PREGNANT BEFORE MARRIED

PREGNANT BEFORE MARRIED
episode 15


__ADS_3

...Author point of view....


Kenzo membawa Kiara ke rumah kecil yang ia dapatkan dari meng kontak temannya. Raut wajahnya sedikit memerah karena malu, telah membawa Kiara untuk melihat rumah yang sangat sederhana menurutnya.


“Kak Zoo... Asri banget lingkungannya.. Nanti Kiara mau nanem tanaman bunga di sana ya.. ” mata Kiara berbinar, tangannya menunjuk halaman kecil yang berada di depan rumah ber pagar kayu tersebut.


“Terus nanti Kiara bakalan nyiramin mereka setiap pagi. Pasti bakalan indah. ” pekik Kiara girang, mengayunkan tangannya yang di genggam oleh Kenzo, seperti anak kecil.


“Kak Zo.... Kak Zoo engga suka ya? ” wajah Kiara menunduk dalam, melihat mimik wajah Kenzo yang datar dan seperti jijik melihat rumah di hadapan mereka.

__ADS_1


Kiara menggigit bibir dalamnya bagian bawah. Menahan rasa sesak akibat dirinya yang melupakan fakta, bahwa Kenzo bisa seperti ini, karena dirinya. Perlahan genggaman Kiara mulai melemas, Kiara tak lagi membalas genggaman tangan Kenzo.


Kenzo buru-buru menoleh cepat, ia langsung memegang kedua pundak Kiara lalu mengguncangkannya. Kenzo terlalu terhalau oleh rasa cemas, cemas bahwa Kiara dan anaknya tak akan nyaman tinggal di sini. Selagi dirinya berusaha menyesuaikan isi ATM lewat kebutuhan mereka kedepannya.


...eps seterusnya hanya sampai 500 kata. part lengkap ( bisa di baca di a*plikasi Hi- novel )...


“Kakak suka, Kiara. Nanti kakak beliin bibitnya? Tapi kamu harus masuk dulu, terus kita makan. Makannya delivery aja ya? ” setelah bersedih hati, mata Kiara langsung berbinar senang. Ia mengangguk antusias.


Sedikit melangkah ke bagian dalam, terdapat satu dapur. Sedangkan pintu kamar, berada di pojok ruang utama. Rumah ini memang kecil, namun sangat bersih dan tertata rapih, walau sebagian besar memang di dominasi kekosongan.

__ADS_1


“Nanti Kiara sapuin ya kak, biar debu-debunya pada hilang. Terus nanti Kak Zoo mau ngapain? Kak Zoo istirahat aja ya, tadi kan udah nyetir lama. ” gumam Kiara melangkah menyusuri seisi ruangan dengan mata yang berbinar polos.


Tanpa sadar sudut bibir Kenzo tertarik membentuk sebuah senyuman, terkagum-kagum akan sikap lembut Kiara yang memang sangat alami. Kiara bagaikan kertas putih untuknya, lalu dirinya sebagai tinta hitam yang telah mempora-porandakkan kertas tersebut.


“Ra...” Kiara langsung menatap Kenzo, Kenzo melangkah mendekati Kiara, tubuh keduanya saling berhadapan sekarang.


“Terimakasih.” desah Kenzo jujur, Kiara yang mendengar hal itu pun tercengang, buru-buru Kenzo taruh satu jari telunjuknya di depan bibir Kiara.


“Kamu adalah cahaya kehidupan untuk aku. Kamu yang udah nyinarin kehampaan dalam hidup aku. Semua kesalahan yang aku udah perbuat, kamu maafkan dengan begitu tulus. Aku mencintai kamu dengan segenap hati aku. Jangan pernah pergi dari aku, Ra. Selamanya kita akan tetap bersama. ”

__ADS_1


Bahu Kiara terguncang, bukan karena tangisan. Namun karena Kenzo yang langsung menariknya ke dalam pelukan dengan cepat. Kenzo memeluk punggung Kiara erat, ia jatuhkan keningnya pada leher Kiara. Kiara mematung diam, mendengar isakan yang keluar dari bibir Kenzo. Ia terlalu kaget, mendengar tangisan yang keluar dari bibir sesosok pria paling keras kepala dalam hidupnya.


“Kak Zoo jangan nangis...” bukannya berhenti, bahu Kiara semakin bergetar karena tangisan Kenzo.


__ADS_2