
Nathanael dan Grace berkeliling mall cukup lama. Meski tidak ada yang dibeli Nathanael tetap mengikuti kemana Grace melangkah. Wanita itu sangat senang berjalan bersama teman kecilnya. Grace tak segan melingkarkan tangannya di lengan kekar Nathanael. Sementara pria tampan itu seolah tidak keberatan terbukti tidak adanya protes dari Nathanael. Setelah lelah berkeliling membuat Grace lapar lagi. Grace mengajak Nathanael ke sebuah restoran cepat saji dan memesan makanan.
Tidak berapa lama keduanya menikmati makanannya. Selesai makan Grace meraih ponselnya dan tak sengaja melihat sesuatu di layar ponselnya.
" Xander lihat ini " Grace memberikan ponselnya pada Nathanael.
Nathanael mengambil ponsel dari tangan Grace lalu melihat berita viral mengenai dirinya.
" Siapa yang melakukan ini " Nathanael menatap sekeliling.
Tidak ada yang aneh tapi video ini dibuat secara langsung dan tentunya orang itu masih berada di sekitar sini.
Nathanael bangkit hendak pergi tapi dicegah oleh Grace.
" Biarkan saja ini bagus untuk mu. Ini bisa menggeser berita buruk yang beberapa hari ini beredar " Grace.
" Kau tidak melihat komentar di bawahnya " Nathanael.
Nathanael memberikan ponsel Grace, wanita itu menerimanya. Dan membaca komentar-komentar buruk tentang Nathanael.
" Perlu diberi pelajaran nih orang " geram Grace.
" Tidak perlu " Nathanael.
" Xander harusnya kau cepat bertindak " Grace.
Nathanael hanya tertawa kecil.
" Biarkan saja setelah ini mau kemana " tawar Nathanael.
Nathanael bukannya diam saja dia sudah mengirim pesan pada Dave. Beberapa saat setelah melihat berita mengenai dirinya dan Grace makan di mall.
" Sudah, lebih baik kita pulang saja. Semakin lama kita di sini semakin banyak gosip yang beredar " Grace.
" Baiklah kita pulang sekarang " Nathanael.
Keduanya keluar dari mall menuju mobil Grace. Nathanael menjalankan mobil keluar dari mall.
Mobil berhenti di depan restoran miliknya. Nathanael keluar dari mobil dan melambaikan tangannya pada Grace. Grace ikut melambaikan tangannya lalu melajukan mobilnya pulang ke rumah.
Nathanael masuk ke restoran miliknya dan berjalan ke ruang kerjanya. Menyibukkan diri dengan berkas-berkas yang sudah ada di mejanya untuk diperiksa.Tak terasa waktu telah beranjak sore. Nathanael merapikan berkas-berkas itu dan memasukkan dalam lemari kemudian mematikan laptopnya.
Nathanael meregangkan otot-otot nya. Hm, Nathanael memijat dahinya. Bukan karena pekerjaannya tapi berita tadi siang yang kembali mengusik ketenangannya. Gimana dengan Dave apa pria itu sudah menyelesaikan tugasnya. Kenapa lama sekali, gumamnya pelan.
Nathanael bangkit lalu melangkah keluar dari ruangan nya berjalan menaiki tangga ke lantai atas. Nathanael masuk ke kamarnya dan mulai membersihkan diri. Selesai dengan rutinitas mandinya Nathanael kelihatan segar. Memakai baju santai lalu merapikan rambutnya.
Nathanael keluar dari kamarnya sepertinya ada yang terlewatkan. Seharian ini ia tidak mendapati sahabatnya kemana dia, gumam Nathanael. Pria tampan bertinggi 170 cm itu menuruni tangga dan mencari sahabatnya, Leo.
Nathanael pergi ke ruangan sahabatnya dan membuka pintu. Di mana Leo kenapa tidak ada di sini. Baiklah aku tunggu di sini saja, gumam Nathanael. Lalu Nathanael duduk di kursi yang menjadi tempat kerja Leo sehari-hari.
