Possessive Vs Bucin

Possessive Vs Bucin
Rasa Sesal


__ADS_3

"Weh weeeeeeeh Ara di culik? Ara di culiiiikkk mmmpphh." Mega memberontak saat mulutnya di bekap Tiara.


"Sssshhhhht lo bikin malu tau gak." Ucap Tiara kesal.


Mega mendelik tak suka. Apa mereka tidak panik melihat sang sahabat di bawa kabur orang asing.


"Mmmpppphhhhh. Puh." Tiara melepaskan bekapannya segera saat teman blekoknya itu sedikit meludah.


"Iuuuuuyyyy jorok lo, Gaa." Kesal Tiara yang hanya di jawab Mega dengan memeletkan lidahnya.


"Mel, Rain, kok malah diem siiiiihhhh itu si Ara di culik astagaaaa." Oceh Mega kembali.


Amel dan Rain kompak menghela nafas. Lalu mereka menarik Mega sedikit paksaan ke arah kendaraan yang mereka pakai tadi.


"Diem deh, Ga. Lo lupa apa pikun, tu cowok yang pernah di ceritain Ara ke kita." Ucap Rain sewot ketika mereka sudah berada di dalam mobil Amel.


"Tau tuh, malahan si Ara pernah nunjukin fotonya di akun medsos tu cowok." Ucap Tiara seraya mengelap tangannya dengan tisu basah.


Mega mengingat - ingat apa yang diucapkan sahabatnya itu. Sedangkan Amel fokus dengan stir yang dikemudikannya seraya sesekali Amel berbalas pesan vn dengan seseorang.


"Yah. Ara sama tu cowok. Entahlah kemana. Gue balik duluan." Begitulah kira - kira vn dari Amel.


Rain memperhatikannya sedari tadi. Namun tak berkomentar apapun. Rain tak acuh dengan urusan sahabatnya. Tepatnya tak ingin tahu jika tidak di beri tahu.


Sedangkan di sisi Ara.


Masih di dalam mobil sport car bersama seorang cowok yang ingin di hindarinya. Ara diam seribu bahasa.


Seberapa pun usaha kuat cowok yang duduk di balik kemudi untuk memulai pembicaraan dengan Ara.


Tak satu pun Ara jawab. Bahkan suara nafasnya pun sampai tak terdengar.


Sampe berbusa tu mulut pun, jangan harap gue mau ngobrol sama Lo. Liat muka lo aja gue gak mau.


Oh Sasukeeeeeee bawa gue dengan jurus andalan loooooo.


Bertahan dengan memalingkan wajah ke luar jendela, pemadangan awan yang masih menumpahkan hujan itu menjadi pemandangan terbaik Ara saat ini.


Biarlah tengkuk gue pegal dari pada gue liat mukanya yang seakan - akan gak punya dosa itu. Batin Ara.


Roda empat itu masih melaju menjahui tempat semula. Entah mau di bawa kemana. Ara gak mau tahu.


Masih ada ponsel juga kalo tau - tau Ia butuh pertolongan. Itu pikirnya.


Pertolongan untuk menjauhkannya dari cowok itu.


Andai aja benda ajaib yang sering dirinya tonton ada di dunia nyata. Akan sangat - sangat berguna saat ini.


Pintu Ajaib Doraemon.


"Kangen bilang aja gak usah gengsi. Sampe - sampe lo betah banget di mobil sama gue."


Suara itu menyentak lamunan Ara. Menatap luar jendela sekedar mencari tahu ada dimana Ia.

__ADS_1


Kafe?


Yah. Yang ada di depan Ara adalah sebuah kafe bertingkat 2. Terlihat luas, modern. Dengan semua dinding kaca di setiap sisinya.


Ada banyak tanaman hijau di luar kafe yang di kelilingi pagar bambu tinggi 1 meter itu.


Ceklek


"Turun. Kita makan dulu. Baru nanti gue antar lo pulang."


Tanpa membalas perkataan dan uluran tangan cowok yang Ia benci. Ara turun dan melenggang gitu aja.


Ting


Lonceng kafe berbunyi tat kala pintu di dorong ke dalam.


Ara berjalan acuh ke arah meja yang terlihat kosong di samping jendela mengarah ke jalan raya.


Menampakkan hiruk pikuk berbagai aktivitas warga di luar kafe.


"Selamat siang, Bo.." Ucapan seorang karyawan dengan setelan kemeja hitam dan celana bahan hitam juga sepatu pantofel itu terhenti tat kala orang di depannya memberikan kode.


"Siang mas, mba. Silahkan, ini daftar menunya." Ucap karyawan tadi seraya menaruh 2 buku menu di hadapan Ara dan cowok di hadapan Ara.


"Dua porsi mie hijau bakso keju, minumnya dua lemon tea." Ara mengalihkan atensinya dari buku menu ke arah cowok di depannya.


'Bryan, aku pesen mie hijau bakso keju minumnya lemon tea.' Ucap seorang gadis yang sedang duduk di kursi warung bakso.


Dengan wajah cerianya, gadis itu menunggu pesanannya di buat.


