Pria Patah Hati

Pria Patah Hati
Episode 29 Rasa Apa Ini ... # 3


__ADS_3

Melihat Nathaniel mendekat Bimo melirik ke sisi kirinya. Lalu keluarlah lima orang berbadan tegap mengepung Nathanael. Kelima orang suruhan Bimo itu langsung menyerang Nathaniel. Sementara lelaki bertinggi 170 cm itu tersenyum sinis. Hm, beraninya main keroyok, gumam Nathaniel. Lelaki tampan itu tak mau membuang waktunya untuk meladeni kelima orang yang mengeroyoknya. Tak butuh waktu lama kelima orang suruhan Bimo terkapar tak berdaya. Nathaniel melakukan tendangan dan pukulan yang tepat sasaran membuat kelimanya mengakui kehebatan Nathaniel.


Bimo tampak geram karena orang-orangnya tidak bisa mengalahkan Nathaniel. Bimo melirik ke sisi kanan dan datanglah lima orang berbadan tegap menghampiri Bimo.


" Habisi dia " perintah Bimo.


Kelima orang suruhan Bimo kembali mengelilingi Nathaniel. Kelima orang ini teman dari orang-orang yang tadi menyerang Nathaniel. Steve yang sedari tadi hanya diam menonton keluar dari mobil. Steve berjalan mendekati sahabatnya.


" Xander biar aku saja yang menghadapi mereka " Steve.


Bimo menatap tajam ke arah Steve.


" Hei, Steve aku tak punya urusan dengan mu " tunjuk Bimo.


Nathaniel melirik Steve.


" Mundur Steve, aku masih mampu menghadapi mereka " sahut Nathaniel.


" Tapi Xander " Nathaniel memberi kode pada Steve.


Terpaksa Steve mundur mengikuti keinginan sahabatnya. Namun Steve tetap berjaga tak jauh dari Nathaniel. Steve tidak mau terjadi sesuatu pada sahabatnya karena mereka berlima. Sedangkan Nathaniel sendirian menghadapi mereka. Mungkin sekarang tenaga Nathaniel sudah terkuras karena sudah melawan kelima orang tadi. Dan kini menghadapi lima orang lainnya.


Setelah mendapat aba-aba dari Bimo kelima orang itu menyerang Nathaniel. Nathaniel sedikit kewalahan menghadapi kelima orang itu. Karena kepandaian berkelahi kelima orang ini di atas orang-orang yang tadi menyerangnya. Hingga saat Nathaniel lengah sebuah pukulan mendarat di wajah tampan Nathaniel. Nathaniel sedikit terhuyung ke belakang tapi kembali memasang kuda-kuda untuk melawan mereka.


Nathaniel menghapus darah segar yang keluar dari sudut bibirnya. Sial, umpat Nathaniel pelan. Nathaniel menatap tajam ke arah lima orang yang menyerangnya. Pandangannya beralih ke orang yang sempat memukul wajahnya. Nathaniel menggerakkan kedua tangannya dan menyerang orang yang tadi memukul dirinya.


Plak.


Bugh.


Bugh.


" Aduh " terdengar rintihan orang yang tadi menyerangnya.


Dan orang itu memegang perut dan dadanya yang mendapat pukulan dari Nathaniel. Kini tinggal empat orang menyerang Nathaniel. Tenaga Nathaniel sedikit terkuras tapi ia harus segera menyelesaikan pertarungan yang tidak seimbang ini. Pukulan dan tendangan Nathaniel tepat mengenai tubuh keempat orang itu. Meski badan mereka lebih besar dari Nathaniel. Tapi mendapat serangan beruntun dari Nathaniel membuat keempat orang itu terduduk kelelahan.


Nathaniel sendiri tenaganya sudah terkuras habis. Untung saja mereka menghentikan perlawanannya. Dan Bimo merasa malu karena kalah lagi dengan seorang Nathaniel. Padahal ia sudah membawa sepuluh orang untuk mengalahkan Nathaniel. Tapi sayangnya Nathaniel terlampau kuat membuat sepuluh orang suruhannya tidak mampu mengalahkan Nathaniel.


