
Kenzo menarik paksa Kiara yang masih tertidur, Kiara tersentak bangun merasakan tubuhnya yang di dekap erat oleh pria asing, menurutnya.
Namun saat penglihatannya mulai terbuka, Kiara tak dapat membrontak lagi saat Kenzo sudah mengikat kedua tangannya, serta kedua kakinya pada masing-masing tiang kasur.
Kiara tidak dapat berteriak, bukan karena mulutnya yang di sumpal, namun karena jiwanya yang masih kaget menerima ini semua. Melihat mata teduh pria buas itu, Kiara tetap tidak bisa tenang, ia sangat kacau dan ketakutan.
“Aku mohon Kiara.... Satu kali ini saja. ”
Hanya itu yang di ucapkan Kenzo, saat sebelum Kenzo telah meluluh lantahkan tubuh Kiara dalam naungannya. Kiara ingin mencengkram apapun yang berada di sekitarnya, tapi kedua tangannya terikat.
Hanya suara saja yang terdengar sekarang, memenuhi seisi ruangan yang kedap suara. Kenzo tersenyum puas, saat melihat Kiara mulai pasrah di bawahnya. Entah sudah berapa kali ia menanamkan beninhnya pada rahim Kiara, gadis remaja yang masih berumur 17 tahun.
Umurnya memang sudah ingin dewasa, tapi sikap yang di tunjukkan Kiara, masih menyiratkan remaja awam yang tidak mengetahui apa-apa. Kiara memang masih sekolah, tapi waktunya di habiskan penuh untuk bekerja bersama sang ibu.
Kenzo tidak meloloskan Kiara begitu saja, ia tetap menggagahi Kiara, walau tahu sudah cukup lama mereka bersenggama. Kiara tidak merasa sungkan untuk berteriak, ia terus mengeluarkan suara-suara asing, di tengah matanya yang mulai terpejam karena kantuk.
“Aaah. ” Kenzo menghembuskan nafas tenang, sangat tenang, hingga tenangnya Kenzo, dapat mencabik-cabik jiwa Kiara pada saat ini.
Kenzo menyatukan pergelangan Kiara, ia sudah melepaskan ikatan-ikatan yang mengunci kaki serta tangan mungil gadis itu.
__ADS_1
Kiara mengerjap lemas, ia langsung memunggungi Kenzo walau tubuhnya susah sekali di gerakkan. Kenzo pun tampak tidak peduli akan hal itu, ia tetap tertidur dengan satu tangannya yang berada di atas kepala, sedangkan tangannya yang lain terlentang bebas.
Kenzo berhasil tertidur lelap, namun Kiara.... Masih terus terisak pelan dengan punggung yang bergetar. Salahkah dirinya, jika berharap akan ada pelukan hangat dari Kenzo, saat setelah mereka melakukan hubungan itu secara sepihak.
Akhirnya, Kiara tertidur, walau butuh waktu setengah jam untuknya memberatkan mata. Mendengar helaan nafas Kiara yang melemah dan mulai teratur, Kenzo mengubah posisinya.
Ya, Kenzo tidak tertidur. Ia masih memiliki otak untuk tidak tertidur saat setelah memaksa anak orang untuk ia semprot. Kenzo tahu bahwa Kiara susah tertidur tadi, terbukti dari gerakan badannya yang kecil, tak bisa diam.
“Siang. ” ucap Kenzo membisikkan satu kalimat secarang singkat dan pelan. Ia mengusap surai rambut Kiara, membelainya pelan. Namun tak berani bersikap lebih jauh lagi.
Kenzo turun dari ranjang, ia menyelimuti tubuh kecil Kiara ke dalam selimut. Kenzo pergi menuju kamar mandi di kamarnya, ia ber inisiatif untuk membersihkan diri, dan membenahi segala kekacauan yang terjadi. Kecuali tempat tidur.
Kenzo turun ke bawah, ia sudah lengkap dengan pakaian baru serta celana baru. Wanginya juga sudah ia semprotkan parfum beberapa kali, karena mencium aroma Kiara yang sangat khas, masih membaui badannya.
“Siapkan makanan, minum, dan dessert. ” titah Kenzo tanpa embel-embel terlebih dahulu. Ia bukanlah pria yang mudah ber basa-basi, dan memiliki etika yang baik seperti abangnya.
Kenzo menarik nampan itu, “Biarkan saya yang bawa tuan. ” ujar maid itu sangat sopan. Namun Kenzo menggeleng, dan langsung melenggang pergi, menuju kamarnya lagi.
Sampai di kamar, ia melihat Kiara yang masih tertidur dengan posisi yang sama. Kenzo menyibak selimut itu kasar, ia membiarkan tubuh polos Kiara yang sedang meringkuk, ter ekspos.
__ADS_1
Kenzo menaruh nampan di atas ranjang, ia menampar-nampar kecil pipi Kiara, hingga gadis itu terjengkit bangun. “Menjauh! ” tekan Kiara cepat, ia bersiap untuk beringsut mundur. Namun Kenzo segera menahan kepalanya.
“Cepat berpakaian. Jangan membuat hidupku penuh drama tangisanmu. ” ujar Kenzo dingin, pandangannya menusuk hingga ulu hati Kiara.
Kenzo juga melemparkan setelan pakaian santai kepada Kiara, ia membelinya asal untuk mempersingkat waktu. Kiara meneguk ludahnya, ia berusaha bangun, dengan tetap menjaga jarak sebisa mungkin.
Kenzo tersenyum miring, menatap punggung polos Kiara yang berlari menuju kamar mandi. Ia memilih untuk duduk sambil memainkan ponselnya, di atas ranjang. Menunggu Kiara keluar dengan segera.
Cklek.
Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya Kiara keluar juga. Ia mengenakkan celana pendek serta kaos oblong yang Kenzo beli. Dengan menunduk, Kiara berjalan sangat lah pelan dan hati-hati. Seolah di sekitarnya terdapat lava panas yang membunuh.
“Tuan puteri berjalannya lama sekali ya. ” ujar Kenzo datar, seperti sebuah kalimat sindiran halus, yang tidak dapat Kiara tangkap dengan baik.
Kiara mempercepat langkahnya, ia duduk di pinggiran ranjang, saat Kenzo baru mau bangun dari ranjang. “Cepat habiskan, lalu kau baru boleh keluar dari dalam sini. ” titah Kenzo memberikan instruksi dengan sangat arrogant dan memaksa.
Kiara mengangguk semangat, tanpa sadar ia tersenyum gembira, melihat makanan mewah yang hanya bisa ia lihat ketika para majikannya makan. Kiara duduk di atas ranjang, posisi kakinya sungguhlah tak biasa. Ia tidak bisa anggun seperti wanita di kalangan Kenzo, karena hidupnya hanya di isi oleh banyaknya kesederhanaan.
“Ini enak sekali! ” puji Kiara di antara kunyahannya. Raut wajah Kiara seolah melupakan kejadian beberapa jam yang lalu, saat Kenzo membuatnya menangis.
__ADS_1