
...Author point of view....
Kenzo menghentikan mobil di sebuah tempat peresmian hubungannya dengan Kiara. Kiara melenguh pelan bangun dari tidurnya, Kenzo mengecup pelipis Kiara bertubi-tubi, berusaha mengusik Kiara agar gadis itu cepat tersadar.
Kiara menggenggam tangan Kenzo, berusaha menghentikan pergerakan telapak tangan itu yang sudah menjelajah ke mana-mana.
“Kak Zoo ih...” Kiara merasa kegelian, tubuhnya menggelinjang geli. Merasakan Kenzo yang mengusap permukaan perut ratanya dari dalam kaus.
Kenzo tidak tersenyum, raut wajahnya datar, namun tangannya masih betah mengusap perut Kiara. Kiara menatap Kenzo dalam, memperhatikan raut wajah Kenzo yang serius. Hingga mengabaikan tatapan matanya.
“Kak Zoo kenapa? ” Kenzo tersadar dari lamunannya, segera ia jauhkan tubuhnya dari Kiara. Mempersilahkan Kiara untuk melihat pemandangan di depannya dari dalam kaca mobil.
__ADS_1
Kiara menyipitkan matanya membaca papan besar yang terpampang pada pada palang di atas sana. Kenzo membuka pintu mobil, membuat Kiara segera turun cepat dari dalam mobil. Kiara meraih pergelangan tangan Kenzo, ia peluk pergelangan tangan Kenzo erat, seolah sedang berlindung dari kerasnya dunia.
Kenzo menonaktifkan mobilnya, ia menarik tangan Kiara yang melingkar pada lengannya, menggantikannya dengan tangannya yang menggenggam jari jemari Kiara. Kenzo memasuki kantor urusan agama bersama Kiara di sampingnya. Kiara sudah cukup dewasa untuk mengenal tempat ini, dan mengetahui tujuan Kenzo membawanya ke sini. Keduanya melangkah tenang.
Kenzo merasakan gugup luar biasa, yang ia tutupi sebisa mungkin dengan raut wajah tegasnya. Kenzo membawa Kiara ke sebuah ruangan, ia sudah berbicara dulu kemarin, pada salah satu yang bekerja di sini. Tapi karena ia pikir tak akan jadi menikah di KUA, akhirnya Kenzo pun hanya bertanya-tanya saja.
“Kamu tunggu di sini, Ra. Aku mau ngomong dulu sama yang di dalem. ” Kiara ingin menggeleng, namun melihat wajah Kenzo yamg meyakinkannya, membuat Kiara langsung mengangguk patuh.
“Saya ingin menikah sekarang. ” wajah Leon terlihat kaget, Leon pun langsung menggeleng, tak siap untuk melakukan hal itu.
“Tapi kamu masih muda Kenzo? Lalu bagaimana bisa kamu datang sendirian ke sini. Tanpa papah kamu? ” tanya Leon tak percaya, Kenzo menahan decakan malas yang ingin keluar.
__ADS_1
“Urus aja pak. Sekarang. ” tekan Kenzo tajam, bersamaan dengan matanya yang menajam. Kiara berdiri gugup di belakang sana, beberapa senti meter dari jarak Kenzo.
Leon menghembuskan nafas kasar, mau menerima pun susah, tapi kalau menolak akan lebih susah lagi. Dan takut akan berdampak buruk baginya nanti. Secara Kenzo adalah anak dari rekan kerjanya, yang begitu mampu membuat perusahaan kecil-kecilannya menjadi besar. Leon pun memilih bertindak cepat, menerima keinginan Kenzo.
“Baiklah, tapi harus ada satu wali yang mendampingi mu.” ujar Leon yang langsung mendapati pelototan elang dari mata Kenzo, Kenzo mendesis marah, mengingat bahwa temannya yang...
“Kenzo! ” Kenzo dan Leon pun sontak mencari asal sumber suara, mata Kenzo membulat senang, melihat Boy yang sedang berdiri di samping Kiara. Sedangkan Leon tampak kesal karena wali dari Kenzo sudah ada di depan mata.
“Baiklah. Silahkan menunggu.” Kenzo tersenyum puas, ia balikkan badannya saat Leon sudah pergi. Kenzo memeluk Boy yang tingginya setara dengan dirinya. Kiara menunduk canggung, seolah menjadi orang ketiga di antara mereka.
__ADS_1