
Kenzo Menghentakkan kakinya asal, Tinna sudah pergi lebih dulu dari luar kamar, sehabis setelah ini, ia akan kembali menyeret Kiara kedalam kamarnya.
Kenzo sangat murka, mendengar ucapan Tinna yang seakan meremehkan dirinya, ia tidak suka saat keinginannya di tolak, apalagi dengan orang yang ia cintai.
“Kiara. ” tidak ada nada keras atau kencang sekalipun, Aaron benar-benar memanggil Kiara pelan, namun menekan.
Kiara yang sedang berada di ruang tengah, membersihkan sofa, menjadi tersentak kaget karenanya. Aaron menahan nafasnya, ia memejamkan kedua matanya berusaha meredakan emosi yang menggelayuti.
Melihat ekspresi Kenzo, Kiara dibuat merinding akan hal itu. Ia menarik nafasnya dalam, sebelum akhirnya Kiara mendongak kecil, tidak sepenuhnya menatap Kenzo.
“Apa? ”
Tanya Kiara berupa cicitan kecil, Kenzo menggeram lirih. Entah dimana keberadapan yang sudah hinggap dalam dirinya sejak kecil, Kenzo tidak memperdulikan segala konsekuensi yang akan terjadi, ia tidak akan pernah membiarkan Kiara lolos, dan akan membuat Tinna menyesali perkataannya.
“Ibu kamu tuh mandul! buktinya kamu gak bisa punya adik lagi! karena itu, aku pingin lihat kamu punya anak dulu, bersama perempuan lain! ”
Kurang lebih seperti itu. maka jangan heran, jika Kenzo menampar Tinna di awal terlebih dahulu, ia sama sekali tidak menyesal telah menampar Tinna. tidak sama sekali.
Kiara memandang pergelangan tangannya yang di cekal oleh Kenzo secara diam-diam, mungkin cctv di mansion besar ini, tidak akan terlihat jelas jika Kenzo menarik Kiara menuju kamarnya. Kiara tidak tahu harus berbuat apa, ia pikir kopi buatannya telah melakukan kesalahan, maka dari itu Kenzo menariknya. meminta pertanggung jawaban.
__ADS_1
“Kak Kenzo. ” panggil Kiara bingung dan sedikit gemetar, saat setelah pintu kamar Kenzo ditutup oleh sang pemilik.
Ia mengitari pandangannya, mencari keberadaan noona cantik, yang menjadi tunangan Kenzo tersebut. Kiara menepuk keningnya malu, ternyata ia lupa, bahwa kopi yang ia buat, bahkan tidak sampai kedalam kamar ini, karena Kenzo yang lebih dulu mengusirnya tadi.
“Lalu, kalau bukan karena kopi itu, mengapa Kenzo memanggilnya? dan, dimana keberadaan noona cantik itu? ” batin Kiara bertanya-tanya.
Kenzo berjalan menutup seluruh hordeng yang terbuka dengan ketinggian yang cukup tinggi, suasana di siang hari menuju sore ini, membuat kamar Kenzo yang sudah gelap, menjadi remang-remang saat hordeng sudah tertutup sempurna.
“Kak. ” panggil Kiara takut, refleks ia memundurkan tubuhnya malu, takut, dan cemas.
Ia meremas ujung dress pelayan yang ia kenakan, Kiara mengambil langkah kecil kebelakang, menanti ke ajaiban datang kepadanya. menyelamati nya, lalu membawanya pergi dari kamar sang singa buas ini.
Kiara dibuat lunglai karenanya, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Kenzo. namun saat melirik ranjang yang masih rapih serta sempurna, Kiata merunggut kecil merasa sesak, ia mengingat kejadian itu lagi. Kiara merasa malu atas dirinya sendiri.
Kenzo mengatupkan kedua belah bibirnya rapat, keningnya mengkerut berusaha menunggu akal cerdas dan dingin untuk segera menghampirinya. namun lagi-lagi perkataan Tinna berputar di kepalanya, Kenzo lagi-lagi dibuat marah akan hal itu.
Se-marah, dan murkanya ia pada Tinna. sama percis seperti gerakkan tubuhnya yang menyeret gadis belia itu, untuk kembali berada di atas ranjangnya. Kiara menangis tanpa instruksi apapun, tanpa persiapan apapun, ini hampir terjadi lagi.
Kiara berusaha tetap meronta, ia sudah kerahkan seluruh kekuatannya. ia tidak ingin kembali berada dibawah kuasa pria bejat, yang awalnya ia kira adalah seorang laki-laki baik hati dan penurut.
__ADS_1
“Mmpshh.” mulut Kiara dibekap oleh satu telapak tangan Kenzo, tubuhnya direngkuh dari belakang saat dirinya sudah berhasil kembali berdiri di samping ranjang.
Kiara terus menangis meminta pertolongan, Kenzo menjadi seperti manusia yang kesetanan.
Sikut kecilnya terus bergerak saat kedua lengannya dipeluk erat oleh satu tangan Kenzo yang bebas, hingga akhirnya sikut kecil milik Kiara, berjalan peka seperti batu yang menonjok intens, perut Kenzo dari belakang.
“Arghh.” Kenzo mengerang merasa sakit, sikut Kiara menonjok cukup keras perutnya yang masih kosong dari pagi tadi.
Kiara menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri, ia berlari menuju pintu yang tertutup, namun tidak terkunci. saat tangannya berhasil meraih engsel pintu, dan membuka celah sedikit agar pintu terbuka. tiba-tiba saja pintu itu kembali tertutup dengan keras.
Kenzo berdiri di hadapannya, tubuh Kiara sudah menempel jelas pada pintu dibelakangnya, Kiara menangis semakin keras, karena perasaan takut.
“T-tolong.... Hiks! ”
Bibir Kiara bergetar karena isakan, dia terus meminta tolong, hingga akhirnya tubuh kecil itu merosot sempurna dengan begitu lelah. Kenzo mundur satu langkah, perasaan sakit pada hatinya tiba-tiba saja menghantam begitu keras.
Melihat perempuan kecil yang merasa terganggu akan kehadirannya sekarang. bulu kuduk Kenzo meremang, hidungnya kembang kempis sesuai irama suasana yang mencekam.
Hingga akhirnya, indra pendengarannya mendengar jelas bisikan Kiara memanggil sesosok pria, yang ia tahu sudah meninggal sekian tahun lamanya.
__ADS_1
“P-papaa... ” bibir Kiara meracau kecil, ia terus memanggil sang ayah yang sudah meninggalkan dirinya sejak saat Kiara berada ditingkatan sekolah dasar.