
Setelah membersihkan dirinya Nathanael keluar dari kamar menuju dapur mini. Nathanael mengambil panci kecil diberi air menaruhnya di atas kompor lalu menyalakannya. Setelah air mendidih ia mematikan kompor, mengambil cangkir menaruh dua sendok makan bubuk hitam dan memberi satu sendok teh gula. Lalu menuangkan air panas ke dalam cangkir mengaduknya sebentar. Nathanael menarik kursi di meja makan yang terhubung dengan dapur mini lalu duduk sambil menikmati secangkir kopi hitam buatannya sendiri.
Tak lama kemudian Leo menggerakkan badannya dan duduk menyandar di sandaran sofa. Mengumpulkan kesadarannya tak lama kemudian terdengar ketukan dari pintu.
Tok tok tok.
Siapa pagi-pagi begini datang bertamu, gerutu Leo sambil bangkit membukakan pintu buat tamu yang tak diundang itu.
" Huh, ternyata kau orangnya mengganggu saja " Leo berlalu begitu saja tanpa menyilakan tamunya masuk.
Orang yang datang adalah Dave.
" Kalian di sini rupanya " Dave berjalan ke arah Nathanael dan duduk berhadapan dengan bosnya.
Leo tak menanggapi dia melangkah ke kamar mandi di sebelah dapur mini untuk mencuci muka lalu keluar menuju dapur membuat teh hangat.
" Buatkan satu ya Leo " Dave.
" Cih di sini bukan kedai " sahut Leo.
Namun tetap saja Leo membuatkan Dave teh hangat. Leo membawa dua gelas teh hangat itu ke meja dan menyodorkan satu gelas teh itu pada Dave.
" Gimana Dave? " Nathanael.
" Beres bos. Untung saja aku punya kenalan orang dalam jadi berita itu tidak sampai menyebar di luaran " Dave mengambil teh dan menyesapnya.
" Maksudmu " Leo.
" Mereka berencana menyebarkannya pagi ini lewat surat kabar lokal. Yang di medsos juga sudah beres tapi yang punya kopiannya dan menyebarkannya aku belum menemukan orang itu. Dan untuk si bos dan kau Leo sementara jangan berduaan begini " terang Dave.
" Hei Dave ... " sebelum melanjutkan kata-katanya Dave memotong ucapan Leo.
" Lihat ini " Dave menunjukkan ponselnya pada Leo.
Di layar itu bosnya dan Leo pergi berdua tadi malam dan beritanya sudah menyebar di medsos.
' Apa-apaan ini " Leo melempar ponsel Dave setelah membaca komentar dibawahnya yang membuat darahnya mendidih.
Dave mengambil ponselnya yang dilempar oleh Leo.
" Aku belum bisa membeli yang baru kenapa kau merusaknya " gerutu Dave.
" Nih lihat masih utuh kan " timpal Leo mengambil ponsel dari tangan Dave.
Nathanael hanya menggelengkan kepalanya melihat dua orang itu bila bertemu selalu saja membuat heboh suasana.
" Ada lagi bos " Dave memberikan ponselnya pada Nathanael.
Nathanael menatap tak percaya berita mengenai dirinya.
" Apa-apaan ini " Nathanael marah bercampur geram.
Bisa-bisanya ada orang mengambil gambarnya dengan orang lain yang sedang berangkulan. Dan di situ menyebutnya sebagai pria penyuka sesama jenis. Ada banyak komentar pedas di bawahnya yang membuat rahangnya mengeras karena menahan marah.
Nathanael melempar ponsel Dave ke atas meja. Untung saja Dave segera menangkap ponselnya sehingga selamat dan memasukkan ke saku bajunya.
__ADS_1
" Haduh bos, jangan main lempar ponsel dong " Nathanael melirik tajam ke arah Dave.
Dave nyengir sambil mengusap tengkuknya.
" Sudah sejauh mana berita ini menyebar " tanya Nathanael.
" Belum terlalu jauh tapi ini menggemparkan " jawab Dave.
" Gimana dengan papa " tanya Nathanael.
" Tuan Alexander sudah bertindak dan berita itu sudah lenyap lima belas menit yang lalu " jawab Dave.
" Apa ini ulah Antoni " tanya Leo.
" Ku rasa bukan dia " Dave menyesap tehnya.
" Lalu siapa " Leo menatap Dave dan Nathanael bergantian.
Nathanael mengusap wajahnya kasar. Dia berpikir siapa yang melakukan ini pada dirinya. Sejauh ini ia tidak punya musuh hanya Antoni yang memang sejak dulu tidak suka padanya.
" Entahlah aku sendiri tidak tahu " Nathanael mengangkat bahunya.
Menandakan bahwa pria bertinggi 170 cm tidak tahu siapa yang membencinya.
" Mungkin bos nggak punya tapi orang itu menganggap bos musuhnya " Leo.
" Tepat sekali " Dave menjentikkan jarinya.
" Hah kau ini mengagetkan saja " Leo mengelus dadanya. " Belum ada setengah hari bersama kamu bisa jantungan aku " sungut Leo.
" Kau pergi ke restoran bersama Dave, aku ada urusan sebentar " Nathanael.
" Bos ... " Nathanael menghentikan langkahnya.
" Sudah ku transfer ke rekening mu, o ya jangan lupa kunci pintunya " Nathanael melangkah keluar lalu masuk ke mobilnya.
