
Nathanael melangkah menuju ruang operasi lalu duduk bersandar di sandaran kursi di depan ruang operasi. Memindai kejadian beberapa saat yang lalu melihat sosok cantik yang telah lama tidak bertemu. Sosok cantik yang ia rindukan selama ini tapi jauh dari jangkauan dirinya.
Tangan ini yang mendekapnya tangan ini juga yang menolongnya dan membawanya ke rumah sakit lagi. Huff ! Nathanael menghela nafas perlahan. Ya, mungkin aku ditakdirkan hanya untuk menjadi sahabatmu. Nathanael kembali mendesah panjang menghilangkan sesak di dadanya. Saat Nathanael bergelut dengan pikirannya seseorang membuyarkan lamunannya.
" Maaf pak apakah anda keluarga pasien " tanya seorang perawat yang keluar dari ruang operasi.
" Ya, sus ada apa " Nathanael bangkit berdiri.
" Apakah ada yang memiliki golongan darah 0, karena pasien membutuhkannya secepatnya " kata perawat itu.
" Golongan darah saya 0 ambil darah saya saja sus " kata Nathanael.
" Baiklah mari ikut saya " kata perawat itu.
Sementara itu setelah mendapat telpon dari sepupunya Daniel menelpon sahabatnya. Daniel bersama Maria langsung ke rumah sakit dan menunggu di depan ruang operasi setelah lebih dulu bertanya pada resepsionis.
Beberapa saat kemudian pintu ruang operasi terbuka dari dalam. Steve keluar dari ruangan itu dan berjalan mendekat ke arah Daniel.
Setelah berbasa-basi sebentar Steve menanyakan keluarga pasien. Daniel mengatakan mereka masih dalam perjalanan. Daniel pun menanyakan tentang Shasha dan bayinya.
" Bayinya perempuan dan ibunya masih di ruang pemulihan " kata Steve.
" Apakah kami bisa melihatnya " tanya Daniel.
" Tunggu sampai pasien dipindah ke ruang perawatan. Permisi kak " kata Steve.
Daniel mengangguk.
Steve melangkah menuju ruangan dimana Nathanael sedang istirahat memulihkan tenaganya. Steve melihat sahabatnya itu sedang duduk bersandar di sofa.
Steve mendekat dan berbincang dengan sahabatnya itu. Steve melihat makanan yang masih utuh di atas meja. Steve mengambil nampan itu lalu diberikan pada Nathanael tapi Nathanael menolak. Steve mengambil segelas susu lalu disodorkan ke sahabatnya itu.
Nathanael menerima dan meminumnya. Steve duduk di sebelah sahabatnya. Nathanael menoleh ke arah dokter muda itu.
" Ada apa Steve " Nathanael.
" Kenapa kau merepotkan dirimu dengan wanita itu " tanya Steve.
" Dia dan temannya ada di restoran ku saat kejadian itu " jawab Nathanael.
" Di mana suaminya " Steve.
Nathanael mengangkat bahunya tanda dia tidak tahu.
Steve melihat sahabatnya itu meminta penjelasan. Nathanael melirik sekilas lalu menatap ke depan. Seolah tahu apa dipikirkan oleh sahabatnya Nathanael pun bersuara.
" Tidak perlu khawatir aku sudah merelakannya " jawab Nathanael.
" Baguslah kalau kau tahu itu " kata Steve.
" Gimana dengan bayinya " tanya Nathanael.
" Bayinya perempuan dan sehat tapi ada di inkubator karena belum cukup umur " Steve melihat jam di pergelangan tangannya lalu bangkit berdiri.
" Ingat dia sudah punya suami " Nathanael hanya diam.
Entah apa yang dipikirkan pria tampan itu. Yang pasti sebagai sahabat Steve akan selalu mengingatkan sahabatnya itu.
" Sebentar lagi waktunya memeriksa pasien " Steve melangkah pergi.
__ADS_1
Saat hendak memegang handle pintu Steve menghentikan langkahnya. Steve berbalik dan memberitahu sahabatnya.
" Oh ya aku tadi bertemu sepupumu bersama seorang wanita " kata Steve melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan itu.
Nathanael tidak menanggapi ucapan Steve, ia juga belum bertemu dengan sepupunya. Nathanael melihat makanan yang masih utuh di atas meja. Pria tampan itu mengambil makanannya yang sudah dingin lalu menyantapnya. Selesai makan Nathanael mengambil air mineral dan meneguknya.
Setelah dirasa cukup beristirahat Nathanael keluar dari ruangan. Nathanael berjalan pelan menuju ruang rawat Shasha. Ia juga ingin menemui sepupunya karena sudah lama tidak bertemu.
Daniel dan Maria baru keluar dari ruang rawat Shasha. Dari jauh Daniel melihat sepupunya lalu mengajak Maria mendekat ke arah Nathanael. Daniel berbincang sebentar dengan sepupunya. Lalu mengenalkan Maria pada sepupunya itu. Setelah cukup lama berbicara dengan sepupunya Daniel pamit karena ada keperluan lain. Setelah sepupunya pergi, Nathanael masuk ke ruang rawat Shasha.
Di sana ada Steve dan seorang perawat yang sedang memeriksa Shasha. Nathanael mendekati ranjang pasien dan duduk di kursi kosong.
Steve hanya melirik saja pada sahabatnya. Selesai memeriksa pasien Steve menyuruh perawat yang bersamanya pergi lebih dulu.
" Harusnya kau pulang dan istirahat " Nathanael melirik sekilas.