__ADS_1
Saat sedang menunggu sahabatnya itu datang tanpa sengaja Nathanael menatap layar monitor di sebelahnya. Kemudian ia menggeser kursi yang didudukinya dan mengamati layar monitor di depannya. Matanya membulat saat melihat seseorang di layar monitor itu.
Shasha, gumamnya lirih. Sedang apa dia di sana. Nathanael melihat disebelah wanita yang menjadi cinta pertamanya itu. Oh ternyata dia bersama Dini, bos di kafe tempat bekerja nya dulu. Saat pertama kali Nathanael bertemu Shasha setelah hampir empat tahun meninggalkan kotanya karena patah hati. Patah hati pada cinta pertamanya itu yang tak lain adalah Shasha.
Ingatan Nathanael menerawang ke masa di mana ia kembali mendekati Shasha. Meski ia sadar Shasha sudah menikah dan berpura-pura melamar kerja di tempat Dini sahabat Shasha. Tujuannya tak lain ingin lebih dekat dengan pujaan hatinya itu. Pikiran jahatnya mengatakan ingin merebut Shasha dari suaminya. Karena yang ada dipikirannya saat itu suami dari wanita pujaannya mengabaikan nya.
Nathanael kembali melihat ke layar monitor. Melihat Shasha dengan perut buncitnya berdiri dan hendak pergi mau kemana dia, gumam Nathanael. Pria tampan itu bangkit berjalan keluar dari ruangan Leo.
Nathanael bergegas menemui wanita itu, degup jantung nya berpacu lebih cepat dari biasanya. Nathanael memegang dadanya agar bisa terkendali saat berjumpa dengan wanitanya. Oh jantung kenapa debarannya sama seperti saat pertama kali bertemu dengannya. Mengapa aku tidak bisa berpaling pada yang lain. Kenapa mesti seperti ini dan selalu seperti ini, keluh Nathanael. Nathanael mengitari pandangannya tak dijumpai orang yang dicarinya. Kemana dia apa dia sudah pulang atau masih di sana. Nathanael mengacak rambutnya frustasi. Saat ia hendak berbalik terdengar seseorang sedang merintih kesakitan.
Suara itu seperti ia kenal setengah berlari Nathanael mendekat ke asal suara. Shasha, ada apa denganmu Nathanael melihat tubuh wanita yang dicintainya hendak jatuh. Lalu tangan Nathanael menopang tubuh tak berdaya itu sambil berteriak pada sahabatnya.
" Leo... " teriaknya.
Dari jauh Leo melihat sahabatnya setengah berlari menghampiri wanita yang sedang merintih kesakitan. Leo mengikuti sahabatnya itu setelah dekat ia terkejut dengan apa yang ia lihat. Belum hilang rasa terkejutnya, sahabatnya berteriak.
" Cepat siapkan mobil " Nathanael.
Nathanael membopong tubuh lemah Shasha dan membawanya ke mobil. Leo membukakan pintu untuk sahabatnya. Leo mengikuti sahabatnya dan duduk di balik kemudi. Sedang Nathanael duduk di kursi penumpang sambil memangku tubuh Shasha.
Nathanael melihat wanita yang dicintainya itu merintih kesakitan sambil memegang perutnya. Hatinya teriris pedih saat melihat orang yang sangat ia sayangi menahan sakit. Siapa yang telah menyakitimu sayang aku akan mencari orang itu dan menjebloskannya ke penjara. Geram Nathanael sambil menatap sendu pada wanita yang menjadi cinta pertamanya itu.
" Bertahanlah sebentar lagi akan sampai " Nathanael.
Shasha menatap ke arah pria yang menolongnya.
" Nathan ... " lirih suaranya.
" Sayang, Shasha sayang ... " Nathanael panik.
