
...Author point of view....
Kenzo bawa Kiara untuk masuk ke dalam mobilnya, Kiara menganggukkan wajahnya lesu saat setelah Kenzo mengatakan bahwa pagi ini mereka akan menemui mamah dari Kenzo, yang tak lain adalah majikannya sendiri. Jalan takdir Kiara memang terlalu bisa di tebak, bahkan gadis itu sendiri, merasa yakin bahwa ia akan bahagia bersama Kenzo nantinya.
Kenzo mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, sesekali ia kecup punggung tangan Kiara. Kenzo melenguh pelan, melihat restauran tempatnya bertemu sapa dengan sang ibu sudah berada di depan mata.
Segera Kenzo bawa turun Kiara, ia sudah mengatakan kalau Kiara akan bertemu ibunya juga, kemarin. Namun sepertinya gadis itu lupa, dan lebih memilih untuk meremas ujung kaus yang Kenzo kenakan. Kenzo menggenggam tangan Kiara, ia memasuki restauran dengan perasaan kelu. Takut tak bisa meyakinkan ibunya.
“Maah.” Bu Kusumo menghembuskan nafasnya teratur, ia duduk di ruangan vip yang memang di desain kusus dengan interior full privacy.
Kiara menegakkan posisi berdirinya, ia sudah tak memilin ujung kaus Kenzo lagi, mata Kiara membulat terkejut, melihat kehadiran ibunya yang sedang berdiri dengan wajah yang juga menatapnya lurus. Hati Kiara terasa resah, memandang ibunya yang tampak pucat. Bibir ibunya kering, dan tatapannya dingin.
__ADS_1
“Masih ingat punya mamah kamu? ” Kenzo menghela nafas, ia memajukkan tubuhnya selangkah lebih dekat, lalu kembali menghela nafas, melihat bu Kusumo yang membuang pandangannya.
“Bu. ” entah sejak kapan ia memanggil pembantu yang sudah lama bekerja di rumahnya dengan sebutan ibu.
Kiara tersenyum tipis, ia mendongak menatap Kenzo yang berdiri di sampingnya. Mereka saling menguatkan satu sama lain, Kenzo bawa kembali tangan Kiara pada genggamannya. Pemandangan itu pun tak lepas dari masing-masing mata kedua wanita paruh baya di depan mereka.
“Ehm. ” buru-buru Kiara menarik tangannya, ia menunduk dalam, mengusir rasa gugupnya. Kenzo menuntun Kiara untuk duduk di kursi empuk tersebut, berhadapan langsung dengan Bu Kusumo yang sudah terduduk sejak lama.
“Kamu pikir dengan kamu pergi dari rumah, masalah akan selesai? Sejak kapan pikiranmu se bodoh itu Kenzo? Kamu pikir dengan menentang keputusan papahmu, lalu meninggalkan perusahaan, kisahmu akan menjadi bahagia dengan wanita itu? ”
Kenzo menggeram lirih, ia menajamkan matanya tak suka, saat mendengar ucapan ibunya yang terkesan tajam. Apalagi saat ibunya menekankan kata, wanita itu'. Membuat hati Kenzo tak senang dibuatnya.
__ADS_1
“Dia Kiara ma. Punya nama. Ibu dari calon anak Kenzo nantinya. ” bu Kusumo berubah menjadi pias, ia memang menginginkan cucu lagi, mengingat bahwa cucunya memanglah baru satu.
Bu Kusumo mengadahkan dagunya ke atas, membuat dirinya terlihat angkuh dengan setelan sederhana, yang seharga jutaan rupiah setiap helainya. Kenzo membalas tatapan ibunya, bu Kusumo tampak memperhatikan gerak gerik Kiara yang juga menatapnya sendu.
“Apa maumu? ” Kiara mengangkat wajahnya, hingga ia bisa melihat wajah majikkan menjadi semakin jelas. Kiara menatap bu Kusumo dengan begitu lugu.
“Kak Kenzo balik lagi ke keluarganya. Terus kak Kenzo baikan sama papanya. ” ujar Kiara pelan, yang tak di sangka-sangka oleh Kenzo, bahwa mulut kecil wanita di sampingnya, akan mengatakan hal itu.
Bu Kusumo tak kalah terkejutnya mendengar hal itu, namun sebisa mungkin, ia tutupi mimik wajahnya yang terkejut, dengan kesan angkuh pada eskpresinya. Kiara menatap Kenzo, sembari menerbitkan senyum tipis pada bibirnya.
__ADS_1