
...Author point of view....
Kiara membeku di tempatnya, Kenzo masih tenang, seolah tidak memikirkan kalimat yang baru saja ia ucapkan dengan begitu mudahnya. Kenzo melirik Kiara yang tampak diam, lalu ia usap surai rambut Kiara begitu lembut, kontras sekali dengan kata-katanya.
“Nanti kau juga akan merasakan jatuh cinta Kiara, sayang. ” Kenzo tersenyum tipis, belum menyadari sama sekali bahwa mati-matian Kiara menahan isakannya keluar.
Menit demi menit berlalu, Kenzo mulai merasakan tak ada gerakan sama sekali dari tubuh Kiara. Ia bersyukur bahwa Kiara mau menurut dengan segala perintahnya, ternyata membuat Kiara luluh, hanya dengan sikap lembut saja.
“Malam. ” Kenzo sudah tidak tersenyum lagi, baru saja ia ingin melelapkan matanya, namun basah pada dadanya, membuat Kenzo tersentak kaget.
Wajahnya mengadah, mendongak. Memastikan bahwa atap mahal hotel ini tidaklah bocor. Namun saatv suatu kenyataan menimpanya, Kenzo segera melirik Kiara. Nafasnya tercekat, melihat wajah Kiara yang merah, bersamaan dengan hidungnya yang juga memerah.
__ADS_1
“Apakah kau menyesal Kiara? Aku sudah benar-benar berusaha membuatmu nyaman. Namun sepertinya itu semua sia-sia, karena air matamu yang masih saja mengalir. ” batin Kenzo berucap.
Jika Kenzo pikir-pikir, Kiara bukanlah gadis yang jelek rupanya, ia gadis manis yang semampai, walau dengan lekuk tubuh yang sedikit tak wajar. Buktinya, sudah berumur tujuh belas tahun, bahkan ujung dadanya saja seperti baru numbuh. Jauh berbeda sekali dengan Tinna.
“Ra, apa kamu punya pacar? ” tanya Kenzo tanpa sadar, yang sudah jelas, tidak akan menerima balasan apapun dari remaja awam yang sedang meringkuk di dalam pelukannya.
Kenzo mendongakkan wajah Kiara, ia tatap wajah polos tanpa polesan sedikit pun itu lamat-lamat. “Kalo kamu punya pacar, saya akan sudahi hubungan kayak gini, secepatnya. Tapi tetep aja, setelah kamu hamil dulu. ”
Kenzo tersenyum tipis. Entah sudah berapa kali, ia tersenyum hari ini. Ketika Tinna mengizinkannya untuk melakukan hal itu bersama, untuk pertama kalinya, saat Tinna tahu, bahwa Kenzo sudah berusaha membuktikan padanya, kalau ia bisa memiliki anak bersama Kiara.
“Saya peduli sama kamu, Ra. ” Kenzo mengusap punggung tangan Kiara, ia mulai memejamkan matanya juga, sambil mencari kenyamanan lewat kepala Kiara yang bersender pada setengah dadanya.
__ADS_1
Keduanya pun terlelap, Kenzo dengan mimpi indahnya bersama Tinna, yang sedang berjalan menuju altar. Sedangkan mimpi Kiara, yang sedang menunduk dalam, memperhatikan buku-buku pada kukunya, berusaha memanimalisir kegugupan dan kesesakkan perasaannya.
Lusa kemudian. Senin pagi, di sambut oleh Kiara yang akan siap-siap untuk kembali membantu pekerjaan dapur, karena sekolah diliburkan akibat pandemi corona. Kiara pun stay di rumah. Mulai dari ia yang membantu membuat sarapan, lalu juga yang menyiapkan sarapan.
Melihat Kenzo yang sedang sarapan bersama amggota keluarganya yang lain, sedikit membuat Kiara takut, akan reaksi mereka terhadap kehamilannya nanti. Secara Kenzo memang sangat minat membuatnya hamil. Tapi Kiara sendiri lupa menanyakan, bagaimana kehidupan anaknya nanti? Apakah Kenzo akan membawanya pergi?
Terlalu memikirkan, sepertinya membuat Kiara pusing dan berat pikiran. Ia menjadi mual seketika.
Eh?
Mual?
__ADS_1
Buru-buru Kiara berlari menuju paviliun, ia masuk ke dalam kamar mandi, lalu mulai mencuci bibirnya cepat. Nafasnya memburu. Degup jantungnya lebih cepat dari sebelumnya. Kiara menyenderkan punggungnya pada sandaran pintu. Perasaan cemas tiba-tiba saja menjalar ke seluruh sel-sel tubuhnya.