Pria tampan itu memilih mengamati wajah pucat Shasha.
Steve menghela nafasnya melihat tingkah sahabatnya. Steve bisa melihat tatapan penuh cinta sahabatnya pada wanita yang masih terbaring di bad.
" Apakah dia belum sadar juga " tatapan Nathanael masih pada wanita itu.
" Sebentar lagi dia akan sadar " kata Steve.
" Aku akan menunggunya " Nathanael.
Steve menggeleng pelan.
" Xander " Steve ingin bicara sesuatu pada sahabatnya.
Tanpa mengalihkan pandangannya pada Shasha, Nathanael pun berbicara pelan pada sahabatnya.
" Terserah kamu saja " Steve menyerah hendak melangkah pergi.
" Tunggu " Steve menghentikan langkahnya.
" Apalagi " Steve berbalik.
" Aku nginap di rumahmu " kata Nathanael santai.
" Ck, merepotkan " Steve berdecak sebal.
Steve keluar ruangan itu sambil menggerutu. Nathanael beralih ke ranjang dan melihat wajah pucat itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Cukup lama Nathanael menatap sosok yang sangat dirindukannya itu. Menggenggam tangan putih pucat itu.
Saat tangan Nathanael hendak mengusap anakan rambut Shasha. Wanita itu perlahan mengerjapkan matanya menyesuaikan pandangannya pada sekeliling yang tampak asing baginya. Lalu beralih ke seseorang yang duduk di sampingnya.
" Nathan " gumam Shasha.
" Maaf " kata Nathanael sedikit gugup.
Wanita itu tersenyum membuat Nathanael menghangat.
" Terimakasih " ucap Shasha.
" Untuk... " Nathanael mengeryit heran.
" Karena kau sudah menolongku " pelan suara Shasha.
" Ssst kau lupa kalau aku ini sahabatmu yang selalu ada buatmu " Nathanael tersenyum.
__ADS_1
" Kau memang yang terbaik " ucap Shasha.
" Melihat kau baik-baik saja aku ikut senang " tersenyum sambil mengusap lembut pucuk rambut Shasha.
Shasha tersenyum lalu tangannya memegang perutnya yang telah rata. Seketika dia terkejut dan nampak matanya berkaca-kaca.
" Dia sudah lahir kata Steve em maksudku dokter Steve baby nya perempuan " Shasha menatap Nathanael sambil tersenyum.
Aku senang melihat mu seperti ini, semoga kamu tetap bahagia dengan keluarga kecilmu, gumam Nathanael membalas senyum wanita itu.
" Bayiku perempuan pasti cantik ya kan " seru Shasha.
" Tentu saja cantik seperti mamanya " Nathanael tersenyum tipis.
" Benarkah " Nathanael mengangguk.
" Darimana kau tahu, kau belum melihatnya kan " Shasha menatap Nathanael.
" Dia pasti mirip dengan mu, cantik " tanpa sadar Nathanael memuji wanita itu.
Shasha tertawa.
" Bisa saja kamu " Shasha berbinar.
Saat keduanya sedang asyik berbincang tiba-tiba seseorang masuk tergesa. Pria tampan berkulit sawo matang itu melihat istrinya dan Nathanael berbicara dengan Nathanael yang masih memegang tangan Shasha.
Ketika menyadari kehadiran suami dari wanita itu, Nathanael melepas genggaman tangannya. Lalu menoleh dan tersenyum pada suami Shasha.
" Aku pulang dulu jaga dirimu baik-baik " Nathanael bangkit.
" Kenapa buru-buru sih " sahut Shasha.
" Kalau lebih lama di sini akan terjadi gempa " Nathanael tersenyum lalu melangkah pergi.
Shasha menatap bingung pada Nathanael hingga sebuah suara mengalihkan perhatiannya.
Pria berkulit sawo matang itu mendekat dan mencium kening istrinya. Senyuman yang terbit di bibir tipis istrinya menghangatkan hatinya.
Pria berkulit sawo matang itu duduk di sebelah istrinya. Lalu tersenyum sambil menggenggam tangan istrinya dan mengusap lembut tangan istrinya.
Nathanael melangkah sampai ke depan pintu lalu berhenti dan menoleh ke arah lelaki yang baru datang.
Kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruangan bayi. Di sana Nathanael bertemu Steve dan meminta ijin untuk melihat bayi Shasha.
Steve dan Nathanael masuk ke ruangan bayi. Setelah berbicara sebentar dengan perawat Steve membuka kotak kaca yang di dalamnya ada bayi Shasha.
Steve perlahan mengambil bayi Shasha dan memberikan pada Nathanael. Nathanael memandang bayi mungil yang wajahnya mirip Shasha. Setelah puas memandangi bayi mungil itu kemudian diberikan pada Steve. Steve meletakkan bayi mungil itu ke kotak kaca dan menutupnya.
Steve dan Nathanael keluar dari ruangan itu menuju parkiran. Steve masuk ke mobil diikuti Nathanael duduk di sebelahnya. Nathanael menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan matanya. Steve melirik sahabatnya itu lalu melajukan mobilnya keluar dari rumah sakit.
****************
Maaf baru bisa up....
Semoga suka dengan ceritanya ya....
Cerita di bab ini ada di kisah Maafkan Aku, Istriku ( bab 86 dan 87 ) dan sudah diperbaiki kata-katanya.
Jangan lupa beri like, komen dan vote nya.
__ADS_1
Okey, terimakasih....