
Diego masih mengendarai kendaraannya. Membiarkan teman gadisnya meluapkan semua rasa, menumpahkan lewat buliran - buliran bening dari kedua matanya.
Sekiranya gadis di sampingnya itu sedikit tenang. Barulah Diego memulai pembicaaan.
"Ra, gue anter pulang yah? Rumah panti lo masih yang dulu kan?" Tanya Diego sedikit melirik ke arah gadis imut itu.
Masih sedikit sesenggukkan Ara menggeleng pelan. Ia lupa jika belum ada yang tahu kepindahannya dari rumah panti selain ke empat sahabatnya.
Belum menjawab pertanyaan sahabat prianya. Dering ponselnya berbunyi, terdengar lagu dari sebuah boyband asal negeri gingseng yang viral.
^^^*Smooth like butter^^^
^^^Like crimminal under cover*^^^
...
...
Ara membuka ransek hitam blinknya yang di taruh di atas pangkuannya.
Terlihat nama 'Mom' di layar benda pipih flip terbaru itu.
Diego mengernyit tat kala tak sengaja melihat layar itu.
Ara mengalihkan pandangannya sebentar pada Diego seraya bergumam.
"Bentar yah, Die." Ucapnya di angguki Diego yang saat ini memberhentikan kendaraannya di depan indojuli.
"Hallo, Mom." Ucap Ara memulai pembicaraannya meski agak sedikit parau suaranya.
"..."
"Aah, kebetulan Ara lagi di jalan."
"Enggak, Mom. Abang kayaknya masih di mall sama teman - temannya."
"Ara sama temen, tadinya mau minta antar buat pulang."
"No prob, Mom. Ara malah seneng nyusulin Mom and Dad. Oke. Bye, Mom."
"Ha! Yaaak! Ngagetin aja." Ucap Ara mengelus dadanya.
Sedangkan Diego hanya menyengir. Menatap penuh tanda tanya pada Ara meminta penjelasan.
Ara yang faham tatapan Diego pun menghela nafasnya.
"Jadi gue udah gak tinggal lagi di rumah panti. Keluarga kandung gue datang bawa gue sama mereka." Jelas Ara yang tak menceritakan detailnya.
Diego manggut - manggut.
"Sekalian ya, anterin gue ke tempat nyokap." Ucap Ara tengil membuat Diego mencibirnya terang - terangan.
"Gue mau beli roti sama kopi dulu. Mau nitip?" Ucap Diego seraya menunjuk indojulu dengan dagunya.
Ara mengangguk. Karena sejujurnya Ia juga lapar. Sebab tak sempat makan tadi.
"Boleh deh, onigiri tuna pedes ya. Minumnya biasa aja." Ucap Ara.
"Teh kotak melati." Ucap Diego di angguki semangat oleh Ara.
"Dasar, bocah." Ucap Diego seraya mengacak - acak rambut Ara.
"Yaak!! Dieeegoooooo!!!" Diego malah tertawa lepas seraya membuka pintu mobilnya ketika mendengar lagi teriakan Ara.
Sambil menunggu Diego, Ara memainkan ponselnya. Membuka room chat dengan keluarganya. Orang tua dan ke empat abangnya juga sahabat - sahabatnya.
Rata - rata dari room chat itu menanyakan dimana ke keberadaannya.
Lalu Ara memotret dirinya dengan ber selfie di dalam mobil Diego.
Setelahnya Ara mengirimkan poto itu di masing - masing room chat.
^^^"On the way ke tempat, Momy."^^^
Ting
Ting
Ting
Balasan bertubi - tubi di dapatnya dari ke empat abang dan sahabatnya.
__ADS_1
...*My Family*...
Ax Hyung :
"Mobil siapa?" Tanyanya singkat.
Ki Hyung :
"Bareng si kadal?" Ara mengerutkan keningnya tak mengerti dengan arah pertanyaan abang satu ini.
^^^Me :^^^
^^^Replay Ki Hyung.^^^
^^^"Siapa? 🧐"^^^
Ki Hyung :
"Yang tadi ngejar lo, Dek 😜."
Ara menghembuskan nafasnya kasar.
^^^Me :^^^
^^^"Gak ada." Jawba Ara singkat.^^^
Add Hyung:
"Kamu nyusulun, Mom di Soel Hottel?"
Ans Hyung:
2
Ax Hyung:
3
^^^Me :^^^
^^^"Yup yup yuuuppp. Bye byeeee Hyung tamphankuuhhh 😘."^^^
...💜Sweety Girls💜...
"Ra, lo dimana?" Tanya sahabatnya itu.
Tiara :
2
Mega :
3
^^^Me :^^^
^^^"Otw ke tempat nyokap, guys." Jawab Ara singkat.^^^
Setelahnya, Ara tak membalas pesan di grup sahabatnya. Karena Diego sudah selesai dengan belanjanya.
Terlihat cowok tampan dengan tubuh tinggi atletisnya berjalan keluar dari indojuli dengan menenteng satu kantong papper daur ulang berjalan santai dan datar.
Kalo di liat - liat, kenapa si Die Die makin kesini makin tampan. Oh lihatlaaaah gayanya macam model profesional aja. Mana mata - mata tu cewek kaya mau loncat gitu. Ara terkekeh dengan suara batinnya sendiri.
