
...Author point of view....
Kenzo tersenyum culas, tidak ada batin yang merasa terpencil saat melihat pemandangan nahas di hadapannya. Kenzo melangkah kan kakinya semakin dekat, tubuhnya sedikit membungkuk, untuk dapat melihat raut wajah Kiara yang sedang menunduk fokus pada serpihan beling.
Matanya memincing melihat air kopi yang terlihat berbeda, Kenzo menjepit dagu Kiara dengan jempolnya, lalu ia bawa wajah itu untuk mendongak menatapnya. Kenzo menelan ludahnya kasar, menyadari bibir tipis Kiara yang bergetar menggigil.
“Ra.. ” desah Kenzo tajam, ia langsung merentak naikkan tubuh Kiara agar berdiri di hadapannya.
Tubuh Kiara berhasil berdiri, hasil dari jepitan Kenzo yang masih bertahan pada dagunya. Namun jiwa Kiara seolah terhenti, mengikuti angin yang terus saja bergulir silih berganti. Tak ada sepatah kata pun yang Kiara ucapkan, atau pun ia gumamkan. Membuat Kenzo panik, dan langsung saja menggendong Kiara menaiki ranjang.
Entah sudah berapa kali Kenzo berbuat seperti ini pada Kiara, menaruh gadis itu tergelatak tak berdaya di atas ranjang. Yang pastinya, kali ini Kenzo benar-benar hanya membaringkannya saja, tidak melakukan hal lebih yang tidak-tidak'.
“Ra, bangun. ” ujar Kenzo penuh harap, namun tertutupi oleh nada suaranya yang datar dan tersirat ke angkuhan di dalamnya.
Kiara tetap tidak membuka suara, matanya terbuka, namun terdiam, memandang lurus, dengan tatapan kosong yang tak berarti apa-apa.
Kenzo mulai di deru rasa panik, ia langsung menampar-nampar kasar pipi lembut Kiara yang memerah alami, khas remaja seusianya. Namun yang Kenzo dapatkan, tak lain dan tak bukan, Kiara masih saja diam tak bergeming.
“Ra, bangun! ” sentak Kenzo kuat, mencengkram pergelangan mungil tangan Kiara yang bersuhu dingin bagaikan kutub manusiawi.
Kenzo mengangkat tubuh Kiara cepat, namun belum sepenuhnya keluar dari kamar, Kiara telah melingkarkan tangannya pada leher Kenzo, cukup erat. Punggungnya menggigil gemetar, tanda bahwa tangisnya masih lah tergugu seperti biasanya. Kaus yang Kenzo kenakkan kini basah bagian pundak, apalagi saat Kiara mulai mengelap cairan lengket di hidungnya.
“Huhu! ”
Kenzo menghela nafas panjang, ia berjalan keluar dari balkon. Membawa Kiara menghirup segarnya udara alam, yang masih saja asri walau tinggal di perkotaan. Kedua kaki kecil Kiara melingkar lemah pada masing-masing pinggang Kenzo, wajahnya masih saja tenggelam pada pundak Kenzo.
“Raa. Kalo kamu nurut, saya enggak akan kayak gini. ” ujar Kenzo pelan, seperti bisikkan lirih, namun menyiratkan pesan ketegasan di dalamnya.
__ADS_1
“Saya cuman mau minta anak aja. Itu doang. Setelah itu, saya jamin kehidupan kamu akan bahagia. ” ujar Kenzo penuh percaya diri, mengiming-ngimingkan banyak masa depan terjamin Kiara, lewat hatinya yang di gagasi oleh bermacam-macam harta serta tahta.
Kiara menggeleng lemah, ia mengangkat wajahnya perlahan, namun segera ia tahan kembali, dengan menyeruak masukkan keningnya bersentuhan pada pundak atas Kenzo.
“Kiara engga mau hamil... ” bisik Kiara lemah, penuh permohonan suci, lewat tubuhnya yang di paksa untuk kotor karena pengaruh majikan bejatnya.
Kenzo menggeram lirih, ia menahan sikap kasarnya yang mudah keluar. “Nyatanya kalau kamu hamil atau gak hamil, kamu udah gak perawan. Jadi gak usah sok suci. ” ujar Kenzo santai, mengalihkan rasa kesalnya, akibat penolakan dari Kiara.
Hidung mungil Kiara membesar, menahan isakannya yang akan segera keluar, lagi dan lagi. Nyatanya kamu udah gak perawan. Kurang lebih seperti itu, hal yang di tekan kan Kenzo padanya. Padahal pria itu sendiri, yang telah mengambil mahkota paling berharga dalam dirinya.
...eps seterusnya hanya sampai 500 kata. part lengkap ( bisa di baca di a*plikasi Hi- novel )...
