
Dear Kenzo,
Cinta itu ke ikhlas an bukan pemaksaan, atau pelampiasan. Aku sudah terbiasa bersamamu, di kapan pun waktu yang bergulir. Menjadi istrimu dalam hitungan detik, terus berlanjut seiringnya hari. Mengandung anakmu tidak pernah sama sekali terpikirkan dalam hidupku. Aku hanya seorang pelayan kecil, yang mengharapkan kasih sayang kedua orangtua. Tapi sepertinya tuhan mengirimmu untuk menjadi keduanya sekaligus, mengisi hari-hari dalam hidupku.
Tidak terasa, tinggal bertahun-tahun bersamamu dalam ruang lingkup yang sama, dapat membuat kita terikat dalam ikatan suci satu sama lain. Aku terus memikirkan mu, saat di mana untuk malam pertama yang tak di inginkan waktu itu. Lalu saat kita bermain di rumah sederhana yang jauh dari kata layak dalam hidupmu. Kamu pernah berjanji ingin membelikan ku sebuah buku diary. Tapi sepertinya kamu lupa akan hal itu. Dan dengan inisiatif diriku sendiri, aku mengambil satu buah buku kosong ber cover kulit, di dalam lacimu.
Ini adalah halaman pertama tulisanku kak. Aku sedang menunggumu pulang kerja sekarang. Tumben sekali kamu tidak menghubungiku hari ini. Padahal jam sudah lewat setengah dua belas. Tapi aku tetap setia menunggumu datang. Memasuki kamar, lalu mengucapkan salam. Di sertai oleh kecupan lembut, dalam keningku.
^^^Kiara Abraham.^^^
__ADS_1
^^^22 juni 2020^^^
_________
Kiara meletakkan pulpen itu kembali, ia menghembuskan nafasnya pasrah, ia usap permukaan perutnya yang masih saja datar. Kiara berjalan melewati pintu, tepat sekali saat tapakan kakinya menapak di depan pintu utama. Terdengat bunyi engsel yang di putar.
“Kak Kenzo..” Kiara memeluk suaminya erat, entah kenapa rasa kerinduannya terhadap Kenzo seperti tidak biasa.
“Ehm.” Kenzo serta Kiara langsung melepaskan pelukan itu, ternyata ibu dari Kiara yang belum sepenuhnya menerima hubungan mereka, sedang berada di ambang pembatas antara ruang utama dan ruang tamu.
__ADS_1
“Ibu. ” Kiara sudah menemui ibunya tadi siang, dan untung saja ibunya sudah bersikap lebih lembut, tidak seperti awal mereka tahu bahwa ia hamil anak Kenzo.
Kenzo tersenyum, walau tak di balas senyuman hangat oleh ibu mertuanya. Ibu Kiara masih menjadi pelayan, itu karena keputusannya sendiri, untuk tetap pada posisinya. Walau padahal sang anak sudah resmi menjadi nyonya di rumah ini.
“Mau saya siapkan teh, tuan? ” Kenzo menggeleng, ia menghela nafas gusar, masih terlihat diam dan cuek, ibu dari Kiara pun melenggang pergi, setelah tidak ada respon dari keduanya lagi.
Tangan Kiara di genggam oleh Kenzo, Kenzo menaiki tangga dengan jantung yang berdebar. Ia membuka pintu kamar, lalu menguncinya dari dalam. Kiara menundukkan wajahnya, berniat ingin melepaskan sepatu yang Kenzo kenakan.
“Tidak Kiara, kamu istriku, bukan pembantuku. Jangan bersikap seperti ini lagi. ” Kiara menggeleng tidak setuju, ia hanya ingin menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.
__ADS_1
“Apaan sih ka, Kiara kan istri kak Kenzo, wajar dong kaya gini. ” akhirnya Kenzo membiarkan saja Kiara pada pendiriannya, Kenzo duduk di pingging ranjang, melihat Kiara yang menyiapkan piyama satin dari lemari.