Pria Patah Hati

Pria Patah Hati
Episode 31 Pengakuan Eli


__ADS_3

Saat Nathanael keluar dari kamarnya ada Eli di dapur mini miliknya. Gadis mungil itu sedang membuat coklat hangat lalu berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Eli melihat Nathanael menutup pintu dan mendekat ke arah sofa. Gadis itu tersenyum ramah sambil menyapa pria tampan yang mendekat ke arah nya.


" Pagi kak mau ku buatkan kopi " Eli.


" Hm boleh " Nathanael.


Pria tampan itu lalu duduk di sofa dan menyalakan tv. Sedangkan Eli berjalan ke dapur mini untuk membuat kopi. Selesai membuat kopi lalu membawa nya ke sofa dan meletakkan cangkir kopi ke meja.


" Ini kak kopinya " Eli.


" Terimakasih " Nathanael.


Eli duduk di sebelah Nathanael dan minum coklat hangat miliknya. Setelah itu Eli menunduk sambil memainkan jemari tangannya. Sementara Nathanael tampak canggung duduk di dekat gadis mungil itu. Setelah ia menyadari di hatinya ada sedikit rasa untuk gadis itu. Yang ia lakukan hanya memindah chanel tv.


Hening.


Hanya terdengar suara siaran tv yang entah apa acaranya. Eli memberanikan diri untuk berbicara pada Nathanael.


" Kak " Eli.


" Hm ya " Nathanael.


" Apakah kakak mau mengantar aku " Eli.


" Kemana " Nathanael.


" Ke stasiun " Eli.


" Kenapa ke stasiun " Nathanael.


" A aku mau pulang " Eli.


Nathanael menoleh ke arah gadis yang duduk di sebelah nya. Nathanael merasa heran kenapa tiba-tiba saja gadis itu ingin pulang. Eli menunduk sambil memainkan jemari tangannya. Nathanael menatap lekat gadis mungil di samping nya.


" Kenapa pulang apa kamu tidak betah tinggal di sini " Nathanael.


Gadis mungil itu menggelengkan kepalanya. Gadis mungil itu terus menunduk ia tidak berani menatap manik hitam milik pria tampan bertinggi 170 cm itu. Nathanael menggeser tubuhnya dan posisi nya kini menghadap ke arah Eli.

__ADS_1


Gadis itu masih tetap menunduk tampak bahunya bergetar menahan sesuatu agar tidak terdengar oleh pria di samping nya. Tiba-tiba saja bulir bening menetes di kedua pipinya yang putih bersih itu. Nathanael mengangkat dagu gadis itu betapa terkejutnya saat melihat gadis itu menangis.


" El, kenapa menangis apa ada yang menyakiti mu " Nathanael.


Eli sekuat tenaga berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak terhanyut dengan tatapan manik hitam yang terus menatapnya tak berkedip. Ia harus bisa berakting sedih untuk menarik perhatian pria tampan yang ada di sampingnya.


Itu yang diajarkan Leo tadi malam. Tapi memang ia benar-benar sedih saat ini dan bukan pura-pura lagi. Karena ia ingin mengetahui isi hati pria yang tidak peka ini.


Ini bermula saat melihat Nathanael dan Grace menyanyi di atas panggung. Mereka tampak mesra sekali Eli merasa sakit hati ia memilih pergi dan masuk ke kamarnya.


Beberapa saat setelah Steve pergi Leo menuju kamar Eli. Leo membuka perlahan pintu kamar gadis itu. Leo berdiri di ambang pintu dan mendapati gadis itu tengah menangis ada rasa iba di hati Leo melihat gadis itu bersedih. Di saat yang sama ia mendapat pesan dari Steve. Lalu Leo mulai menjalankan misinya untuk menyatukan sahabatnya dengan Eli.


Setelah berbicara dan membujuk Eli akhirnya gadis itu mau menuruti perintah dari Leo.


Maaf kak bukan maksudku membohongi kakak tapi aku berharap setelah ini kakak menyadari bahwa kakak sebenarnya menyukai ku karena aku pun juga menyukai kakak. Kalau kakak masih tidak mau mengakui perasaan kakak lebih baik aku saja yang pergi. Jadi kakak tidak perlu menghindari untuk bertemu dengan ku.


" Katakan El, apa ada yang menyakitimu " Nathanael.


Eli mengumpulkan keberaniannya untuk menatap pria di samping nya.


" Aku " tunjuk Nathanael pada dirinya.


Eli mengangguk kali ini Eli berkata jujur.


" Apa ada tingkah laku kakak yang tidak sengaja menyakiti mu " Nathanael.


Sekali lagi Eli mengangguk.


" Apa itu " Nathanael.


" Kakak jahat padaku apakah kakak menyukai kak Grace. Apa kalian adalah sepasang kekasih karena kalian tampak mesra sekali. Apakah kakak tidak menyadari bahwa aku ... a aku " Eli tidak mampu melanjutkan kata-katanya.


Eli menunduk dan tak mampu menatap manik hitam milik Nathanael. Eli tampak gugup sekali lalu mengalihkan pandangannya ke lain arah. Di atas tangga Leo berdiri mengangkat satu jari jempolnya. Leo tersenyum memberi dukungan pada Eli. Karena Leo menyadari Eli mirip dengan wanita yang disukai oleh sahabatnya. Siapa tahu dengan menyatukan keduanya sahabatnya itu bisa move on dari wanita itu.


" Aku apa El " desak Nathanael.


" A aku mencintai kakak " Eli.

__ADS_1


Eli memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya. Sedangkan Nathanael membulatkan matanya setelah mendengar pengakuan Eli. Ia termangu seolah tak percaya dengan pendengarannya sendiri. Nathanael mengusap butiran bening di kiri dan kanan pipi Eli dengan jempol tangannya.


Melihat wajah sendu gadis di depannya ini membuat Nathaniel jadi tidak tega. Nathaniel menggenggam tangan Eli. Gadis yang mulai mengusik ketenangan hatinya akhir-akhir ini.


" Maaf El, kalau sikap kakak membuat mu terluka aku dan Grace hanya berteman ' Nathanael.


" Yang tadi malam " Eli.


Nathanael menangkup pipi kiri dan kanan Eli dengan kedua tangannya.


" Itu hanya saat bernyanyi saja " Nathanael.


Eli menghela nafas lega tapi ia belum bisa tenang sebelum mendengar langsung dari mulut pria di samping nya ini tentang perasaan pria ini.


" Lalu gimana perasaan kakak terhadap ku " Eli.


Nathanael menghela nafasnya dan menatap gadis mungil di depannya. Gadis mungil adik dari temannya Andrew yang dititipkan padanya untuk menjaganya. Apakah ini saatnya ia jujur pada dirinya sendiri dan tidak perlu menghindari terus tentang perasaan nya pada gadis ini.


" Kakak menyukai mu, El " Nathanael.


Eli tersenyum dan matanya berbinar cerah.


" Benarkah kakak tidak bohong " Eli.


Nathanael mengangguk. Eli menghambur ke Nathanael memeluk pria tampan bertinggi 170 cm.


Leo yang berdiri di atas tangga ikut senang melihat sahabatnya kini bisa membuka hatinya untuk orang lain.


****************


Dibelain up di sini....


Semoga suka dengan ceritanya.


Dukung karya ini dengan memberi like, komen dan vote nya ya.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2