Pria Patah Hati

Pria Patah Hati
Episode 23 Galau # 2


__ADS_3

Setelah mobil berhenti di depan restoran miliknya Nathanael keluar dari mobil. Memutari mobil dan membuka pintu mobil mengulurkan tangannya pada gadis manis itu. Nathanael menuntun gadis manis itu sampai di depan kamar gadis itu lalu menyuruhnya masuk.


" Tidurlah " Nathanael mendorong pelan tubuh Eli.


Gadis itu menurut saja. Nathanael membuka pintu membiarkan Eli masuk ke kamarnya. Setelah pintu tertutup rapat Eli menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan matanya. Ketakutannya sedikit menghilang berganti bahagia yang menelusup hatinya.


Gadis itu memindai kejadian beberapa waktu yang lalu. Saat Nathanael memeluknya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang pria tampan itu. Ada rasa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Hatinya menghangat ada rasa nyaman di dekat pria bertinggi 170 cm itu.


Eli mengendus tubuhnya yang masih tersisa parfum Nathanael saat pria tampan memeluknya tadi. Lalu tersenyum sendiri rasanya enggan untuk mengganti bajunya. Wangi parfum pria itu terlalu memabukkan membuat Eli berharap lebih pada teman kakaknya itu.


Sementara Nathanael masih berdiri di depan kamar Eli. Pria bertinggi 170 cm itu berbalik dan bersandar di dinding kamar Eli. Pria tampan itu memejamkan matanya. Membayangkan saat dirinya tak sengaja memeluk tubuh Eli. Ini sudah gila, batinnya menyangkal. Apa yang pria itu rasakan sanggup memporak porandakan hatinya. Di saat dirinya bertekad melupakan cinta pertamanya. Tapi nyatanya seseorang yang mirip dengan cinta pertamanya telah mengganggu pikirannya.


Nathanael sekuat tenaga menghilangkan rasa yang baru saja singgah di hatinya. Mereka sepupu tidak mungkin aku suka padanya. Huh, Nathanael mengeluh di dalam hatinya. Setelah sekian lamanya baru hari ini Nathanael dibuat berpikir keras. Pria tampan itu berungkali menggelengkan kepalanya.


Ini tidak akan terjadi aku mungkin terlalu terobsesi dengan Shasha, sekali lagi Nathanael menyakinkan pada dirinya bahwa Eli adalah adik temannya. Dan temannya percaya bahwa ia akan menjaga dan melindungi Eli selama gadis itu tinggal di sini. Tidak mungkin ia menyukai adik temannya. Semakin Nathanael menyangkal perasaannya semakin sesak hatinya.


Nathanael membuka matanya lalu melirik ke pintu yang tertutup itu. Pria tampan itu melangkah pelan mendekati lemari pendingin. Menggesernya ke kiri lalu membuka pintu kecil yang ternyata pintu tersembunyi. Hanya Steve dan Leo yang tahu pintu tersembunyi itu. Mengambil sebotol minuman beralkohol dan gelas. Menutup rapat pintu tersembunyi itu lalu menggeser lemari pendingin itu ke tempat semula.


Ya, mungkin dengan sedikit alkohol bisa menenangkan hatinya yang sedang gundah, pikirnya. Nathanael bukannya tidak tahu kalau alkohol bukan penyelesaian yang baik buat dirinya. Tapi pria tampan itu sudah bergelut dengan alkohol sejak di bangku SMA. Dan minuman itu sudah tidak asing lagi baginya.


Tapi sejak ia masuk rumah sakit karena mabuk parah pria tampan itu mulai mengurangi mengkonsumsi minuman setan itu. Dan saat ini sepertinya ia tidak mengindahkan kejadian saat dirinya dibawa ke rumah sakit.


Nathanael duduk di sofa menuangkan cairan dari botol itu ke gelas lalu meminumnya. Menikmati cairan itu masuk ke tenggorokannya dan berharap bersama cairan itu turun ke perut sesuatu yang menggangu pikirannya segera sirna. Satu gelas telah tandas melewati tenggorokannya. Lalu ia tuangkan lagi cairan bening itu di gelas yang sama memutar gelas itu pelan sambil duduk termenung. Meneguknya tanpa sungkan. Pandangannya nanar menatap ke depan. Sekelebat bayangan berputar di kepalanya. Sampai akhirnya satu botol ia habiskan hal itu tidak berpengaruh pada tubuhnya. Bahkan sebelum ini pria tampan itu mampu meminum empat botol dalam satu kesempatan.


Nathanael mengambil satu botol lagi. Nathanael tidak mengindahkan peringatan dari Steve saat terakhir ia terkapar tak berdaya dengan minuman memabukkan ini.


