PREGNANT BEFORE MARRIED

PREGNANT BEFORE MARRIED
episode 30


__ADS_3

...Author point of view....


Kiara merasakan perasaan mules yang luar biasa. Kenzo duduk di sampingnya dengan begitu tenang. Mereka sedang menuju bandara, Kenzo sendiri yang membawa mobilnya bersama Kiara. Karena ia ingin semuanya berjalan seperti biasa. Ini bukanlah sebuah perpisahan, namun sebuah awal yang baru. Bagaimana bisa ia bersedih terus menerus, jika kekasih hatinya saja sudah lama menangis.


Kedua orangtuanya berada di mobil abangnya, Kiara berada di mobilnya. Setengah jam perjalanan terasa begitu cepat untuk Kiara, tangannya di genggam selalu oleh Kenzo, walau mereka kini sudah menginjakkan kaki di bandara.

__ADS_1


Jam penerbangan masih dua jam lagi, dan itu mereka lakukan untuk menunggu di sebuah restauran. Kenzo hanya memesan minuman, karena tadi pagi Kiara sudah menyuapinya masakan. Kenzo tak mau berjauh-jauhan dari Kiara, hingga sepanjang makan bersama saja, Kenzo terus melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


“Kenzo, nanti hubungi kami ya kalau kamu sudah sampai. ” ujar bu Kusumo lembut, Kenzo mengangguk sekilas.


“Iya mah.”

__ADS_1


Kiara menatap lurus tubuh Kenzo yang sudah berjalan jauh, suaminya hanya mengenakkan kaus hitam beserta jeans hitam dengan paduan sweater di luarnya. Kiara di rangkul oleh ibu mertuanya dari samping, ia mengusap perutnya refleks, ketika wajah Kenzo menoleh beberapa detik ke arah belakang.


Kiara memejamkan matanya, ia sudah ikhlas dengan keputusan Kenzo. Seharusnya sebagai istri, Kiara harus mendukung, bukan malah menolak. Kiara akan terus berdoa demi keselamatan Kenzo di sana, agar suaminya itu tetap bisa fokus dan cepat menyelesaikan segala pekerjaan dan pendidikan yang ada.


Di dalam mobil, Kiara hanya diam, yang menggantikan posisi Kenzo di kemudi adalah istri dari kakak iparnya, Aleaa. Sedangkan suaminya, menyupir di mobil satunya, yang terdapat ibu dan bapak Kusumo. Kiara melamun di sepanjanh perjalanan, ia melirik dashboard, mengingat lusa kemarin, saat Kenzo memberikannya sebuah gelato. Namun ia tolak, karena masih galau dan merajuk.

__ADS_1


Aleaa melepaskan sabuk pengamannya, ia mengguncangkan bahu Kiara pelan, membangunkan Kiara dari tidur lelapnya di dalam mobil. Ia sudah sampai di rumah, dengan berat hati Aleaa harus meninggalkan rumah mertuanya, karena ia dan Angga sudah memiliki rumah sendiri, sejak kelahiran anaknya.


“Yang sabar ya, Ki. Harus tetep kuat, nanti kaka bakalan sering-sering berkunjung ke sini ko. Kalo semisal abang engga sibuk. ” Kiara mengangguk sambil tersenyum lebar, baru beberapa hari kenal dengan Aleaa saja, sudah dapat membuatnya nyaman.


__ADS_2