
Malam harinya di kediaman Arthuro.
Semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang keluarga setelah menyelesaikan dinner mereka.
"Dad, Ara dan beberapa temen Ara butuh alat rekaman untuk classmeet nanti. Boleh gak kalo rekamannya di rumah? Bolak balik ke sekolah capek Dad." Rengek Ara pada sang Dady yang ada di sampingnya.
"Boleh dong, princess. Sekalian buat latihan semuanya juga silahkan. Kan ada lapangan luas banget itu di luar." Jawab sang Dady membuat Ara memekik girang.
"Aaaaaah love you deh Dady. Muach." Shi Won tersenyum dengan tingkah laku puterinya.
"Kwlo gitu Momy besok pesan cathering yang banyak untuk teman - teman puteri Momy. Wah, kayaknya besok bakalan rame." Ucap Momy So Ra yang ikut senang dengan kabar dari puterinya itu.
***
Keesokan harinya.
Setelah semalam Ara mengabari teman - temannya di grup baru yang di buat Jimmy kemarin, kalau esok mereka semua diijinkan untuk latihan di rumahnya. Mereka pun setuju. Kapan lagi coba bisa berkunjung ke rumah keluarga terkaya di negara mereka.
Seperti biasa di pagi hari sebelumnya Ara akan melakukan joging di luar rumah. Setelah 30 menit joging, Ara berjalan memasuki pintu samping rumah dimana itu teras yang biasa dipakai keluarga untuk sarapan, dan juga tembus ke dapur bersih dan kotor.
"Sudah sayang joggingnya?". Tanya So Ra yang tengah menyiapkan sarapan menatap puterinya yang berjalan mendekat dengan setelan baju training pendek warna pink.
Ara menganggukkan kepalanya, " Sudah Mom. Keburu demo nih cacing di perut Aku." Jawab Ara terkekeh dengan ucapannya sendiri.
"Cacing kamu segede apa sih, Dek? Perasan gak melar - melar tuh badan makan banyak juga." Ucap Akio kagum namun disertai ejekan.
"Iri bilang booos. (^ ³ ^)." Ucap Ara sambil menampilkan aegyo nya.
"Apaan tuh, manyun manyun kek bebek." Balas Akio kembali mengejek.
"Sudah sudah, kamu ini Kii kerjaannya ledekin adik kamu terus." Ucap sang Dady menengahi keduanya yang akan kembali saling meledek.
"Udah di kasih tau jangan panggil Kii Kii Kii, berasa aki - aki Aku Dad." Kesal Akio karena sang Dady yang selalu memanggilnya 'Kii'.
Sedangkan ke tiga kakaknya hanya menggelengkan kepala pelan.
Baru saja mereka menyelesaikan sarapan, sebuah suara menginterupsi mereka.
"Morning Om, Tante, Hyung." Sapa sebuah suara barithone.
Ara langsung mengalihkan pandangannya kala mengenal suara itu.
"Morning." Jawab Dady dan lainnya.
"Loh, kok Kamu udah dateng jam segini? Bukannya janji datengnya jam 10?" Tanya Ara heran melihat Bryan yang sudah datang.
"Biar bisa apel dulu sama calon istri. Gpp kan Om?" Jawab Bryan tersenyum canggung menggaruk tengkuknya.
Blush
Ara mengerjapkan matanya pelan dengan kedua pipi yang sudah merona. Ara segera mengambil jus apelnya yang tersisa lalu menghabiskannya hingga tandas tak bersisa.
"It's oke. Toh kalian mau ngapain juga tetep Om kawinin kalian." Ucap Sang Dady frontal.
__ADS_1
Momy So Ra yang mendengar segera mencubit keras lengan suaminya, hingga ringisan keras keluar dari mulut Dady. Sementara tampang mau muntah terlihat dari Akio, lain halnya dengan Axel yang menatap tajam pada Bryan. Sedangkan Adelard dan Ansel terkekeh pelan.
"Adek hyung udah mau merried aja nih. Haaaaah kapan jodohku turun dari khayangan Tuhaaaaaan." Ucap Ansel setelah beranjak dari duduknya.
Momy So Ra terkekeh. "NANTI MOMY KAWININ KAMU SAMA SISILIAAA." Teriak Momy yang membuat Ansel membulatkan matanya lalu berbalik badan menghadap keluarganya.
"ANSEL BAKALAN KABUR KALO MOMY KAWININ ANSEL SAMA NENEK LAMPIIIIIIR." Teriak Ansel lalu sedetik kemudian lari terbirit - birit menaiki tangga.
Ara yang melihat respon kakak ketiganya itu kicep. Padahal ada lift, kenapa malah lari naik tangga. Sampe segitunga gak mau dikawinin sama Kak Sisil? Ara geleng - geleng kepala.
"Nah, Bang Ax berarti kawinin sama Kak Cinta Dad, Mom. Kalo Bang Ad kawinin sama Kak lili. Kalo Bang Kio sama Rain Dad, Mom. BIAR GAK JONES LIAT AKU KAWIN NANTIIII." Ucap Ara setelah beranjak dari duduknya dengan menarik lengan Bryan, di akhirir teriakan di kalimat terakhirnya.
