PREGNANT BEFORE MARRIED

PREGNANT BEFORE MARRIED
episode 34


__ADS_3

...Author point of view....


Hari sudah berganti, keesokannya Kenzo langsung bertemu ibunya, untuk mengajak ibunya berbicara, tentang keberangkatan dirinya dan juga Kiara. Ngomong-ngomong, soal pak Kusumo, ayahnya itu mengizinkan Kenzo untuk membawa Kiara ikut bersamanya. Sekarang Kenzo sedang berada di ruang tamu, menunggu ibunya datang, bersama ayahnya yang duduk di samping posisinya.


Kenzo tak akan merasa takut lagi, untuk menolak perkataan sang ibu, karena permintaan dari Yuni, ibu Tinna, dirasa tidak pantas, Jika anaknya itu, ikut bersama Kenzo dan juga Kiara.


“Mah, Kenzo hanya pergi sama Kiara. Tidak dengan Tinna.” ujar Kenzo to the point, ketika ibunya baru duduk di hadapannya. Jarak mereka di pisahkan oleh meja yang berada di antara kedua sofa tersebut.


“Loh? Kok gitu sih? Kan Tinna butuh bantuan kamu, Kenzo. Dulu aja mamah sama papah sudah nitipin kamu ke tante Yuni, pas kita lagi kerja di luar kota.” jelas bu Kusumo menolak, Kenzo mendesis tak suka.

__ADS_1


“Hubungan Kenzo dan Tinna udah enggak lagi sama, mah. Mamah engga bisa maksain gitu. Balas budi apalagi sih? Apa enggak cukup, perjodohan yang di lakuin mamah sama papah waktu Kenzo ama Tinna masih kecil? Lagipula Kenzo juga udah punya istri, enggak pantas jadinya kalo kaya gitu.” balas Kenzo panjang lebar, pak Kusumo yang tadinya fokus pasa tablet, kini beralih menatap istrinya.


“Maksud kamu apaan sih? Ko jadi gini. Jelas-jelas mereka udah salah sama keluarga kita. Apalagi anaknya. Papah juga ga setuju kalo Tinna ikut sama Kenzo dan Kiara.” ucap pak Kusumo dengan nada protes, bu Kusumo mendelik, ia semakin terpojok saja jika seperti ini.


Akhirnya bu Kusumo pasrah dan mengalah, ia akan berbicara nanti pada Tinna, dan ibunya, kalau semisal mereka tidak bisa pergi bersama. Karena Kenzo sendiri menolak keras, serta papahnya juga. Bu Kusuno mendengus, akhirnya ia beranjak pergi dari ruang tamu, meninggalkan Kenzo serta pak Kusumo yang duduk diam kembali fokus terhadap tabletnya.


“Pa, makasih ya.” ujar Kenzo memecahkan keheningan di antara keduanya.


Sejak ia kecil pak Kusumo hanya fokus terhadap pekerjaannya, mengajak main Kenzo pun ia sangat jarang, bisa terhitung oleh jari setiap bulannya. Pak Kusumo sibuk mencari uang, karena pikirnya, uang adalah pondasi dari keutuhan suatu keluarga. Dan sampai saat ini, walau ia sendiri bisa tak bekerja sekalipun, karena sudah sukses sekali, tapi pak Kusumo masih bekerja, di umurnya yang menginjak 57 tahun ini.

__ADS_1


“Kenzo ke atas ya, pah.” tanpa mendengar jawaban sang ayah, Kenzo langsung berjalan ke atas, meninggalkan ruang tamu.


Tapi ada suatu hal yang membuatnya teringat, akan paket yang selalu ia kirimkan pada Kiara, tapi tak istrinya itu terima sama sekali. Kenzo langsung keluar, ia menutup pintu rumahnya kembali, dan menuruni tangga utama untuk menapakkan kakinya pada lantai halaman rumahnya.


“Eh Den Kenzo.” sapa satpam di pos yang berjaram beberapa meter dari halaman rumahnya yang luas.


“Di sini ada yang biasa nganterin paket kan?” tanya Kenzo tanpa ba-bi-bu, pak Jojo yang sudah berumur lanjut usia itu pun berusaha mengingat.


“Hah? Biasanya kalau paket kan selalu saya yang taruh, Den, tapi enggak ada kok.” jawab satpam Jojo itu jujur, Kenzo mengerutkan keningnya curiga.

__ADS_1


“Oke, Pak.” balas Kenzo datar, sebelum saat ia keluar dari pagar rumahnya, lalu mengendarai mobil sport miliknya, yang terparkir asal di depan rumahnya.


 


__ADS_2