PREGNANT BEFORE MARRIED

PREGNANT BEFORE MARRIED
episode 14


__ADS_3

...Author point of view....


Kenzo membawa Kiara ke rumah kecil yang ia dapatkan dari meng kontak temannya. Raut wajahnya sedikit memerah karena malu, telah membawa Kiara untuk melihat rumah yang sangat sederhana menurutnya.


“Kak Zoo... Asri banget lingkungannya.. Nanti Kiara mau nanem tanaman bunga di sana ya.. ” mata Kiara berbinar, tangannya menunjuk halaman kecil yang berada di depan rumah ber pagar kayu tersebut.


“Terus nanti Kiara bakalan nyiramin mereka setiap pagi. Pasti bakalan indah. ” pekik Kiara girang, mengayunkan tangannya yang di genggam oleh Kenzo, seperti anak kecil.


“Kak Zo.... Kak Zoo engga suka ya? ” wajah Kiara menunduk dalam, melihat mimik wajah Kenzo yang datar dan seperti jijik melihat rumah di hadapan mereka.


Kiara menggigit bibir dalamnya bagian bawah. Menahan rasa sesak akibat dirinya yang melupakan fakta, bahwa Kenzo bisa seperti ini, karena dirinya. Perlahan genggaman Kiara mulai melemas, Kiara tak lagi membalas genggaman tangan Kenzo.


Kenzo buru-buru menoleh cepat, ia langsung memegang kedua pundak Kiara lalu mengguncangkannya. Kenzo terlalu terhalau oleh rasa cemas, cemas bahwa Kiara dan anaknya tak akan nyaman tinggal di sini. Selagi dirinya berusaha menyesuaikan isi ATM lewat kebutuhan mereka kedepannya.


“Kakak suka, Kiara. Nanti kakak beliin bibitnya? Tapi kamu harus masuk dulu, terus kita makan. Makannya delivery aja ya? ” setelah bersedih hati, mata Kiara langsung berbinar senang. Ia mengangguk antusias.


Kiara dan Kenzo pun masuk melewati satu pintu yang berada di depan. Ruang utamanya tidak besar dan juga tidak terlalu kecil. Terdapat satu buah sofa, lalu meja, serta dipan panjang yang berada di pojok ruangan.

__ADS_1


Sedikit melangkah ke bagian dalam, terdapat satu dapur. Sedangkan pintu kamar, berada di pojok ruang utama. Rumah ini memang kecil, namun sangat bersih dan tertata rapih, walau sebagian besar memang di dominasi kekosongan.


“Nanti Kiara sapuin ya kak, biar debu-debunya pada hilang. Terus nanti Kak Zoo mau ngapain? Kak Zoo istirahat aja ya, tadi kan udah nyetir lama. ” gumam Kiara melangkah menyusuri seisi ruangan dengan mata yang berbinar polos.


Tanpa sadar sudut bibir Kenzo tertarik membentuk sebuah senyuman, terkagum-kagum akan sikap lembut Kiara yang memang sangat alami. Kiara bagaikan kertas putih untuknya, lalu dirinya sebagai tinta hitam yang telah mem pora-porandakan kertas tersebut.


“Ra...” Kiara langsung menatap Kenzo, Kenzo melangkah mendekati Kiara, tubuh keduanya saling berhadapan sekarang.


“Terimakasih.” desah Kenzo jujur, Kiara yang mendengar hal itu pun tercengang, buru-buru Kenzo taruh satu jari telunjuknya di depan bibir Kiara.


Bahu Kiara terguncang, bukan karena tangisan. Namun karena Kenzo yang langsung menariknya ke dalam pelukan dengan cepat. Kenzo memeluk punggung Kiara erat, ia jatuhkan keningnya pada leher Kiara. Kiara mematung diam, mendengar isakan yang keluar dari bibir Kenzo. Ia terlalu kaget, mendengar tangisan yang keluar dari bibir sesosok pria paling keras dalam hidupnya.


“Kak Zoo jangan nangis...” bukannya berhenti, bahu Kiara semakin bergetar karena tangisan Kenzo.


Sekalipun kalian mengatakan bahwa ia adalah pria cengeng, Kenzo tak akan pernah peduli. Karena Kenzo terlalu sesak, untuk memendam perasaan cintanya pada Kiara yang semakin bertambah setiap detiknya. Kenzo tak pernah merasa di sayangi seperti ini seumur hidupnya, selain kasih sayang dari ibunya seorang.


Sekian menit Kenzo masih terisak, hingga akhirnya ia langsung menarik tubuhnya kasar dari Kiara. Tubuh Kenzo kini memunggungi Kiara, Kenzo menutup seluruh permukaan wajahnya dengan telapak tangan. Ia lepaskan sejenak, lalu menarik nafas panjang dan kembali membuangnya.

__ADS_1


Kenzo elap kasar permukaan wajahnya yang lembap, “Kakak mau beli makan dulu. Kamu-- ” Kiara memeluk perut Kenzo dari belakang, hingga membuat Kenzo memejamkan matanya erat.


Ia pegang pergelangan tangan Kiara yang melingkar di tubuhnya, Kiara menempelkan sisi wajahnya pada punggung proposional milik Kenzo. Kenzo mengadahkan wajahnya sejenak, ia kembali menarik nafas, dan membuangnya, namun kini bersamaan dengan senyum tipis yang juga terbit di bibirnya.


“Ra. ”


“Hmm..” gumam Kiara masih bersender nyaman pada punggung Kenzo.


“Kamu bisa masak? ” Kiara menganggukkan wajahnya, membuat Kenzo langsung mengusap pergelangan tangan Kiara lembut. Ia memang tidak bisa melihat wajah Kiara, namun karena merasakan gerakan wajah yang menempel pada punggungnya, Kenzo dapat mengetahui hal itu.


“Biar kakak yang yang beliin kamu bahan masakan. Terus kamu tunggu aja di sini ya? ”


“Tapi kak Zoo jangan lama-lama. ” rengek Kiara terdengar halus, Kenzo terkekeh, ia balikkan tubuhnya, lalu ia tangkup kedua pipi Kiara dengan tangannya.


“Siap tuan puteri. ” Kiara tersenyum lebar, bibirnya memerah tersipu, Kenzo mengecup keningnya dalam. Sebelum saat pria itu kembali menutup pintu rumah dari luar, menuju tempat pembelian sayuran.


Kiara melangkahkan kakinya menelisik, ia berjalan lebih cepat, melihat sapu dan kain pel yang terletak di pojok dapur. Kiara mencepol rambutnya ke atas dengan asal, lalu mulai membersihkan lantai terlebih dahulu, sebelum membersihkan yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2