“Ra, dengerin saya dulu. Setelah anak kamu lahir, kamu akan segera saya sekolah kan setinggi mungkin. Hingga saat kamu menemukan pria yang menjadi pilihanmu sendiri, kamu bebas menentukan jalan kehidupanmu. ”
Ujar Kenzo dalam, begitu dalam, hingga dapat membuat hati Kiara tergerak sedikit. Untuk memikirkan tawaran tersebut.
“Saat kamu mau hamil, otomatis saya akan jamin kehidupan ibu kamu, akan bahagia. Gajinya akan saya naikkan, setiap saat kamu ingin bercinta dengan saya. ” titah Kenzo menjelaskan rangkaian peristiwa yang akan terjadi, jika Kiara menerima tawaran tersebut.
“Bagaimana? ” tanya Kenzo menguraikan pelukannya pada punggung Kiara. Kiara masih terdiam, ia terpaku cukup jelas, memikirkan kalimat demi kalimat, yang Kenzo ucapkan padanya.
Kiara meneguk ludahnya kasar, mengingat memori-memori bersama sang ibu, yang hanya sebagian kecil indahnya, di banding sulitnya. Matanya terbuka menatap pantulan kaca tubuhnya yang tak terlihat, tertutupi oleh punggung lebar Kenzo. Entah itu halusinasi atau bukan, Kiara melihat sesosok pria yang paling dekat dengannya, dan yang paling ia rindukan.
Papa.
Kiara menggeleng otomatis, ia langsung mendorong tubuh Kenzo kasar, menurunkan tubuh kecilnya secara brutal, lalu mulai kembali meronta, saat Kenzo memaksanya untuk masuk kembali ke dalam kamar, secara kasar dan tak berwawasan.
“Lepasin! ” seru Kiara kuat, memeluk dadanya sendiri, mencoba melindungi dirinya dari sengatan pria paling jahat, yang pernah ada dalam hidupnya.
__ADS_1
Mau tidak mau, Kenzo melepaskan rengkuhannya, ia langsung berlari menuju balkon, untuk menutup pintu, dan kembali menghampiri Kiara di atas kasur. Kiara menggeleng kuat, ia tidak mau menerima tawaran itu,
Tidak mau!
“Kiara, kalo lo nolak permintaan gue, lo harus bisa terima dengan apa yang akan terjadi pada pekerjaan lo, dan ibu lo! ” kecam Kenzo menuai ancaman, mulai bersikap kasar kembali, lewat kalimat yang ia lontarkan.
Refleks Kiara menggeleng keras, “Jangan! Jangan jahat seperti itu, kak Zo.... hiks! ” cicit Kiara mulai menangis lagi, mengingat perbuatannya, yang dapat membuat pekerjaan sang ibu terancam.
“Menangis lagi! ” seru Kenzo kesal, ia membalikkan tubuhnya, duduk di pinggir kasur, dengan tubuh yang memunggungi Kiara. Tangannya mengusap wajah frustasi, merasa geram akan tingkah gadis belia di belakangnya.
“Lo pikir gue mau kayak gini?! ENGGAK RA! ” teriak Kenzo histeris, dalam batinnya. Ia tidak sudi, jika harus terlihat tak berdaya di hadapan gadis itu.
Kiara meremang, ia meremang melihat punggung tegap di depannya, wajah Kenzo yang biasanya angkuh dan otoriter, kini mulai muram dan senduh, seolah ada banyak cobaan yang ia timpa. Tapi Kiara bingung, di sini ia lah yang menjadi korbannya, mengapa harus Kenzo yang merasa frustasi.
“Ra... ”
“Saya mohon. ”
Kiara menggigit jarinya refleks, matanya mengecil memperhatikan gerak gerik Kenzo yang tak biasa. “Kiara engga mau hamil. ” cicit Kiara masih mempertahankan jawabannya, sedari awal Kenzo menawarkannya.
“Kalo saya ga bisa membuktikan untuk bisa mempunyai anak, pertunangan saya akan batal. ” desah Kenzo berat, penuh kepasrahan. “Saya juga gak mau kayak gini, saya tahu banyak perempuan di luar sana, yang dengan suka rela untuk saya masukin. Tapi hanya kamu, yang saya percaya Ra. ” lanjut Kenzo memelan.
Kiara mengeratkan pegangan tangannya pada seprai di sisinya, ia menunduk dalam, jika ia menerima hal itu, ibunya akan mendapat kesenangan, namun jika ia menolak hal itu, akan ada banyak kesulitan yang menimpanya.
“Kak Zo.. ”
Sekian lama, Kenzo akhirnya menoleh dari depan, ia menatap Kiara datar, sangat datar, dan menakutkan. Rasa gugup menderu tubuh Kiara saat ini, sebelum saat ia berhasil mengatakan hal yang membuat Kenzo membeku di tempatnya.
__ADS_1
“Kiara mau. ”
“Kiara mau jadi itunya Kak Zo.. ”