" Gimana mau lanjut " tawar Nathaniel.


Bimo tidak menjawab ia pergi begitu saja diikuti ke sepuluh orang suruhannya. Nathaniel bernafas lega. Hah, syukurlah mereka semua pergi, gumam Nathaniel.


Steve melangkah mendekati sahabatnya dan mengacungkan dua jari jempolnya ke Nathaniel. Nathaniel hanya melirik saja. Nathaniel berjalan ke mobilnya dan duduk di atas mobil.


Steve mengambil minuman dingin di mobilnya yang tadi sempat ia beli di jalan. Steve ikut duduk di sebelah sahabatnya dan melempar satu minuman dingin pada sahabatnya. Dan satunya lagi untuk dirinya sendiri. Nathanael menangkap minuman pemberian Steve dan hanya dipegang saja. Steve membuka minuman dingin itu lalu meneguknya. Setelah itu barulah ia bicara pada sahabatnya.


" Kenapa kamu berurusan lagi dengan dia, Xander ? " Steve.


" Hm, itu tidak sengaja " Nathanael.

__ADS_1


" Maksudnya tidak sengaja " Steve.


Lalu Nathaniel menceritakan pertemuannya yang tidak sengaja dengan Nina dan Bimo.


" Masih berani dia menemui dirimu dan tinggal di kota ini " Steve.


" Maksudnya apa Steve " Nathaniel mengeryit heran.


Steve tersadar dengan ucapannya. Karena sebenarnya Nathaniel tak tahu apa-apa tentang ancamannya pada Nina waktu itu.


" Sudahlah lupakan " Nathaniel menggeleng melihat tingkah sahabatnya.


Hening.


Setelah beberapa saat keduanya diam Steve membuka suaranya.


" Boleh aku menanyakan satu hal " Steve.


" Hm ya " Nathaniel mengangguk.


" Ini soal lain tak ada hubungannya dengan Bimo " Nathaniel melirik Steve.


" Katakan " Nathaniel meneguk minuman dingin pemberian Steve.


" Kenapa kau mengumbar kemesraan bersama Grace, sementara kau tahu kan Leo menyukai nya " Steve.


Nathaniel tertawa kecil membuat Steve mendelik tak suka pada tanggapan sahabatnya.


Ck, Steve berdecak sebal.


" Tapi itu jadi masalah untuk Leo " Steve.


Nathaniel diam lelaki tampan itu memainkan botol minumannya.


" Dan kamu nyadar nggak sih kalau Grace itu suka sama kamu " Steve.


Nathaniel menoleh ke sahabatnya.


" Aku dan Grace tetanggaan. Sejak kecil kami sering bersama hingga besar. Dan aku menganggapnya sahabat tak lebih " jelas Nathaniel.


" Lalu apakah dia juga menganggap mu sebagai sahabatnya. Kau tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti di masa lalu kan. Lihatlah dirimu kau menyukai wanita yang menjadi cinta pertamamu tapi ternyata dia hanya menganggap mu sahabat. Gimana rasanya sakit bukan " Steve.


Nathanael bungkam apa yang dikatakan Steve tidaklah salah. Nathanael sudah merasakannya dimana dia menyukai seseorang tapi orang itu hanya menganggapnya sebagai sahabat. Bahkan sekarang perasaannya pada orang itu belum sepenuhnya hilang.


Steve melirik sahabatnya lalu meneguk minuman dingin yang tinggal separo.


" Gimana perasaanmu pada Eli " Steve.


Nathanael menoleh ke arah sahabatnya. Steve hanya terkekeh pelan lalu menatap Nathanael.

__ADS_1


" Kau menyukainya kan " Steve.


" Ngomong apa kamu " Nathanael.


Nathanael melempar kaleng minuman ke sembarang arah. Nathanael masih menyangkal perasannya pada gadis mungil itu. Nathanael bangkit melangkah masuk ke mobilnya.


" Hai kau mau ke mana ? " Steve.