'Itu kesukaan aku, Bryan. Makannya kamu harus inget terus kesukaan aku. Kalau nanti aku marah sama kamu, kamu tinggal kasih aku makanan kesukaan aku. Pasti nanti aku gak marah lagi.' Ucap gadis itu ceria menjawab pertanyaan anak laki - laki di depannya.


"Hei, Bel." Ara tersentak tat kala sebuah tangan bergerak ke kanan kiri di depan wajahnya.


"Are you, oke?" Tanya cowok itu lagi.


Ara diam tak menjawab. Menghela nafasnya pelan seraya mengalihkan pandangannya ke arah ponsel yang di genggamnya.


Kring


Kring


Kring


Suara dering sedikit mengalihkan atensi Ara. Benda pipih hitam di atas meja di hadapan cowok itu bergetar menyala menampilkan kontak dengan nama seorang gadis.


"Ya, Ra."


Ara membuang pandangannya ke luar jendela tat kala Ia melihat gerak - gerik cowok di hadapannya saat menyapa si penelfon.


Ara meremat ponsel di atas pangkuannya. Matanya hanya tertuju ke arah depan, manik itu tak bergerak sedikitpun meski di depannya banyak lalu lalang.


Ingin rasanya Ia menulikan pendengarannya. Namun tak bisa.

__ADS_1


Indera pendengarannya mau tak mau menangkap percakapan cowok itu.


"Aku nyampe kemarin malam. Hm. Kamu juga jangan telat makan, Ra. See you soon, Ara." Ucap cowok itu mengakhiri percakapannya.


Ara tersenyum kecil. Namanya Ara. Ara teringat dengan akun seorang gadis yang merupakan kekasih cowok di hadapannya ini.


Queenara. Ara. Yah pastilah itu panggilannya. Dalan hati Ara mengumpati cowok itu. Buat apa Dia mengajakny ke sini. Memesan makanan dan minuma kesukaannya?


Apakah dalam rangka bernostalgia, meski dengan tempat yang tak sama?


Aaah bukan itu. Pasti ni cowok cuma kasihan sama gue yang pastinya belum pernah makan di kafe sebagus dan semahal ini.


Sekali lagi. Hati Ara tersenyum kecut dengan pandangan yang masih mengarah ke luar kafe. Dirinya bukan lah siapa - siapa. Yang pastinya jika di bandingkan dengan gadis yang bernama, Queenara itu.


Entah kenapa tadi hatinya sempat berharap pada cowok itu. Berharap pada suatu ketidakpastian. Janji yang terucap dari bibir seorang anak kecil. Yang pastinya belum mengerti apa - apa saat itu.


Bibir Ara sedikit bergetar tat kala pandangannya menangkap sesosok orang yang berjasa dalam hidupnya.


'Diego.' Ucap Ara lirih dalam hatinya tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok yang saat ini pun sedang menatapnya intens.


"Sorry, Bel. Barusan telfon dari.." Belum selesai ucapan cowok di hadapan Ara, sudah terinterupsi dengan pergerakan di depannya.


Sreetttt


Cowok itu mengangkat atensinya dari benda pipih di tangannya ke arah depan. Bryan mengetatkan rahangnya.


Yah, cowok itu tak lain Bryan. Bryan yang tengah fokus dengan sambungan telponnya dan benda pipihnya tak memperhatikan sedikitpun ke arah Ara.


"****!" Umpat Bryan pelan melihat Ara yang di rangkul badannya oleh cowok di depannya.


Terlihat kepala Ara mengarah ke sisi berlawanan dengan Bryan.


Tes


Ara meremat sisi kemeja yang dikenakan cowok yang memeluknya. Tat kala lagi - lagi indera pendengarannya mendengar kata - kata yang terlontar dari mulut cowok yang di rindunya dan di bencinya bersamaan. Bryan.


"Aah lo cowoknya ternyata? Ketemu juga akhirnya gue sama, Lo. Lo pinter juga milih pacar, Bel. Gak sia - sia selama ini gue pacarin, Ara. Queenara."


Ara tersenyum pedih. Kepalanya mengangguk perlahana seraya sedikit melonggarkan pelukan Diego.


"Yah, selamat dengan hubungan Lo dan Queenara. Gue duluan. Yuk, Die!" Ucap Ara untuk mengakhiri pertemuan yang menyesakkan.


Ara menarik lengan Diego keluar kafe tanpa berbalik menatap cowok yang saat ini menatap kepergiannya.


Bryan hanya dapat mengumpati dirinya dalam hati. Wajahnya terlihat penuh dengan amarah.


'Bego Lo, Bryan. Bego'


Terlihat Diego membukakan pintu co-driver super car mewah untuk Ara. Sebelum Diego berbalik ke arah pintu kemudi. Diego melirik sekilas Bryan yang tengah menatap amarah pada dirinya.


Tak menanganggapi hal itu. Diego segera masuk ke kursi kemudi dan menjalankan mobilnya keluar halaman kafe.


"Penyesalan memang selalu datang terlambat." Ucap cowok karyawan stelan hitam itu di belakang Bryan.

__ADS_1


...💜💜💜...


No comment laaaaaaah.... Yang penting nulis hahahahaaa


__ADS_2