Beberapa waktu sebelumnya saat Leo selesai menutup restoran, ia melihat Nathanael menuntun Eli naik ke atas. Leo yang penasaran mengikuti sahabatnya menuju lantai atas. Saat tiba di lantai atas Leo mendapati sahabatnya sedang duduk termenung. Leo bergegas menghampiri sahabatnya.


Nathanael sudah habis dua botol lalu mengambil satu botol lagi. Leo merebut botol itu dari tangan sahabatnya.


" Apa-apaan ini Xander. Kau ingin membunuh dirimu sendiri " Leo geram.


Ingin rasanya Leo memukul sahabatnya agar cepat sadar. Nathanael pintar dan pandai berbisnis restoran tapi satu kelemahannya. Ia tidak bisa mengendalikan perasaan cintanya yang tertuju pada seseorang. Lantas ia akan lari ke alkohol sangat disayangkan bukan.


Itulah sebabnya Steve menyuruh Leo untuk mengawasi dan menjaga Nathanael. Sebegitu khawatirnya Steve dan Leo dengan sahabatnya yang satu ini. Karena mereka layaknya saudara yang saling menjaga dan melindungi meski tidak ada ikatan darah di antara mereka.


" Aku hanya mencicipinya sedikit " Nathanael mengangkat gelasnya.


" Hentikan Xander itu tidak baik buat kesehatan mu " peringat Leo.


Nathanael tidak menanggapi ucapan sahabatnya.


" Duduk di situ dan temani aku minum " Leo menghela nafasnya.


Leo duduk di sofa tunggal menatap miris sahabatnya.

__ADS_1


Kenapa lagi Xander apa karena wanita itu, gumam Leo sedih.


Nathanael meneguk minuman yang terlanjur dituang ke dalam gelas sampai habis. Ada rasa nyeri di dadanya yang ingin ia hilangkan tapi sepertinya bayangan gadis manis itu lebih mendominasi pikirannya saat ini. Dan lihat saja apa yang terjadi pada Nathanael selanjutnya. Pria tampan itu setengah sadar meracau mengungkapkan isi hatinya pada Leo.


" Kau tahu Leo aku sangat-sangat mencintai dia " Leo menggeleng pelan.


Leo tak habis pikir kenapa sahabatnya itu sedalam itu mencintai seorang wanita. Leo menyadari dirinya sendiri juga belum bisa melupakan cintanya. Bedanya Leo masih berpikir waras karena ia menyadari Grace terlalu tinggi untuk digapai. Sedangkan sahabatnya dia tampan dan kaya banyak gadis yang mau menjadi pacar atau istrinya. Tapi kenapa hanya terpaku pada satu wanita saja.


Leo kembali mendengarkan ocehan Nathanael yang setengah sadar itu.


" Aku sudah melupakannya kau percaya padaku kan " Leo mengangguk paham.


Sekali lagi Leo menghela nafasnya. Sabar Leo ... sabar, gumamnya pelan. Leo tidak tega dengan kisah cinta sahabatnya yang bertepuk sebelah tangan.


Nathanael kembali meracau.


" Aku sudah membuka hatiku untuk yang lain Leo, tapi mengapa harus gadis manis itu " Leo sedikit terkejut dengan penuturan sahabatnya.


Hm jadi ini masalahnya, batin Leo.


" Kau tidak tahu kan Leo, mata Eli persis seperti mata dia dan senyum Eli mirip senyum dia " Nathanael menunduk sedih.


" Xander benarkah itu " tentu saja Leo belum bisa sepenuhnya percaya pada ucapan sahabatnya.


Tapi biasanya ucapan orang mabuk itu dari hatinya apa benar demikian.


Iya in sajalah toh dia setengah sadar mana dia dengar ucapan ku, pikir Leo.


" Apa kau tahu Leo kalau mereka masih saudara " Leo membulatkan matanya.


Saudara maksudnya apa ini. Hm, apa Eli dan wanita itu saudara, gumam Leo.


" Aku baru mendengarnya tadi saat mengantar Eli ke tempat yang dia bilang saudaranya. Apakah kau tahu Eli memanggilnya kakak " Nathanael tertawa.


Ha ha ha.


" Itu itu lucu sekali Leo " Nathanael tertunduk lesu.


" Sudahlah Xander kau banyak minum lebih baik kau istirahat sekarang " Leo membantu Xander berdiri.


Sebenarnya Nathanael masih sadar tapi tekanan di hatinya membuat dia melampiaskan ke alkohol. Dan saat Leo menjumpai dirinya Nathanael membuat dirinya seolah mabuk. Jadi saat dia mengungkapkan apa yang dirasakannya dia tidak merasa dipermalukan.


Aduh gimana ini, gumam Leo. Leo kebingungan sendiri mengatasi Nathanael yang mabuk. Biasanya Steve yang mengatasi Nathanael yang sedang mabuk. Tapi di sini tidak ada Steve. Oh ya telpon Steve mana ponselku ya, Leo merogoh saku bajunya tidak ada. Mana ponselku Leo baru mengingat ponselnya dia letakkan di kamar. Oh **** ! umpat Leo.