Tanpa sadar Nathanael mengucapkan kata sayang pada wanita dalam pangkuannya. Membuat Leo terkejut melihat tingkah sahabatnya itu. Leo menatap sahabatnya dari balik kaca spion mobil. Kenapa kau sangat peduli pada wanita hamil itu, gumam Leo prihatin.
Sesuatu membasahi tangannya saat ia menoleh ke samping ada cairan berwarna merah keluar dari bawah perut wanita itu. Membuat Nathanael makin panik.
" Cepat Leo tambah kecepatannya .. " seru Nathanael.
Leo melirik ke spion melihat sahabatnya sangat panik Leo ikutan panik. Lalu menambah kecepatan mobilnya.
" Sebentar lagi sampai bertahanlah " Nathanael membelai lembut pipi wanita dalam pangkuannya.
Tak terasa bulir bening menetes di pipi pria tampan itu. Pria tampan itu menangisi wanita hamil yang telah menjadi milik orang lain namun namanya masih setia bertahta dihatinya.
Akhirnya mobil yang dikendarai Leo tiba di rumah sakit. Sebelum keluar dari mobil Nathanael menyuruh Leo untuk menghubungi Steve. Nathanael membawa tubuh wanita yang tak berdaya itu ke ruang UGD lalu memanggil perawat.
Beberapa perawat membantu Nathanael membawa tubuh wanita hamil itu dan meletakkan ke brankar lalu masuk ke dalam ruang UGD.
Steve baru saja keluar dari ruang operasi saat ponselnya berdering. Steve menerima telpon dari Leo dan bergegas ke ruang UGD.
Beberapa saat kemudian Steve keluar menemui Nathanael.
__ADS_1
" Pasien mengeluarkan banyak darah maka dari itu harus dilakukan tindakan operasi " Steve.
" Lakukan yang terbaik Steve selamatkan ibu dan bayinya " Nathanael.
Steve menepuk pundak sahabatnya lalu mengikuti para perawat yang membawa tubuh wanita hamil itu ke ruang operasi.
Nathanael pergi ke bagian administrasi. Setelah urusan administrasi selesai Nathanael menunggu di depan pintu ruang operasi.
Nathanael menghubungi seseorang lalu mematikan ponselnya dan menaruh di saku bajunya. Dari jauh Leo melihat sahabatnya lalu berjalan mendekati Nathanael.
Belum sempat Leo bicara pada sahabatnya itu Nathanael lebih dulu bersuara.
" Leo kamu pulang saja ambil rekaman cctv berikan pada Dave " Nathanael.
Leo mengangguk menuruti perintah Nathanael meski di benaknya diliputi banyak pertanyaan.
Saat Leo hendak pergi sahabatnya itu berbicara lagi.
" Tunggu mana kunci mobilnya " Nathanael.
Ck, Leo berdecak sebal lalu memberikan kunci mobil itu.
Nathanael mengambil dompet dari saku celananya dan mengambil dua lembar berwarna merah lalu diberikan pada Leo.
" Yah kok cuma dua lembar " seru Leo sambil menerima lembaran merah dari tangan sahabatnya.
" Itu lebih dari cukup untuk ongkos taxi dari sini ke restoran " sahut Nathanael.
" Okey kalau gitu aku pergi dulu " Leo.
Setelah Leo pergi Nathanael menghubungi Dave.
📞" Hallo ... " Dave
📞 " Dave aku butuh bantuan mu " Nathanael.
📞 " Dengan senang hati " Dave.
📞 " Cari orang dalam rekaman cctv itu " Nathanael
📞 " Siap bos " Dave.
Nathanael menutup panggilan telponnya.
**************
Tulisan di bab ini sebagian ada di bab 84 dan 85 di novel Maafkan Aku, Istriku.
Okey semoga suka dengan ceritanya ya.
__ADS_1
Jangan lupa beri like, komen dan vote nya.
Terimakasih.