
...Author point of view....
Nyatanya, Kiara tidak menginginkan hal ini, namun mau bagaimana lagi, jika ia menolak, ancaman akan segera terlaksana. Jiwanya yang dulu memancarkan semangat muda, kini mulai layu, saat setelah tubuhnya selalu berada pasrah di bawah tikaman Kenzo, anak majikannya.
Hari-hari berlalu begitu cepat, tak terasa sudah dua minggu lamanya Kiara menkadi seorang budak untuk Kenzo. Kenzo sangat bersikap lembut saat memulai permainan, berbeda sekali dengan awal-awal ketika Kenzo memaksanya.
Setiap habis melakukan itu, Kenzo memang tidak memeluknya, namun mengusap perutnya, sambil membisikkan beberapa kalimat, yang entah apa wujudnya. Karena Kenzo yang selalu berucap begitu pelan dan lirih.
Dalam sebulan, terdapat empat minggu, dalam seminggu yang terdapat tujuh hari, mereka melakukannya hampir setiap malam, hitungannya, lima hari dalam tujuh hari, karena jika sabtu dan minggu, Kenzo disibukkan oleh pekerjaan, atau pun tunangannya, Tinna.
Seperti malam ini, hari sabtu, di tengah rembulan yang me mamerkan sinarnya. Kiara terduduk di atas kursi, menghadap kaca buram, yang tidak terlalu jernih, namun dapat menangkap wujud bulan sabit tersebut.
Bukan jam nya Kiara untuk bekerja, sudah pukul sepuluh malam, namun ia enggan untuk tertidur, seperti ada magnet kuat, yang menyuruhnya untuk tetap bertahan pada keterdiaman.
__ADS_1
“Pa, ini bukan mau Kiara. ”
“Tapi Kiara memang patut disalahkan. ”
“Ada saatnya nanti, Kiara bakalan jadi orang sukses, dan bisa angkat derajat mamah papah. ”
“Kak Kenzo baik banget pa..”
Kiara menunduk lesu, sebisa mungkin ia menghibur dirinya, namun kenyataan memang selalu menamparnya, bahwa ia hanyalah sekedar wanita murahan. Yang dengan sukarela menyerahkan tubuh, untuk mengandung anak dari pria yang bahkan mencintai orang lain.
“Kiara, enghh... Hiks! ”
Tangis Kiara pecah kembali. Ini adalah tangisan pertamanya setelah saat di kamar Kenzo waktu itu, dan kini, ia menangis lagi. Entah karena apa, dan mengapa. Pastinya karena Kiara merasa kesepian. Ia tidak memiliki teman, ibunya pun terlalu lelah untuk bisa bermain dengannya.
__ADS_1
“Andai mama bisa dengerin Kiara curhat, pasti Kiara bakalan jadi perempuan tangguh, yang ga nunduk sama siapa-siapa. ”
“Karena setiap anak curhat sama ibunya, pasti sengaja atau engga sengaja, anak itu langsung dapetin motivasi dari kata-kata ibunya, pa. ”
“Itu kata temen Kiara... Tapi Kiara engga tahu, bener atau engga. ” cicit Kiara lirih, seolah jika perkataannya tidak benar, dirinya akan kena marah oleh sang papah, yang sebenarnya sudah tiada.
Tok, Tok, Tok.
Kiara menelan ludahnya kasar, ketukan pada pintu kayu ber cat hitam, sungguh mengagetkan dirinya. Kiara langsung saja beranjak, membuka pintu dengan tergesa.
“Mama? ”
“Kiara! Cepetan kamu ke dalam, kamu di panggil sama anak kedua! Haduh, ibu gak habis pikir, apa yang udah kamu lakuin ke dia. Kayaknya marah banget. ” gerutu Meilisna, sedikit tak percaya, akibat perintah Kenzo, tadi di taman.
__ADS_1