
Kenzo menarik paksa lengan Kiara, ia sudah tidak sabar menemui Dokter khusus untuk masalahnya ini. Naas, ternyata Dokter itu menolak permintaan Kenzo atas dasar alat kontrasepsi, karena wanita paruh baya yang sudah ahli dalam hal itu, mengenal Kenzo sebagai anak dari teman dekat ibunya.
Kenzo mengerang tertahan, ia ingin menangis dalam pangkuan ibunya saja sekarang, namun jika seperti itu, yang ada ibunya malah menampar Kenzo, dan membuangnya keluar dari keluarga Kusumo yang sangat terpandang.
“Ini semua gara-gara Lo! ” bentak Kenzo nyaris terdengar seperti sebuah hantaman kuat pada tubuh Kiara.
“Kak Kenzo yang mulai! Kiara sudah menahan kak Kenzo, tapi kakak tidak menghentikannya! ” bantah Kiara dengan suara yang berbanding terbalik dengan Kenzo.
“Kamu berbohong kan! kamu pasti yang membuat rencana menjijikan ini! ” rutuk Kenzo masih menunduh Kiara, entah kemana rasa peduli yang ia tunjukkan pagi tadi.
Malah sekarang hatinya seolah sedang meronta tak terima atas perbuatannya, yang memang sudah terbukti, ini memang salahnya.
“Kiara sedang bermain petak umpat. Kiara mana tahu kalau kamar itu akan langsung di kunci, dan.... Awww! sakiiittt kaaakkk ”
Kiara meraung mencoba melepaskan, tangan Kenzo menarik rambutnya, atau lebih tepatnya lagi, menjambak rambutnya yang lurus seperti rapunzel, bedanya rambut Kiara tak sepanjang tokoh disney itu.
“Ini semua salahmu! andai kau tidak bermain-main di dalam kamarku! kau harus tau posisimu Kiara! ” bentak Kenzo merasa marah dan benci disaat yang bersamaan, ia tak habis fikir, bahwa kecerobohan kecil yang dilakukan Kiara, bisa berbuat se-fatal ini.
“Lepasin! kak.... sakiitt banget hiks! ” Kiara menangis tersedu-sedu, ia menyesal telah mengatakan hal itu, andai saja ia tetap diam dan mengunci mulutnya.
“Kau harus terima akibatnya Kiara! cepat masuk! ” seru Kenzo sambil membuka pintu mobil dengan kasar, Kiara buru-buru mengangguk walau terasa sakit, karena tangan Kenzo baru terlepas pada rambutnya saat ia sudah duduk di dalam kursi mobil.
“Menyusahkan! dasar jal*ng kecil tak tahu diri! ” batin Kenzo berteriak.
Hantaman keras dari bantingan pintu mobil terdengar begitu nyata, untung saja parkiran ini sedang sepi, jikalau ada yang melihat, pasti banyak media yang akan meliput perbuatan Kenzo. si bungsu dari keluarga Kusumo.
-------------
-------------
__ADS_1
Kiara terpatung di dalam kamarnya, ia tak berani menatap sang ibu yang sedang merapihkan kasur springbed berwarna maroon yang masih berantakan tak ber-arah.
Kenzo sudah melepaskannya, sejak tadi ia diturunkan paksa di depan pasar yang berjarak sekiranya 50 meter dari komplek elite ini.
Kiara ingin menangis, namun ia bingung ingin menangis dimana, Kiara terlalu takut akan banyak konsekuen yang akan terjadi, bila ia mengatakan hal yang sejujurnya pada sang ibu.
Pertama,
Kiara akan di usir dari mansion.
Kedua,
Ibunya akan dipecat mulai esok, dan seterusnya tidak akan mendapatkan pekerjaan, karena sekalinya nama orang tercoreng atas perbuatan yang tercela dan bersangkutan dengan keluarga Kusumo, maka tidak akan ada yang mau menerima lagi dirinya serta sang ibu.
Ketiga,
Keempat,
Dirinya adalah gadis — eum, maaf — perempuan bodoh yang belum tamat sekolah, hingga bisa melawan segala macam tuduhan yang ter-arah padanya.
Kiara menggigit bibirnya yang kering, ia bangkit dari duduknya yang menghadap jendela kamar kecil, tak ada satupun ucapan yang keluar dari sang ibu, ibunya tampak cuek dan tidak peduli.
“Ma... ” lirihan kecil itu keluar dari bibir Kiara, wajahnya pucat dan rapuh.
Sontak kegiatan wanita berkepala empat yang masih terlihat muda, menghentikkan kegiatannya, dan beralih menatap sang anak yang jarang ia perhatikan.
“Apa Ra? ” pertanyaan lembut menimpa Kiara sekarang, mati-matian gadis itu menahan isak tangis merasa bersalah pada sang ibu, karena telah gagal menjaga mahkotanya.
“Kiara gagal ma... Kiara bermalam dengan k-kak Kenzo....K-kak Kenzo mengambil mahkota Kiara ma.. Kiara takut ma, Kiara takuut. ”
__ADS_1
Lontarakan kalimat yang berhasil di keluarkan Kiara, tidak berbuah apa-apa. karena Kiara sendiri, hanya mengatakannya dalam hati, dalam hati yang sedang dihantui perasaan bersalah paling dalam pada sang ibu.
“Kiara, tolong gantikan mama bekerja ya. siapkan teh untuk keluarga besar di ruang tamu sekarang, nanti mamah bantu bawakan. ” titah sang ibu memberikan instruksi pada Kiara yang hanya mengangguk meng-iyakan.
Kiara berjalan tanpa fikiran, ia menggunakan tenaga yang tak berakal. tidak ada sapaan hangat dati teman se-bayanya, yang juga anak dari maid. Kiara adalah gadis polos yang terkadang naif dan juga sombong, membuatnya rentan dijauhi oleh teman-temannya.
“Hei Ra! Cepat kesini. ”
Kiara buru-buru melangkah menuju dapur besar, tatapannya yang semula fokus berjalan, kini menjadi lamban saat melihat suatu hal yang membuatnya merasa sedih dan geram disaat yang bersamaan.
Tinna sedang bersama Kenzo. mereka sedang tertawa, bercanda, dan — tentu saja bermesraan, tidak ada yang menegur, karena Tinna sendiri adalah tunangan dari Kenzo sedari kecil.
“Hahaha. kamu enggak tau sih! aku sama temenku berebutan tas keluaran terbaru tahu! coba aja kalau kamu ikut, pasti tas itu akan jadi milik aku! ”
Gerutuan galau terdengar jelas pada gendang telinga Kiara, Kiara menunduk sambil mencoba berjalan dengan cepat.
“Nona-ku, masa hanya hal sepele seperti itu, kamu tidak bisa mendapatkannya? ”’
“Saat itu uang ku tak cukup untuk membeli tas yang budget nya dinaikkan menjadi 180 juta. coba aja kamu ikut, pasti aku udah borong kali! ”
Tanpa sadar Kiara meremas ujung rok dari setelah khas pelayan nya, ia menunduk dengan kedua sudut bibir yang turun, membentuk lengkungan kesedihan.
“Kiara! kenapa bengong di situ! ”
Kiara menunduk dalam, ia berlari menuju dapur, namun belum sempat sampai ke dapur, panggilan dari jauh sana menghentikannya.
“Kiara. bawakan dua kopi tanpa ampas ke kamar saya. ”
Suaranya dingin, namun tidak kasar, membuat siapapun wanita pasti bertekuk lutut padanya. Erlangga Kenzo Kusumo.
__ADS_1