Nathanael sedikit melirik sahabatnya dan tersenyum tipis. Bisa dilihat kepanikan di wajah sahabatnya. Nathanael salut dengan usaha sahabatnya yang begitu mengkhawatirkan dirinya.

__ADS_1


Di saat Leo sedang bingung mencari ponselnya seseorang membuka pintu kamarnya. Eli membuka sedikit pintunya karena mendengar suara gaduh di luar. Eli mengintip dari balik pintu ternyata di sana ada Leo yang hendak memapah Xander.


Eli berjalan perlahan mendekati dua pria tampan itu. Menyadari ada orang di dekatnya Leo menoleh ke arah Eli.


Leo meminta bantuan Eli untuk memapah tubuh Nathanael menuju kamar. Leo membaringkan tubuh Nathanael lalu menyelimutinya. Leo menatap sekilas sahabatnya lalu beranjak pergi dari kamar Nathanael.


Ketika mencapai handle pintu Leo menyadari Eli masih berada di kamar sahabatnya.


" Tunggu di sini aku akan membuatkan minuman hangat " Eli mengangguk.


Setelah Leo keluar, Eli duduk termenung sambil menatap pria tampan yang terbaring di ranjang. Dia bingung dengan apa yang terjadi pada pria itu. Eli melihat ke sekeliling kamar pria itu kamar yang bernuansa maskulin itu yang baru pertama kalinya ia melihatnya. Pandangannya terpaku pada sebuah pigura kecil di atas meja. Eli mengambil pigura itu dan terkejut dengan foto yang ada di dalamnya.


Mengapa foto kak Shasha ada di sini. Eli mengingat saat ia mengajak Nathanael menjenguk kakaknya, kakaknya menyebut Nathanael adalah sahabatnya. Tapi apa benar hubungan mereka hanya sekedar sahabat atau ...


Sedang pria tampan yang terbaring di ranjang menikmati perannya. Dia pura-pura memejamkan matanya dan tidak menyadari bahwa di sebelahnya ada gadis yang telah mengusik pikirannya beberapa jam lalu.


Ceklek ( suara pintu dibuka ).


Eli buru-buru meletakkan pigura itu di meja dan duduk di samping ranjang. Leo masuk membawa minuman hangat. Lalu membantu Nathanael duduk dan meminum minuman hangat itu. Setelah itu Leo membaringkan Nathanael lagi.


Hm, menyenangkan sekali bertingkah seperti ini, gumam Nathanael. Leo memang patut diacungi jempol dan akan Nathanael lakukan nanti ya nanti.


" Biarkan dia tidur Eli ayo keluar " ajak Leo.


Eh eh apa ini, gumam Nathanael menegang. Baru ia menyadari kalau gadis itu ada di kamarnya. Gimana ini tidak mungkin ia bangun dan mendapati gadis itu terkejut melihat dirinya. Apa kata gadis itu nanti kalau ia hanya berpura-pura saja. Ini akan sangat memalukan. Ah, Nathanael merutuki kebodohannya sehingga membuat gadis itu berada di kamarnya.


" Bolehkah aku menemaninya sebentar " Leo mengangguk.


" Aku tidur di sofa kalau ada apa-apa panggil aku " Leo keluar kamar.


Eli mengangguk pelan.


Eli duduk sambil memandangi wajah tampan Nathanael. Alis matanya yang tebal, hidungnya yang mancung, rahangnya yang kuat terlebih tatapan matanya kalau terjaga tajam tapi menyimpan berjuta gelombang magnet. Membuat siapa saja yang melihatnya akan langsung jatuh hati padanya.


Tangan Eli terulur menyentuh wajah tampan yang sedang terpejam. Mengagumi pria bermata sipit itu sejak awal. Kakak aku menyukaimu, gumam Eli sambil tersenyum. Setelah puas memandangi wajah tampan Nathanael, Eli bangkit dan keluar dari kamar Nathanael.


Setelah memastikan gadis itu sudah keluar dari kamarnya Nathanael bernafas lega. Nathanael mengusap dadanya yang tiba-tiba berdebar tak karuan. Kembali Nathanael menepis perasaannya pada gadis itu. Apa aku harus menghindari gadis itu gimana caranya, gumam Nathanael.


Sedangkan Eli gadis itu telah keluar dari kamar Nathanael. Eli menoleh ke arah sofa mendapati Leo terbaring di atasnya. Tak ingin mengganggu Leo ia kembali ke kamarnya dan tidur.


**************


Beberapa bagian sudah diperbaiki semoga suka dengan ceritanya. Judulnya sudah author ganti ya.


Judul yang baru yaitu Pria Patah Hati.

__ADS_1


Jangan lupa memberi lika, komen dan vote yang banyak ya.


Terimakasih.


__ADS_2