
...Author point of view....
Kenzo kembali ke kamarnya, ia mengira bahwa Kiara sudah tertidur, namun nyatanya tidak sama sekali. Kiara masih menunggunya di atas kasur, dalam keadaan Anaya yang masih menyusu padanya. Kenzo menutup pintu, segera ia hampiri Kiara, mengambil posisi di samping kiri Anaya yang kosong, jadilah Anaya di apit oleh kedua orangtuanya.
“Ra, nanti kamu ikut aku ke Jepang ya.” ujar Kenzo menatap lekat mata Kiara lewat pandangannya. Kiara mengangguk, ada perasaan senang di hatinya, namun saat Kenzo melanjutkan kalimatnya, seketika Kiara langsung marah tak terima.
“Bersama Tinna juga. Mamah yang ingin Tinna menemanimu di sana, nantinya.” ujar Kenzo berusaha menjelaskan, wajah Kiara melengos.
“Aku di sini aja. Engga mau ikut.” ketus Kiara tak suka, Kenzo menggeram lirih, ia tak terima jika Kiara menolaknya, namun bagaimanapun Kenzo juga harus bersikap lembut, mengingat bahwa Kiara telah melahirkan anaknya.
“Ko gitu? Ama aku ya, Ra. Please..” mohon Kenzo lembut, Kiara menggeleng, ia tetap berso kukuh, tak sudi jika Tinna ikut bersama mereka.
__ADS_1
“Ko kamu jadi gini sih? Emang salah aku apa? Suami kan juga baru pulang, aku pergi ke Jepang bukan buat main-main. Tapi kerja. ” titah Kenzo mulai terpancing, akibat sikap keras kepala Kiara.
Mendengar nada suaminya yang meninggi, Kiara langsung berbalik arah, memunggungi Kenzo, Anaya masih berada di pelukannya, sibuk menyusu, tanpa merasa terganggu akibat pertengkaran kedua orangtuanya.
“RAA.” panggil Kenzo kesal, Kiara menahan nafasnya yang tercekat, ia tidak takut kalau Kenzo akan berbuat kasar, karena di sini Kenzo lah yang salah dan terlalu lemah.
“Oke. Aku bilang mamah nanti. Tinna enggak jadi ikut.” Kenzo mengalah, ia tidak mau juga bertengkar dengan Kiara, Kenzo tarik Kiara ke dalam pelukannya, membuat Anaya juga ikut di tengah himpitan mereka.
“Ra, kamu jangan marah gitu dong by. ” bujuk Kenzo mulai larut akan perasaannya pada Kiara, Kiara ingin melepaskan diri dari Kenzo, tapi pinggangnya di peluk kuat.
“Ada Anaya! Dia kegerahan.”
__ADS_1
“Ac nyala ko.” jawab Kenzo langsung, enggan melepaskan. Kiara membuang nafasnya pasrah, ia memilih untuk tertidur karena lelah.
“Kenzo!” panggilan itu membuat Kiara membuka matanya kembali, itu adalah suara bu Kusumo, yang paling ia kenali.
Entah bagaimana jadinya, saat Kenzo ingin bangun dari tidurnya, Kiara buru-buru menaruh satu kakinya di atas paha Kenzo, membuat pria itu mengerutkan keningnya bingung, tak bisa pergi.
“Tetep di sini.” tekan Kiara cepat, memejamkan matanya rapat. Kenzo mengangguk pada akhirnya, panggilan dari mamahnya tak ia hiraukan.
Kenzo tersenyum, melihat wajah damai Kiara yang sangat mengantuk. Kenzo mengulurkan tangannya pelan, mengusap bawah kelopak mata istrinya. Terdapat kantung mata kecil di sana, yang menandakan bahwa Kiara kekurangan jam tidurnya.
“Ko ada kantong mata sih mah. ” bukan seperti pertanyaan, namun seperti pernyataan. Kiara melenguh pelan, saat ujung dadanya di gigit kecil oleh gusi anaknya. Membuat Kiara sedikit merasa kegelian.
__ADS_1
“Ngantuk. Nungguin papah ngasih kabar, tapi engga ada. Mamah berasa engga punya suami kalo gitu.” jawab Kiara jujur, di tengah kantuknya.