
...Author point of view....
Kenzo menelungkup kan wajahnya pada lengan Kiara, Dokter sudah pergi bersama perawat lainnya, setelah pendarahan Kiara usai. Kiara juga sudah di pindahkan ke ruangan lain, tapi bedanya mereka belum melihat anak mereka sama sekali. Karena Kenzo yang terlalu fokus terhadap keadaan Kiara.
Tangan Kiara bergerak, ia langsung menggenggam pergelangan tangan Kenzo, yang tadinya memegang tangannya ringan. Kenzo mengangkat wajahnya refleks, ia tersenyum lembut, saat melihat berliannya sudah bangun.
“Sayang.” ucap Kenzo pelan, Kiara menitikkan air matanya tanpa sebab, matanya terpejam rapat, lalu kembali terbuka.
“Anak kita, mas.” senyum terbit di bibir Kenzo, ia segera bangun, lalu melangkah menemui ibunya yang sedang menggendong cucunya di ujung ruangan, tadi.
“Adzanin dulu, Zo..” Kenzo mengambil alih anaknya dari dalam gendongan ibunya, bu Kusumo tersenyum, ia dapat merasakan Kenzo yang gugup saat akan menggendong, putrinya.
“Anaya Kusumo.” ucap Kenzo sambil menatap lekat wajah putrinya, bibir Kenzo terbuka, ia meng'adzani putrinya, di saksikan oleh seorang ibu baru' dan juga ibu yang telah mengandungnya.
Di ruangan ini tidak terdapat banyak orang, hanya Kenzo, Kiara, dan Ibunya. Karena kata dokter, Kiara perlu banyak-banyak istirahat, dan melelahkan tubuhnya. Jadilah yang lain sedang menunggu di luar, untung semuanya paham dan mengerti.
__ADS_1
“Anaya, mas.” ujar Kiara tak sabaran, Kenzo memberikan putrinya pada Kiara, Kiara tersenyum lebar, jarinya bergerak mengusap hidung mungil dari putrinya.
Cklek.
Mereka pun menoleh, ternyata ada perawat yang masuk, “Waktunya menyusyi, bu.” ujar perawat itu penuh sopan santun, perawat itu bergerak merubah kepala ranjang Kiara lebih ke atas.
Posisi tidur Kiara otomatis menjadi sedikit terangkat, Kenzo mengalihkan pandangannya, tak kuat menahan haru, akibat pemandangan hangat di depannya. Kiara yang dulu sering bermain di rumahnya, kini tengah menyusui anaknya. Gadis kecil itu, sudah mau mengandung anaknya, membuat rasa cinta Kenzo terhadap Kiara semakin besar kian menitnya.
“Kenzo.” pintu kembali terbuka, semuanya menoleh, tidak terkecuali Kiara yang fokus memandang anaknya.
“Bulu matanya lentik.” Kiara tersenyum, ia refleks mengusap bulu mata putrinya yang terlihat tebal.
“Abang di mana ka?” tanya Kenzo ingin berbagi kebahagiaannya pada Angga, Aleaa melirik pintu, lalu ia dongakkan wajahnya sekilas.
“Abang sedang di luar, masih menunggumu.” Kenzo tersenyum mendengar jawaban kakak iparnya, ia pun pamit terlebih dahulu pada Kiara, dan langsung keluar untuk menemui Angga.
__ADS_1
-- Di luar ruangan --
Angga memasukkan ponselnya kembali, setelah menerima panggilan mendesak dari bawahannya. Kenzo memeluk Angga secara manly, keduanya memiliki tinggi yang sama, dan juga model rambut yang percis.
“Siapa namanya?” tanya Angga spontan,
“Anaya, bang.” Angga mengerutkan keningnya bingung, karena nama itu hanyalah satu kalimat saja.
“Hanya Anaya?” tanya Angga memastikan, Kenzo mengangguk meng iyakan, tanpa merasa tersinggung sedikit pun.
“Iya, itu adalah nama yang Kenzo berikan. Hanya Anaya.” Angga menggeleng tak percaya, ia terkekeh merasa geli, lalu menepuk pundak Kenzo sekilas.
“Mulai sekarang, jangan tinggalkan istrimu lagi. Bawa dia pergi bersamamu.” Kenzo membulat tak percaya, ia tahu betul bahwa itu hanyalah sebuah bualan semata.
“Jangan bercanda, bang.” jawab Kenzo masih mempertahankan senyumannya, “Kiara masih harus kuliah di sini. ” lanjut Kenzo tegas, tak mau jika pendidikan istrinya terbengkalai.
__ADS_1