduk di sofa di hadapan mereka.


Ara dan Bryan terlihat menundukkan kepala mereka. Bukan, hanya Ara. Sedangkan Bryan menatap percaya diri pada empat orang tua di depannya. Dengan tangan yang bertautan seakan tengah saling menguatkan.


Sementara para saudara mereka duduk dk sofa masing - masing tanpa menghiraukan orang tua. Hanya saja, menatap nyalang pada Bryan.


Para orang tua terlihat tengah berfikir.


"Dad, sudahlah kita kawinkan saja mereka." Bisik Briana yang di angguki So Ra yang duduk di sampingnya.


Kedua suami itu mendelik tak suka pada para istri.


"Kita berikan dulu pelajaran pada anak bungsu kamu itu." Ucap Dominic di angguki Shi Won.


"Kamu di larang ketemu dengan putri Saya!." Ucap Shi Won dingin.


Bryan dan Ara menatap terkejut. Apa - apaan tidak boleh ketemu.


"99 hari!!!." Ucap final Dady Shi Won.


"APAAAA?". Bryan dan Ara berdiri bersamaan masih dengan bertautan tangan.


"Tidak menerima keluhan." Dady Shi Won berdiri, mengajak istrinya untuk naik ke kamar mereka.


Begitupun Dady Dominic dan Mom Bryana. Mereka menyeret Bryan keluar dari kediaman Arthuro, meski awalnya susah karena anak itu tidak mau melepaskan tangan Ara.


"Sabar ya, Bel." Ucap Dave seraya memeluk Ara membuat Bryan seketika kebakaran jenggot.


"BAAAANG, PACAR GUE ITUUUUUU." Teriak Bryan sebelum hilang di telan dinding.


"Yaudah, gue balik dulu Ad. Bye." Dave berjalan menyusul keluarganya.

__ADS_1


Ara menghela nafasnya. Ax merangkul pundaknya, mengajaknya ke kamar Ara sendiri. Di ikuti Ad, Ans dan Akio yang berjalan di belakang mereka.


...Bersambung 😉...


__ADS_2