Ceklek
Ara menatap Diego yang masuk ke balik kemudi. Memperhatikan setiap gerakan cowok itu. Dari mulai memasangkan seat belt dengan tangan yang masih memegang papper bag belanjaan itu.
"Mayan " Gumam Ara pelan terdengar Diego namun tak jelas.
"Ngomong apa, Ra?" Tanya Diego.
"Nih, bukain punya gue dong." Ucap Diego seraya menaruh belanjaan itu di pangkuan Ara.
Ara mendelik sebal namun tetap menuruti perintah cowok yang tengah memarkirkan mobilnya keluar dari area indojuli itu.
"Gak ada. Nih." Ucap Ara seraya menyodorkan roti sandwich kacang ke samping Diego.
"Suapin elah, susah nih." Ucap Diego tengil tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya.
Ara mencibir Diego namun tak urung Ia membuka kemasan roti itu dan membuka plastik sedotan minumannya.
__ADS_1
"Nih." Ara menyodorkan roti itu ke depan mulut Diego.
Diego menerimanya dengan senang hati. Ara terus menyuapi Diego sambil Ia juga memakan onigiri miliknya.
"Kopinya dong, Ra. Seret nih." Ucap Diego.
Sllrruuuuppp
"Seret ya minum air mineral, ini malah kopi. Aneh." Ucap Ara ketus.
Bukannya marah, Diegi justru terkekeh mendengarnya.
"Lah lo juga minum teh, apa bedanya." Ucap Diego.
"Ya bedalah, namanya juga teh dan kopi. Teh terbuat dari daun teh. Kopi terbuat dari biji kopi. Jelas beda." Jawab Ara nge gas.
"Sama - sama bukan air mineral, Ra." Ucap Diego makin membuat Ara kesal.
"Dah laaah, anterin gue ke Soul Hottel." Ucap Ara kesal.
"Kebiasaan, gampang banget ngambek lo, Ra." Ucap Diego seraya mengarahkan laju mobilnya ke arah Soul Hottel.
Karena jarak tempuhnya tak jauh. Tak memerlukan waktu lama mobil supercar itu sudah memasuki area hotel.
Diego menghentikan mobilnya di depan lobi utama hotel. Mereka pun keluar bersamaan saat pelayan hotel membukakan kedua pintu mobil mewah Diego.
"Terima kasih." Ucap Ara dan Diego bersamaan pada kedua pelayan hotel.
"Sini." Diego menarik tangan Ara ke arah restoran hotel.
Ara diam mengikuti langkah Diego. Banyak pasang mata yang berpapasan di lobi hotel dengan mereka menatap kagum. Mereka yang melihat Diego dan Ara, berfikir jika mereka sepasang kekasih yang serasi.
Ada satu pasang mata yang tak jauh dari Ara dan Diego memperthatikan mereka.
"Princess." Gumamnya. Segera Ia memotret Ara yang berjalan bergandengan tangan dengan Diego.
"Is he Princess's boyfriend?" Pesan terkirim dengan gambar di sebuah room chat.
"What?" Begitulah tanggapan dari yang menerima pesan itu.
Sedangkan Ara dan Diego sudah memasuki resto mewah hotel tersebut.
"Princess." Panggil suara yang tak asing masuk di pendengaran Ara.
Ara sangat tahu pemilik suara teriakan itu. Di edarkannya pandangan ke segala arah. Senyumnya terbit seraya melambaikan tangan ke arah sang Momy.
Ara berjalan menarik Diego.
Beberapa pasangan seusia Momy dan Dady nya mengalihkan pandangan ke arahnya setelah mendengar teriakan sang Momy.
"Diego." Ucap seorang wanita yang duduk di samping Momy Ara terkejut.
"Mam." Ucap Diego tak kalah terkejut.
Wanita itu adalah Mami Diego. Dua wanita itu menerka - nerka keadaan di depan mereka. Ara tersenyum mengangguk menyapa teman - teman sang Momy dan Dady.
"Sayang, duduklah dulu." Ucap sang Momy menarik lembut Ara duduk di samping kirinya.
"Jeng, jadi gadis ini puteri kamu." Ucap wanita yang tak lain adalah ibunya Diego.
Momy mengangguk membenarkan. Ternyata sang Mony sudah menceritakan tentang Ara pada kedua sahabatnya.
Sedangkan satu sahabat Momy Ara yang lain memperhatikan dengan teliti wajah puteri sahabatnya.
"Bella." Ucap si wanita itu ketika mengingat wajah gadis di depannya.
Ara mengalihkan pandangannya. Siapakah gerangan yang memanggilnya dengan panggilan Bella. Karena seingat Ara yang memanggil dirinya dengan Bella hanya keluarga cowok kadal itu.
Bryan maksudnya.
Ara terkejut tat kala melihat wanita di hadapannya. Satu kali melihat Ara langsung mengenalinya. Karena wanita itu juga dulu sangat berperan dalam hidup seorang Ara kecil.
"Tante Brianna." Ucap Ara tak kalah terkejutnya.
"Kalian saling kenal?" Tanya Momy Ara terkejut.
Pun dengan suami Tante Brianna dan Dady nya Ara.
Sedangkan sepasang paruh baya lainnya menampilkan pandangan heran juga bertanya - tanya, mengapa puteranya bisa datang dengan gadis yang ternyata puteri dari sahabat dekat mereka.
***
__ADS_1
Yakkkss Yakks Yaaakkksssss
Tunggu chapter selanjutnya yaaaaahhhh