
...Author point of view....
Sampai di Jepang, Kenzo langsung membawa Kiara menuju apartemennya. Kiara termangu, melihat besarnya apartment yang seperti bukan apartment. Terlalu luas, dan modern, hingga membuat siapa pun pasti betah menetap di sana.
Kiara meletakkan Anaya di atas kasur, putrinya tidak tertidur, melainkan sudah terbangun, yang membuat Kenzo senang, Anaya tidak rewel saat di bawa berpergian, dan juga tidak meminta susu' ibunya. Yang bisa membuat Kenzo cemburu bukan main, jika tadi Anaya benar-benar meminta asi ibunya di pesawat.
“Ra, tidur ya. Aku mau ketemu klien dulu di luar.” ujar Kenzo saat setelah Kiara selesai membenahi pakaiannya.
“Hah? Ko ka Kenzo langsung kerja?” tanya Kiara tak rela, Kenzo menarik kepala Kiara, lalu ia kecup kening istrinya.
“Sebentar, nanti juga langsung ke kamar lagi. Kamu tidur duluan ya.” Kiara mengangguk, ia menatap dan tidur di samping Anaya.
Anaya sangat lah cantik, wajahnya putih bersih agak kemerahan, lalu pipinya bulat seperti matanya yang bewarna coklat karamel. Bulu mata balitanya panjang dan lentik, juga alisnya yang sudah terlihat padahal baru berumur beberapa hari.
“Nanti kalau laper bilang mamah ya, mamah ngantuk.” ucap Kiara sambil tertidur di samping Anaya.
__ADS_1
“Kamu jangan bandel, di sini aja diem.” lanjut Kiara seolah Anaya sudah dapat berjalan, Anaya hanya menggerakkan bibirnya, sedikit mengeluarkan suara yang tak dapat di mengerti orang dewasa.
“Hoaamm.” Kiara menguap ngantuk, ia tertidur di tengah ranjang berukuran king size, bersama dengan Anaya di sampingnya. Yang lamban laun mulai msmejamkan mata, menyusul ibunya.
Cklek.
Di ambang pintu, Kenzo tersenyum, ia sengaja bilang bahwa ada tugas di luar, karena ingin membuat Kiara tertidur cepat. Kenzo tahu, jika ia masih terbangun, Kiara juga enggan untuk tertidur seperti sekarang ini.
Kenzo melirik ponselnya, ia memang harus pergi segera, tapi tak jadi, karena lebih memilih untuk memperhatikan Kiara dan Anaya yang sedang tertidur di atas ranjang, sedangkan dirinya duduk bersandar dengan nyaman di atas sofa.
Malam telah tiba, perlahan kedua kelopak mata Kiara terbuka, ia menyeringit polos, melihat sang suami yang sedang tertidur miring di atas sofa.
Kiara merekatkan kedua tangannya pada seprei, meremas seprei lembut, guna menjadi penopang akan tubuhnya yang ingin bangun dari ranjang.
Kiara melangkah mendekat menuju Kenzo, Kenzo masih memejamkan matanya rapat. Kiara duduk di samping tubuh Kenzo yang memunggunginya.
__ADS_1
“Kak.” panggil Kiara pelan, Kenzo tak menjawab, membuat Kiara kembali memanggil namanya.
“Kaak.” rengek Kiara merajuk, Kenzo memutar tubuhnya perlahan, tapi matanya masih tetap terpejam.
Tak memperdulikan panggilan istrinya, Kenzo tak menghiraukan Kiara sama sekali, membuat Kiara kesal, dan merentakkan tubuhnya bnagun dari kursi. Namun baru ingin melangkah menjauh, justru Kenzo menariknya, membuat tubuh Kiara yang tak siap, menjadi terhuyung.
“Akhh.” seru Kiara, Kenzo memeluk punggung Kiara erat, jika awalnya Kiata terbaring risau di samping sofa yang hanya muat satu badan, kini ia terduduk di bawah perut Kenzo.
“Sayang, ” panggil Kenzo menggoda, Kiara mengalihkan pandangannya, agar tak menatap Kenzo yang melemparkan tatapan jahil.
“Masih lama ya, baru boleh masuk'.” ujar Kenzo seperti sebuah pernyataan, Kiara mengangguk, ia mengerti apa maksud perkataan dari Kenzo.
“Lagian masih dua bulan lagi, Papah. Nggak sabaran banget ih.” rengek Kiara sebal, Kenzo terkekeh di buatnya, “Jangan ketawa, nggak lucu tahu.” sewot Kiara merajuk.
...Selesai....
__ADS_1