
Kenzo terduduk lemas di hadapan Kiara, ia berlutut sambil berusaha mendekati Kiara yang masih bersandar pasrah di balik pintu, saat setelah tangannya terulur, Kenzo kembali menariknya lagi, ia merasa merinding saat tangisan Kiara masih sesegukan.
“Hiks... ”
Kenzo sudah tidak tahan lagi, segera ia tarik kedua sisi kepala Kiara, ia peluk punggung Kiara penuh kecemasan. Posisinya yang tadi berlutut, kini sudah berdiri sambil menggendong Kiara ala bridal. Kiara tidak mencoba brontak lagi, tenaganya sudah terlalu lelah.
“Jangan menangis Kiara. Jangan. ” desah Kenzo berusaha menghentikkan isakan tangis Kiara, saat setelah posisi mereka sudah berada di atas ranjang.
Kenzo meletakkan tubuh Kiara masih dalam posisi terduduk, sedangkan dirinya sudah beralih mendekap Kiara dari samping, kedua kaki Kenzo masih menapak di atas lantai.
“Kak Kenzo tidak akan me-menyakiti... hiks. ” belum selesai berucap, Kiara kembali terisak lagi. Kedua bahunya terguncang lembut, karena isakannya.
Kenzo tidak ingin marah, ia memaklumi tangisan gugu Kiara yang tidak mau berhenti. Tapi anehnya, Kiara justru kini membalas pelukannya, gadis kecil itu semakin merapatkan tubuhnya pada dada bidang Kenzo, kedua tangannya meremas kaos Kenzo pada bagian kerah.
Perlahan Kenzo mulai mengusap pucuk kepala Kiara, kakinya yang masih menjuntai di atas lantai, kini mulai naik berada di atas ranjang. Ia memiringkan tubuhnya, lalu beralih membaringkan Kiara yang meringkuk dalam dekapannya.
“Kak- ” Kiara mau kembali was-was, namun dengan cepat Kenzo langsung menggeleng berusaha menenangkan Kiara.
“Sstt. ” bisik Kenzo lirih.
Saat setelah keduanya terbaring saling berhadapan, dada mereka saling menempel begitu erat, namun tidak ada nafsu yang membangkitkan Kenzo sama sekali. Justru rasa ingin melindungi itu, ada.
“Kak Zo... ” Kiara mendongak, kepalanya bersandar pada lengan Kenzo yang tidak terlalu memiliki otot, namun keras dan kencang.
“Apa. ” tidak ada nada pertanyaan, Kenzo membalas tatapan Kiara dingin, se-dingin ucapannya barusan.
Menunggu jawaban dari Kiara yang tak kunjung membuka suara kembali, Kenzo menunduk memastikan. Tanpa sadar, sudut bibirnya tertarik kecil, melihat Kiara yang ternyata sudah tertidur dalam dekapannya.
__ADS_1
Kenzo masih terus merenung dengan apa yang sudah ia lakukan. Memaksa Kiara untuk melakukan itu, hanya untuk membuktikan perkataan yang Tinna lontarkan, tidaklah benar.
“Kiara Abraham.” Ujar Kenzo begitu apik, dan maskulin.
Suaranya berat, serak, dan basah. Rahangnya yang tegas, matanya yang tajam, hidungnya yang mancung, dan kedua alis tebalnya. Membuat dirinya jauh berbeda dari manusia-manusia lokal yang berada di negaranya.
Kenzo melirik jam dinding yang terus berputar, andai jam dinding bisa di atur ulang sesuai keinginannya. Pasti Kenzo akan memilih untuk memutarnya mundur, dan menarik kembali hal yang sudah ia lakukan bersama Kiara.
“Mmhh.” Kenzo refleks menjadi diam tak bergerak, ternyata usapan telapak tangannya pada surai rambut Kiara, membuat gadis itu terusik.
Sekitaran 15 menit, Kiara mulai benar-benar terjatuh lelap dalam tidurnya. Kesempatan itu dilakukan Kenzo, untuk keluar dari dalam kamar. Ia menarik tangannya, menggantikkannya dengan bantal kasur yang empuk.
Setelah itu, Kenzo langsung keluar dari dalam kamar, tak lupa ia kunci pintu kamarnya dari luar, agar Kiara tidak dapat kabur.