Mobil meluncur di jalanan yang mulai dipadati oleh kendaraan. Nathanael memilih menemui ibunya yang beberapa hari belum bertemu sejak keluar dari rumah sakit. Dalam keadaan pikirannya yang kusut ia memilih menemui ibu Ratih. Dengan begitu hatinya bisa kembali menghangat. Mobil yang dikendarai Nathanael berhenti di depan sebuah rusun pinggir kota.
Nathanael berjalan memasuki rusun dan menaiki tangga. Sebagian penghuni rusun sudah mengenal Nathanael sebagai anak bu Ratih. Mereka berbincang sebentar dengan pria berwajah tampan itu. Lalu pria bertinggi badan 170 cm itu melanjutkan langkahnya menaiki tangga kedua. Sesekali menyapa orang yang dijumpai di sana meski tidak kenal. Sampailah Nathanael di tangga ketiga lalu melangkah menuju tempat tinggal ibunya. Nathanael mengetuk pintu setelah beberapa saat menunggu akhirnya pintu dibuka dari dalam.
" Kakak, bu kakak datang " teriak Vivi.
" Siapa yang datang " sahut suara dari dalam rumah.
" Kakak bu eh silakan masuk kak " Vivi menggeser tubuhnya menyilakan Nathanael masuk.
" Mama " Nathanael menghampiri wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik itu.
Nathanael memeluk ibu Ratih melepaskan kerinduan dan beban hidupnya yang beberapa hari ini menerpa dirinya. Pria jangkung itu menuntun bu Ratih untuk duduk di kursi plastik dan dia sendiri duduk bersila di sebelahnya.
" Vivi ambilkan kakakmu minum " bu Ratih.
" Ya bu " Vivi.
Vivi berlalu pergi ke dapur sederhana dan membuatkan teh hangat untuk kakaknya. Nathanael melihat sekeliling tempat tinggal ibunya yang teramat sangat sederhana ini. Lalu beralih menatap wanita paruh baya yang wajahnya mirip dengannya itu.
__ADS_1
" Gimana kabar mama " menggenggam tangan bu Ratih.
" Sehat, gimana denganmu, nak " bu Ratih mengelus rambut pria tampan di sampingnya.
" Aku baik-baik saja ma, apakah mama masih bekerja " Nathanael.
" Ibu sudah tidak bekerja lagi Vivi yang melarangnya nak " bu Ratih.
Nathanael menoleh ke arah adiknya.
" Kenapa belum berangkat " Nathanael.
" Aku shift siang kak " Vivi.
Vivi menaruh gelas berisi teh hangat di meja kecil di sebelah tv. Dia sendiri duduk bersila di karpet menyalakan tv sambil menyimak pembicaraan ibu dan kakaknya.
" Apa ibu sudah sarapan " Nathanael.
" Sudah tadi " bu Ratih.
" Apa " Nathanael.
" Mi instan " Vivi yang menjawab.
" Itu tidak baik buat kesehatan mama, maaf tadi buru-buru ke sini jadi tidak sempat bawa makanan " Nathanael.
Nathanael mengeluarkan ponselnya lalu mengetik sesuatu. Setelah mendapat balasan Nathanael memasukkan kembali ponselnya ke saku bajunya.
" Mama mau ya tinggal di rumahku " Nathanael.
Bu Ratih menatap sendu pada pria jangkung di sebelahnya lalu menggeleng pelan.
" Kenapa ma, itu rumahku sendiri bukan rumah papa. Aku setiap hari bisa bertemu mama dan Vivi bisa bekerja di tempatku " Nathanael.
" Tidak nak, ibu senang dengan kehidupan ibu yang sekarang apalagi melihatmu baik-baik saja ibu bahagia " bu Ratih mengusap lembut rambut Nathanael.
" Tapi ma ... " belum sempat Nathanael melanjutkan ucapannya.
" Tidak usah terlalu dipikirkan yang penting sekarang ibu bisa bertemu denganmu kalau kangen kau bisa datang menemui ibu kapan saja " bu Ratih menggenggam tangan anaknya.
" Mama .. " Nathanael memeluk pinggang bu ratih.
Nathanael menangis haru di pangkuan bu Ratih begitu juga dengan bu Ratih mengusap air matanya agar tidak terlihat oleh Nathanael. Vivi yang melihat pemandangan itu ikut larut dalam haru matanya berkaca-kaca. Sesaat suasana di tempat itu hening hingga sebuah ketukan di pintu membuyarkan ketiganya.
Vivi bangkit lalu membuka pintu melihat siapa yang datang. Di sana ada pegawai Nathanael yang biasa mengantar makanan ke tempat bu Ratih. Nathanael menyuruh pegawainya masuk ke dalam dan menata makanan itu di atas karpet dibantu Vivi. Setelah selesai pegawai Nathanael pamit pulang.
Nathanael, bu Ratih, Vivi menyantap makanan yang ada di atas karpet. Vivi mengambil minuman buat ibunya dan dirinya sendiri. Selesai makan Nathanael dan bu Ratih berbincang ringan sementara Vivi menaruh makanan yang masih tersisa banyak di dapur. Menaruh piring dan gelas kotor ke ember lalu mencucinya. Menaruh kembali piring dan gelas bersih ke rak piring plastik.
Setelah cukup lama berbincang dengan ibunya, Nathanael merasa lega. Pria tampan itu lalu pamit pulang. Nathanael mengambil dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang berwarna merah kepada ibunya dengan sedikit memaksa. Akhirnya bu Ratih mau menerima uang pemberian anaknya.
********************
Judul yang baru Pria Patah Hati.
Jangan lupa like, komen dan vote nya.
__ADS_1
Terimakasih.