
...Author point of view....
Air biru yang begitu indah, sangat memanjakan mata cantik Kiara di tengah-tengah pulau Maldevis hari ini. Bukan hari saat Kenzo tetap masih menggagahinya, namun sudah ke sebalas hari Kiara menetap di pulau ini. Sendirian. Tanpa siapapun di sampingnya.
Kenzo meninggalkan Kiara jelang dua hari ia menetap di pulau ini, Kiara hidup sendirian, tanpa menggunakan jaringan sosial yang dapat memanjakan kesendiriannya. Kenzo memang memberikan Kiara ponsel, namun hanya untuk menghubunginya saja.
Kiara melamun di pagi hari, jejaringan di samping pulau yang sekarang sedang ia tiduri, sangatlah aestetik dan juga nyaman. Kiara merasa menjadi orang kaya saja kalau begini. Walau sebenarnya ada banyak masalah dalam hidupnya yang bisa membawa Kiara ke tempat ini, sekarang.
“Kak Ken kapan ke sini sih... ” Kiara merengek pada dirinya sendiri, entah sadar atau tidak, Kenzo memang membuatnya bergantungan. Kiara tidak bisa jauh dari Kenzo.
Setiap malam Kenzo selalu menghubunginya, sekedar menanyakan kondisi dan hal-hal kecil lainnya. Sudah makan belum? Sudah mandi Kiara? Jangan lupa pakai selimut. Jangan makan yang instan ya.
__ADS_1
Selalu begitu.
Tak pernah tergantikan.
Pertanyaan Kenzo memang tidak beragam. Namun dapat membuat hati Kiara menjadi cenat-cenut di buatnya. Kiara mulai bosan, bosan menunggu keluarnya janin dari dalam perutnya. Sekejap ada bayangan kejam dalam otaknya, jika saja bayi ini nantinya tiada tanpa izin. Pasti akan benar-benar membuat Kenzo murka dan marah. Lalu mengusirnya jauh-jauh.
Segera Kiara menggelengkan wajahnya cepat, menghempaskan pikiran buruk itu untuk menjauh. Hari semakin sunyi, Kiara bagaikan manusia yang hidup di hutan belantaran. Tak memiliki siapa-siapa. Dan hanya sendirian.
Tap.
Tap.
__ADS_1
Tap.
“Ra... ” Kiara menoleh penuh semangat, sudah terdapat sesosok pria yang ia tunggu kedatangan sejak lama.
Kenzo tersenyum, ia langsung mengangkat tubuh Kiara dalam gendongannya. Kiara memeluk erat leher Kenzo, tanpa merasa asing lagi. Keduanya memang menjadi lebih dekat. Dari sebelumnya.
“Kak Ken... ” Kenzo mengusap pucuk rambut Kiara yang lembut, sesekali ia mengecupnya gemas karena saking harumnya.
Kiara menghembuskan nafas pelan, ia berjinjit di atas lantai berbahan dasar kayu yang tampak tua, namun gagah sekali. Kenzo menjilat pipi Kiara sekilas, membuat Kiara tertawa manjab karena kegelian.
“Sekarang waktunya saya nemenin kamu. ” Kiara mengangguk semangat, Kenzo menuntun Kiara masuk ke dalam kamar vvip di tengah pulau maldevies.
__ADS_1