Kenzo Kusumo.
Kenzo menuruni tangga mansion milik kedua orangtuanya, ia sedikit terkejut saat mendapati kakak laki-lakinya, ternyata sedang berada di ruang keluarga, berkumpul bersama ayah dan ibunya.
“Halo bang. ” sapa Kenzo sambi ber highfive ria bersama Angga.
“Hai dik. ” balas Angga ramah, Kenzo duduk di samping abangnya itu, sedangkan kedua orangtuanya berada di hadapan mereka.
Kenzo menyeringit heran, saat mendapatkan tatapan tajam yang terlempar untuknya.“Kenapa ma? ” tanya Kenzo menaikkan satu alisnya bingung, ia menoleh menatap abangnya juga, namun Angga hanya terdiam.
Di tengah keheningan itu, ia mendengar helaan nafas keluar dari sang ayah. Kenzo mengerutkan keningnya, ia merasa ada yang tidak beres sekarang, suasana sangat hening.
“Tinna mengundurkan pernikahan kalian. Ia ingin kau dengannya, menikah tiga tahun kedepan. ”
__ADS_1
Nafas Kenzo tercekat, ia tidak menyangka dengan keputusan yang di ambil Tinna. Jika tidak ingat ada keluarganya, mungkin Kenzo akan menghancurkan kaca meja sekarang juga. Namun yang ia lakukan, hanya menghela nafas.
“Hubungan kalian baik-baik saja kan? ” tanya Bu Kusumo, khawatir. Kenzo ingin mengangguk cepat, tapi yang dilakukan kepalanya, adalah sebuah gelengan.
“Baik Ma... Engga perlu khawatir, ini emang keputusan kita berdua. ” ujar Kenzo berusaha menenangkan kerisauan hati kedua orangtuanya.
Kedua orang tua Kenzo pun bangkit, lalu berlalu pergi meninggalkan Kenzo dan Angga yang masih termangu disana.
“Kalian pasti sedang bertengkar. ”
“Tidak ada perempuan yang ingin mengundurkan hari pernikahannya. ”
Ujar Angga datar, Kenzo meneguk ludahnya kasar, ia mengacak rambutnya frustasi, sepertinya Kenzo tidak bisa membohongi abangnya.
“Kalau kamu merasa perlu bantuan, hubugi abang saja. Jangan pernah sungkan. Abang memang tidak tinggal lagi disini, tapi abang tetaplah abangmu. ” lanjut Angga membuat perasaan Kenzo tenang seketika.
Kenzo tersenyum tipis, ia sangat haru mendengar abangnya yang begitu sangat perhatian. Kenzo mengangguk meyakinkan, ia memang tidak mengatakan yang sejujurnya, tapi setidaknya ia masih memiliki orang yang bisa menjadi tempat curahan hatinya.
“Oh ya, abang ingin menjemput istri abang dulu, setelah itu kita berenang bersama oke? ” tawar Angga sambil beranjak bangun.
Kenzo mengangguk, “Jangan lupa bawa Zafran ya bang. ” kekeh Kenzo juga berdiri dari duduknya. Angga mengangguk mantap.
Setelah itu Angga pun juga beranjak pergi. Kenzo menunduk lagi, ia mengatupkan kedua belah bibirnya kesal. Tatapannya memincing, dan menajam, seolah ingin membunuh orang yang telah mempora-porandakkan hubungannya.
“Tinna. ” geram Kenzo lirih penuh penekanan, ia merasa di permainkan dan di sudutkan sekarang.
Kenzo langsung berlari menuju kamarnya lagi, untuk mencari pelampiasan. Langkah kakinya membawa Kenzo begitu cepat, ia menutup knop pintu saat setelah menguncinya kembali, namun kali ini dari dalam.
__ADS_1
Senyum licik berkembang di bibirnya, ia berjalan menuju ranjang, masih ada Kiara yang tertidur pulas disana. Tangannya berkerja melepaskan kaus yang ia pakai sendiri.
Kaus itu melayang, saat Kenzo melemparnya asal. Ia bertekad untuk melakukannya lagi. Ia akan membuktikan bahwa yang di katakan Tinna tidaklah benar. Kenzo akan membuat Kiara hamil, dan menjadikkan alasan itu, supaya Tinna ingin menikahinya sesegera mungkin.