
...Author point of view....
Kenzo masih memperhatikan Kiara yang terduduk lemah di atas kasur, kebahagiaan awal karena makanan yang ia makan, kini sirna begitu saja. Bahkan tenggorokannya seakan kelu untuk menelan suapan demi suapan dari tangannya sendiri.
Kenzo mendudukkan pantatnya pada sofa di samping kasur, ia bersedekap dada sambil terus memperhatikan gerak-gerik Kiara yang tak biasa. Kenzo paham betul, apa yang sedang Kiara rasakan.
Mendapat pelototan mata tajam Kenzo, Kiara semakin menundukkan wajahnya dalam, suapan itu pun makin melemah. Kakinya sebisa mungkin ia turunkan pelan-pelan.
“Habiskan. Baru kamu pergi Kira. ” titah Kenzo cepat. Kiara menggeleng lirih, ia langsung beranjak bangun di atas ranjang.
“Gak mau! ” seru Kiara keras, “Kiara gak mau lagi! Gak mau! ” lanjut Kiara menekankan setiap kalimat yang ia ucapkan.
Kenzo mulai emosi, ia membanting ponselnya kasar, wajahnya mendongak menatap Kiara yang jauh-jauh lebih tinggi darinya, karena tengah berdiri di atas kasur.
“Lo turun! Atau gue lempar ke luar sekarang juga! ” ancam Kenzo tak kalah keras, membuat Kiara yang mendengarnya langsung bergidik ketakutan.
“Tapi Kiara engga salah apa-apa! Kiara engga mau ketemu kak Kenzo lagi! ” rutuk Kiara cepat, sambil menggeleng-gelengkan wajahnya enggan.
Kenzo tertawa hambar, lalu ia mulai menetralkan rasa marahnya, yang bisa membuat benda-benda di sekitarnya hancur.
“Lo pikir gue peduli?! Cuih. ” Kenzo meludah, membuat Kiara yang melihat hal itu langsung saja membuang pandangannya.
Kedua tangan mungilnya menangkap masing-masing nampan kaca yang masih berisikan makanan. Kenzo tersenyum miring, “Lo mau apa? Lempar itu? Berani?! ” sentak Kenzo kasar, secara brutal Kenzo mulai kehilangan kesabaran.
Pranggg.
__ADS_1
Melihat Kenzo yang ingin meraih kakinya, Kiara dengan cepat melemparkan nampan kaca itu jatuh tepat di sisi tempat berdirinya Kenzo. Mata Kenzo membulat marah, ini seperti penghinaan untuknya. Kiara langsung berlari dengan cepat, ia melemparkan kunci yang berhasil ia buka ke sembarang arah.
Lalu setelah itu ia keluar dengan nafas tersenggal-senggal. Merasa zona merah masih berada di posisinya, Kiara langsung berlari melenggang pergi menuruni tangga. Ia berlari mengabaikan tatapan aneh para ART yang beberapa sedang bekerja sesuai bidangnya masing-masing.
Kiara menutup mulutnya yang terisak, ia berlari menuju pavilliun tempatnya tinggal bersama sang ibu. Terdapat banyak kamar, dan kamarnya berada di paling ujung. Kiara menyandarkan punggungnya terengah-engah di balik pintu.
“Hiks. ”
Tangisnya pecah mengingat bahwa tidak hanya sekali saja tubuhnya dijamah. Kiara meremas dadanya yang terasa sesak, masih terekam jelas bagaimana brutalnya Kenzo menggagahi dirinya.
Kiara merasa sudah berdosa pada dirinya sendiri. Ia membohongi sang ibu atas kejadian memalukan yang menimpanya. Kiara menggeleng-gelengkan wajahnya cepat, tangannya sesekali mengeratkan pelukan pada dadanya sendiri. Seolah bayang-bayang Kenzo masih menghantuinya.
...-------...
Kenzo menatap lantai kamarnya yang berantakan. Ia mengepalkan tangannya kesal. Pada akhirnya Kenzo tidak memperdulikan hal itu, ia ber tekad akan membuat Kiara yang merasa malu setelah ini.
“Anjing!”
Mata Kenzo merah padam, namun senyum miring terbit di bibirnya yang sesekali tersentuh zat nikotin. Kenzo berjalan turun ke bawah, ia berbicara dengan salah satu maid di sana. Lalu setelah itu Kenzo melenggang pergi ke luar dari kawasan rumahnya.
...Kiara Abraham....
Kiara meringis sakit, saat di sepanjang jalan menuju dapur, rasa perih di antara kedua pahanya membuat kaki Kiara berjalan ter seok-seok.
“Kiara, cepat kamu bersihkan kamar anak kedua. Ia memerintahkan kamu untuk membersihkan kamarnya. ” ujar maid bernama Aqilla secara diam-diam dan begitu pelan.
__ADS_1
Tubuh Kiara menegang pada tempatnya, “T-tapi itukan bukan bagian Kiara bi. Kiara bagian mengurus dapur. ” bantahan yang di keluarkan Kiara, berupa cicitan lemah dari bibirnya.
“Sstt jangan berani membantah, sekarang cepat bersih kan. ” ujar Aqilla, wanita berusia dua puluh lima tahun.
Kiara mengangguk pasrah, membersihkan kekacauan yang ia buat sendiri, adalah hal yang paling memalukan. Namun apalah daya. Dirinya bekerja di sini, tidak sepatutnya ia menolak ataupun membantah perintah sang majikan.
“Awwss. ”
Jari jemarinya yang tadi polos, kini di liputi oleh bercak darah karena kulitnya yang terkena pecahan beling. Enggan untuk memperpanjang waktu, kiara tetap melanjutkan kegiatannya lagi. Hingga serokan kamar yang ia bawa, sudah penuh dengan pecahan beling.
Kiara beranjak bangun, ia membalikkan tubuhnya. Seketika lemahnya daya Kiara, langsung saja berubah semakin lemah, saat sesosok Kenzo sudah berada di ambang pintu. Dengan secangkir kopi di tangannya.
“Selamat bekerja, maid-ku sayang. ” ujar Kenzo menunjukkan senyum smirk di bibirnya.
Kiara menunduk malu. Bukan karena tersipu. Melainkan malu karena dirinya adalah seorang pembantu, yang telah di gagahi sepenuhnya oleh sang majikan. Terlebih lagi, majikannya sudah memiliki tunangan.
Prangg.
Langkah Kiara yang sudah melewati Kenzo, kini terhenti. Mendengar suara pecahan baru, yang sangat jelas. “Maafkan saya Kiara, kopinya sangat panas. Se-panas dirimu. ” bisik Kenzo lirih, dengan suara seraknya yang jantan.
“CEPAT BERSIHKAN! ”
Sentak Kenzo kuat, saat setelah ia duduk di pinggiran tengah ranjang, memperhatikan Kiara, yang sedang duduk sambil merapihkan serpihan kaca itu kembali.
Warna air dari kopi yang menggenang tipis di atas permukaan lantai, kini sudah mulai berubah, saat cairan merah dari jari Kiara, mulai turun mengalir membasahi lantai.
__ADS_1
“Emhhh.” bibir Kiara terkatup menahan isakan.
Dua kata yang menggambarkan jiwanya saat ini adalah sesak dan perih. Sesak mengingat setiap inci tubuhnya yang di sentuh, lalu perih karena hatinya yang diam membisu. Seolah pelangi dalam kehidupan Kiara sebelumnya, telah sirna terbawa oleh banyaknya sentuhan kotor dalam setiap naungan pria bejat itu.