
...Author point of view....
Kiara mengadahkan wajahnya ringan, peluh membanjiri dirinya, saat kakinya menaik turunkan tangga berkali-kali. Konon katanya ini dapat membantu proses melahirkan nantinya. Kiara sudah harus di jaga oleh satu orang perawat dari rumah, karena tinggal dua minggu lagi ia dapat melihat anaknya.
Yap, sudah lewat dua bulan dari kejadian Kenzo yang mengabaikannya. Dan sampai saat ini, pria itu masih belum juga menghubunginya. Kenzo tak berharap bahwa Kiara akan berpikir hal macam-macam, karena setiap minggunya, Kenzo selalu mengirimkan pesan dan beberapa makanan lewat kurir kenalannya.
Namun sayangnya, itu semua tidak sampai, karena ulah Tinna yang diam-diam selalu bilang ke satpam rumah Kenzo. Bahwa ia adalah pemilik dari makanan yang Kenzo kirimkan untuk Kiara. Sudah seringkali hal itu terjadi. Kenzo tak menghubungi Kiara, karena berpikir bahwa dengan hadiah dan ucapan darinya setiap minggu saja, Kiara mengerti, atas kondisinya yang sedang mabuk pekerjaan.
Nyatanya, Kiara tidak pernah mendapatkan paket itu sama sekali. Mungkin karena Tinna yang rumahnya tak jauh dari rumah Kenzo, membuat wanita itu mudah untuk keluar masuk, secara bu Kusumo sudah mulai mau ber interaksi lagi bersamanya.
__ADS_1
“Ra....” Kiara menolehkan wajahnya pada pintu utama, ia selalu terbayang akan panggilan tegas Kenzo yang menyiratkan kasih sayang untuknya.
Namun panggilan itu hanyalah ilusi semata. Kiara sendiri sudah cukup paham, mendengar jika pak Kusumo yang suaranya besar itu, sedang ber telfon ria di ruang tamu. Menyerukkan nama anaknya terus menerus, karena merasa bangga, atas progres yang Kenzo lakukan.
Setidaknya mendengar bahwa kabar suaminya baik-baik saja, sudah membuat Kiara tenang bukan main. Ia tidak mau mencoba menghubungi Kenzo, karena pria itu pasti memiliki alasan kusus untuk tidak menelfonnya. Tapi akhir-akhir ini Kiara mulai gelisah, takut seandainya jika Kenzo bersama wanita lain, lalu tertarik pada wanita itu.
Jari jemari Kiara mulai menulis, setiap kalimat yang ia tulis, selalu keluar dari bibirnya. Kiara rindu usapan sayang dari suaminya, Kiara rindu kecupan lembut dari suaminya, Kiara rindu memeluk tubuh keras Kenzo di bawah naungannya.
Kiara merajuk sendiri, seakan tak peduli jika ia terlihat seperti orang gila saat ini. Kiara menggerutu pelan, meracau pelan, lalu mengajak benda-benda di sekitarnya berbicara. Mood Kiara berubah-ubah, mood Kiara tidak menentu dan terjaga. Kiara pusing, tak enak badan, dan juga tak enak hati.
__ADS_1
“Kiara. ”
Kiara mengabaikan panggilan itu, katakan saja ia kurang ajar, Kiara tidak peduli. Ia terlalu marah untuk di abaikan seperti ini. Tadi Kiara melihat mamah mertuanya sedang berbicara akrab dengan mantan dari suaminya, Tinna. Mata Kiara membula, merasakan sesak nafas. Kiara pegang perutnya, lalu ia tarik nafasnya panjang. Ini sering terjadi akhir-akhir ini.
“Kiara.”
Masih Kiara abaikan panggilan itu, ia ingin tidur tanpa melihat ibu mertuanya. Langkah kaki Kiara berjalan, ia merasakan pegal yang luar biasa. Kiara menarik nafasnya lagi, lalu ia hembuskan secara perlahan. Kiara memegang dinding kayu yang berada di masing-masing ujung ranjang. Ini rasanya berbeda, tidak seperti biasanya. Kiara merasakan sakit yang luar biasa.
__ADS_1