Steve mengikuti Nathaniel masuk ke mobil sahabatnya dan duduk bersandar di sebelah kemudi. Steve membiarkan sahabatnya meluapkan emosinya pada mobilnya. Ya, benar saja tak berapa lama Nathanael menghidupkan mesin mobilnya. Nathanael memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalanan yang tampak lengang. Begitulah Nathanael kalau perasaannya sedang kacau seperti sekarang ini. Ia melampiaskan pada mobilnya tak peduli dengan keselamatan nyawanya.


Setelah beberapa saat mobil Nathanael melambat dan berhenti di samping mobil Steve. Nathanael mematikan mesin mobilnya lalu menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi.


Steve menegakkan tubuhnya membetulkan letak kemejanya lalu melirik sahabatnya.


" Jangan menipu dirimu sendiri dan terus-terusan menghindar " Steve.


Steve bersiap keluar dari mobil Nathanael. Steve menepuk pundak sahabatnya lalu beranjak keluar dari mobil sahabatnya. Steve masuk ke mobilnya dan meninggalkan tempat itu.


Tinggallah Nathanael duduk termangu sendirian.


" Aaaagrrhh ... " teriak Nathanael frustasi.


Nathanael memukul setir kemudi.


" Kenapa mesti kau Eli " ucap lirih Nathanael.


Nathanael berusaha keras menyangkal hatinya tapi apalah daya bayangan gadis mungil itu yang muncul di pelupuk matanya. Nathanael mengingat dengan jelas malam itu saat gadis itu ketakutan karena ia memacu mobilnya sangat kencang. Lalu menghentikan mobilnya dipinggir jalan dan menenangkan gadis itu agar tidak takut. Secara tak sengaja Nathanael merangkul gadis itu dan mendekapnya untuk memberi ketenangan. Setelah gadis itu tenang malah dirinya yang merasakan perasaan aneh. Perasaan itu yang timbul karena bersentuhan dengan gadis itu membuat jantungnya berdetak begitu cepat.


Itulah sebabnya Nathanael berusaha menghindari bertemu dengan gadis itu. Kesibukan menyiapkan pembukaan restoran baru menjadi alasan yang tepat untuk menghindar sementara waktu untuk bertemu gadis itu.


Nathanael tertunduk lesu apakah ia akan terus menghindar atau jujur pada dirinya sendiri tentang perasaannya pada gadis mungil itu.


Uh, rasa apa ini ... Nathanael memegang dadanya yang tiba-tiba bergetar hebat saat nama gadis mungil itu muncul di benaknya.


Apakah aku mulai mencintai gadis itu, gumam Nathanael. Nathanael menghela nafas panjang. Setelah lama berdiam diri Nathanael menyalakan mesin mobilnya. Nathanael melajukan mobilnya ke jalan raya sambil menikmati suasana malam yang sepi.


Nathanael membelokkan mobilnya menuju restorannya yang sudah tutup sedari tadi. Setelah mematikan mesin mobilnya Nathanael keluar dari mobil dan masuk melalui pintu samping restoran. Nathanael mengambil kunci cadangan yang selalu ia bawa lalu membuka pintu dan menutupnya kemudian mengunci pintu itu. Lampu restoran sudah dimatikan hanya ada lampu menuju tangga yang menyala. Nathanael menyakini Leo dan adiknya sudah tidur lalu ia berjalan pelan menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.


Sebelum masuk ke kamarnya Nathanael berdiri di depan pintu tertutup yang merupakan kamar Eli. Adik dari temannya yang dipercayakan padanya untuk menjaganya. Setelah beberapa lama termangu Nathanael bergegas masuk ke kamarnya. Nathanael menghempaskan tubuhnya ke ranjang memindai kembali saat pertama kali berjumpa dengan gadis mungil itu. Hingga ia memejamkan matanya dan terbuai masuk ke alam mimpi.


**************


Baru saja up ya... Maaf kalau lama.


Semoga suka dengan ceritanya.


Judulnya sudah diganti dengan Pria Patah Hati.


Novel ini sedang dalam perbaikan di sana sini.🙏🙏.

__ADS_1


Dukung karya author dengan memberi like, komen dan vote nya ya.


Terimakasih...


__ADS_2