Ara menatap ekspresi ketiga kakaknya yang masih duduk di meja makan.
Pfuutt
HAHAHAHAAA
Baru saja Akio akan mengejar adik dan calon adik iparnya itu yang sayangnya sahabatnya yang kadang urakan, namun di tahan oleh sang Momy.
Sedangkan Adelard dan Axel hanya diam dengan wajah yang merona sedikit, karena malu adiknya sudah berkata demikian. Yang mana, yaaaah gak salah juga.
Dady Shi Won yang melihat ekspresi mereka tersenyum jahat dalam hati. Sepertinya Ia memiliki ide gila agar ke empat puteranya, yang paling darurat ketiga putera pertamanya agar tidak jadi bujang lapuk. Dan jika sudah begitu, dapat dipastikan jika dirinya akan santai dan bisa berduaan dengan sang istri kapan pun Ia mau.
Itulah pikiran gila Dady Shi Won.
Hahahahaaa
Di sisi Ara dan Bryan.
Ara dan Bryan keluar dari lift di lantai 3 dimana kamar - kamar pribadi keluarga ada disana.
Ceklek
Ara membuka pintu kamarnya, saat langkahnya akan melewati pintu Ara berbalik menatap Bryan.
"Tunggu disini, Aku mau mandi." Ucap Ara.
"Lah, ngapain Aku disini, ntar ada pelayan yang godain gimana?" Tentu saja itu tipu muslihat Bryan.
Ya siapa yang mau nunggu di luar kalo camer udah kasih lampu hijau?
"Yaudah, terserah." Malas berdebat pagi - pagi, Ara membiarkan Bryan memasuki kamarnya.
Bryan memasuki kamar bernuansa sejuk dan feminim itu. Kamar yang bercat dinding biru navy dan white, serat beberapa hiasan berwarna pink yang tak menghilangkan kesan girly.
Ini pertama kalinya Bryan memasuki kamar sang kekasih. Cowok itu berkeliling melihat - lihat apa saja yang ada di kamar Ara.
Sedangkan Ara berjalan menuju nakas samping ranjangnya untuk mencharge ponsel. Lalu Ara memasuki pintu walk in closset untuk membersihkan diri.
Sepertinya berendam enak. Batin Ara sesaat setelah memasuki bathroom dan tak lupa menguncinya dari dalam. Ada buaya di kamarny, bahaya kalau buaya itu sampai ngiler melihatnya yang sedang bersih - bersih.
20 menit Ara berendam air hangat dengan aroma terapi wangi stroberi, Ara lanjut membersihkan dirinya di bawah kucuran shower. Dengan shampo dan body soap varian stroberi juga.
__ADS_1
Ara sangat menyukai wangi stroberi itu.
Selesai dengan syoweran, Ara memakai bathrob pinknya dan menuju washtafel, mencuci wajahnya lalu memakai serangkaian morning skin care.
Ceklek
"AAAAAAAAAHHHH."
BUGH
"Aww, sakit By. Jahat banget siih." Rengek Bryan mengusap - usap perutnya yang kena tendangan maut Ara.
Ara meringis namun sedetik kemudian kembali pada mode galaknya.
"Lagian di bilangin tunggu, ngapain masuk - masuk kesini." Ucap Ara galak.
Bryan meringis menatap Ara yang sedang singa mode on. Namun semakin diperhatikan, Bryan terpaku hingga kesusahan menelan salivanya sendiri kala melihat Ara yang hanya mengenakan bathrobe.
Penampilan itu seperti sedang menggodanya. Serasa mendapatkan oase di padang pasir.
Bryan berjalan mendekat tanpa sepatah kata. Ara yang sedang memilih outfit untuknya hari ini latihan tak menyadari Bryan yang tengah berdiri di belakangnya.
Grep
Ara terkejut kala merasakan kedua lengan memeluknya dari belakang.
Lengan siapa lagi jika bukan Bryan. Calon suaminya.
Jantung Ara semakin tidak beraturan kala mengingat jika Ia dan Bryan akan segera melangsungkan pernikahan.
"Kamu menggodaku, Baby." Bisik Bryan di samping leher Ara yang terekspos, karena sang empu yang menggulung rambutnya dengan handuk.
Ara memejamkan kedua matanya erat. Merasa lemas kakinya seperti jelly diperlakukan seperti oleh Bryan.
"Beb, lepas iiih mau pake baju." Ucap Ara berusaha melepaskan rengkuhan itu setelah mendapat kewarasannya.
"Gak mau." Ucap Bryan seperti anak kecil yang gak mau melepaskan pelukan pada ibunya.
TOK
TOK
TOK
"ARAAAAAAAAAA, KELUAR GAAAAAAK." Ara terkejut kala mendengar teriakan dari luar kamarnya.
Berhubung mode kedap suara dimatikan, maka baik Ara dan Bryan dapat mendengar teriakan itu.
Hap
Bryan membalikan tubuh kekasihnya menghadap ke arahnya. Ara terkejut dan makin terkejut kala..
Cup
__ADS_1
Kedua bibir itu menempel sepersekian detik. Meski di luar kamar masih berisik dengan suara - suara cempreng sahabat Ara. Bryan tidak memedulikannya. Toh Ia sudah menguncinya dari dalam.
...Bersambung...