
Kenzo Point of view.
Ku arahkan segala nafas untuk berhembus secara perlahan, pikiran yang kacau, lalu keadaan yang tidak mendukung, membuatku merasa frustasi dan risih disaat yang bersamaan. Maka dari itu, kucoba untuk bersikap se-rileks mungkin dihadapan semua orang, terutama di hadapan bocah kecil itu, Kiara.
Tanganku menggandeng Tinna memasuki kamar, sebelum itu, sudah kupesan kopi untuk langsung di kerjakan oleh Kiara. Aku sengaja melakukannya, aku ingin ia tetap ingat, bahwa kejadian yang sudah terjadi kemarin malam, tida akan mengubah status apapun di antara kami berdua.
Membicarakan soal tunanganku, Tinna adalah perempuan berdarah india, hidungnya mancung, matanya besar, kulitnya tampak putih walau sedikit eksotis, lalu tingginya semampai, dengan bentuk tubuh yang proposional.
Tidak ada hal yang bisa mendeskripsikan hubunganku bersama Tinna, kami sangat baik, tanpa ada orang ketiga sekalipun. Sejak kami kecil, sudah ada ikatan yang mengikat kami berdua.
Tinna gadis yang periang, tapi ia juga matrealistis, dan aku menyanggupinya. Tinna yang menemaniku dari nol, hingga saat ini. Maka jangan heran bila ia sering menuntutku banyak hal, karena akupun tidak keberatan soal hal itu.
Oh ya, mungkin ada beberapa dari kalian yang heran, mengapa aku tidak melepaskan status lajangku di atas ranjang bersamanya saja?, sedangkan hubungan kami berdua memang benar-benar baik.
Itu karena Tinna sendiri yang menginginkannya, Tinna tumbuh menjadi gadis yang sedikit bebas dan juga liar. Tapi kutahu pasti, ia bukan perempuan sembarangan seperti teman se-bayanya yang suka sekali foya-foya dalam banyak bidang.
Tinna menginginkanku ahli dalam hal itu, walau sempat ada perdebatan di antara kami, tapi aku tetap menyanggupinya, aku tetap meng-iyakan permintaannya, karena aku sendiri sedikit gengsi, jika gagal dalam pengalaman pertama.
Aku masih menggandeng tangannya yang begitu lembut, tanda jika ia memang belum pernah melakukan pekerjaan berat. Ku kunci pintu dari dalam, agar tidak ada siapapun yang bisa masuk kedalam kamar secara gegabah.
“Zoo.... ”
Bisikan lirih itu mengalun sayup, aku paham pandangan matanya menatap mataku begitu sendu, aku mengerti keinginan nya. ah maaf. keinginan ku juga.
“Aku gamau pakai pengaman. ” ujarku memastikannya dengan rahang yang mengeras menahan keinginan.
“Aku engga mau hamil sekarang. ” balasnya sedikit membuat perasaanku kecewa.
__ADS_1
“Aku mau punya anak sama kamu. Kita saling mencintai dan akan segera menikah, lantas apa yang menjadi permasalahannya? ” tanyaku menyiratkan protesan pada balasannya.
“Aku masih mau lanjutin karier aku. ”
“Jangan egois na. Aku udah turutin kemauan kamu dengan bercinta bersama orang lain. Dan sekarang waktunya kamu, turutin kemauan aku. ” aku masih kekeuh dengan pendirianku.
Namun kulihat sinar kemarahan memancari matanya yang berwarna hitam sedikit pekat. “Aku ingin kamu kaya dulu, baru setelah itu kita bisa kelilingan dunia bersama anak-anak. ”
Nafasku memburu, entah bagaimana jadinya, aku menjadi murka seketika. ini bukan kali pertama ia menunjukkan sisi matrealisme nya. tapi kali ini, aku menjadi marah dan merasa tersinggung akan ucapannya.
“Ka—” ucapanku terpotong, aku ingin segera menghentakkan setiap ucapannya tadi, namun suara ketukan pintu dari luar, menghentikkan kegiatan kami.
Tok
Tok
Tok
“Kiara. ” panggilku refleks dengan begitu pelan, yang ku yakini hanya diriku saja yang bisa mendengarnya.
Namun ternyata ku salah, Kiara mendongak, memamerkan pancaran wajahnya yang begitu indah dan elok. Kita saling terdiam, aku pun tampak menikmati pemandangan bidadari dunia yang sangat memukau.
Hingga langkah kaki dari belakang, menghentikan kegiatanku memuji parasnya lewat pandangan mata.
“Kalau kamu ingin memiliki anak. Lakukan saja bersama dia, lagipula kalian juga sudah melakukannya kan. ”
Degupan jantungku seolah berlomba sedikit cepat. ku alihkan pandangan mataku menjadi menatap Tinna yang tidak sadat akan ucapannya barusan.
__ADS_1
Sebelum mengerti akan apa yang terjadi selanjutnya, kudorong Kiara pelan namun tegas dari dalam garis lantai pintu. Kiara mengerjap kaget, namun ia yang lemah, menurut untuk mundur, hingga pintu kamar ku dobrak kencang kembali tertutup rapat-rapat.
“Apa maksudmu Tinaa?! ” sergahku merasa murka akan perkataannya yang semakin menjadi.
“Kenzo, memangnya apa yang calon istrimu ini lakukan? aku melakukan hal itu untuk kebaikanmu. ” balasnya acuh sedikit meremang, aku tahu ia mulai gelagapan.
“Bagaimana bisa kau mengetahui hal itu Tinna!! ” seruku kencang sambil mencengkram kedua pundaknya.
“Aku tidak ingin kau melakukan bersama wanita sembarangan Kenzo!! Bagaimana jika wanita malam yang kau pilih memiliki penyakit?! Maka dari itu, aku lebih mendukung bocah kecil itu, yang pastinya sehat dan juga bebas dari penyakit. ”
Tinna terkekeh. Kupastikan pandanganku memanglah seorang Tinna. Wanita anggun yang menemaniku dari nol hingga saat ini. Tinna masih terkekeh sumbang, ia berusaha menyadarkanku dari lamuman ketidak percayaan.
“Kenzo? ”
Panggilnya sambil menepuk-nepuk pipiku. Aku menghembuskan nafas gerah, seolah panasnya neraka sedang menghantamku kali ini.
Plakkk.
Suara itu terdengar. Seisi ruangan menjadi hening dan hampa. Keresahan hati mulai mendambakkan diriku, sejak saat aku merenggut kesucian sesosok gadis kecil tak berdosa. Dan sekarang, bukan lagi rasa resah yang kurasakkan, namun digantikkan oleh ketegangan yang menerpa.
Tinna menatapku tak percaya, wajahnya yang masih menoleh kesamping, karena buangan dari tamparanku barusan, kini mulai menegak menghadap wajahku yang memerah keras. Wajahnya belum pulih betul dari tamparanku barusan, namun mengingat seorang Kiara, ingin segera kululuh lantahkan wanita dihadapanku sekarang.
“Kau!!! ”
Plakk.
Tangannya yang berusaha menampar rahangku, kucekal hebat. Tidak ada seperkian detik, langsung ku damparkan lagi telapak tanganku untuk menghantam keras pipinya.
__ADS_1
Sungguh naas, nasibmu Kiara. Aku mengadahkan wajahku murka, Tinna masih terdiam shock akan perbuatanku barusan. Kali ini, Tinna sudah melewati batasnya. Aku samasekali tidak akan mengampuninya, dia telah menarik sesosok Kiara, kedalam hubungan kami yang awalnya berjalan lembut seperti sutra.