Pria Patah Hati

Pria Patah Hati
Episode 22 Galau # 1


__ADS_3

Mobil Steve masuk ke halaman rumahnya saat bersamaan mobil Dave ada di belakangnya. Steve keluar dari mobil dan membuka pintu rumah lalu masuk ke dalam. Mencari saklar lalu menyalakan lampu ruang tamu. Steve melangkah ke dapur mengambil minuman dingin lalu meneguknya. Setelah itu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Nathanael duduk di sofa menyandarkan tubuhnya yang letih. Diikuti Dave yang langsung duduk di sebelahnya.


" Gimana Dave " Nathanael.


" Beres bos " Dave.


" Rumah kontrakannya " Nathanael.


" Sudah dapat... em bos kalau boleh tahu untuk apa cari rumah kontrakan " Dave.


" Untuk mamaku " Nathanael.


" Tapi bos bukannya ... " Dave.


" Sudahlah kau bantu mamaku pindah ke rumah kontrakan itu " Dave mengangguk.


" Ngapain kamu di sini " Steve mendekati sahabatnya dan melihat sepupunya juga ada di sana.


" Numpang tidur " Dave.


" Nggak... nggak bisa pulang sana di sini nggak ada tempat buatmu " Steve.


" Ayolah sepupuku yang tampan hari ini aku capai sekali numpang malam ini saja " pinta Dave.


Hah, kalau ada maunya muji tampan memang aku tampan sih, puji Steve pada dirinya sendiri.


" Bisa juga kamu capai " Steve.


" Hei aku ini manusia bukan robot jadi bisa capai juga. Tanyakan sama sahabat mu itu seharian aku keliling kota cari rumah kontrakan " sungut Dave.


" Rumah kontrakan buat siapa ? " Steve.


" Buat mamanya katanya tuh " Dave yang menjawab.


" Xander " Steve.


Nathanael menghela nafas perlahan. Lalu Nathanael menceritakan tentang mama Ratih yang menolak tinggal bersamanya. Kemudian Nathanael berinisiatif untuk mencarikan rumah kontrakan yang lebih layak dari rumah yang ditinggali oleh mamanya.


" Dave, apa sudah kau temukan orangnya " Nathanael.


Steve memicingkan matanya.


" Masalah apalagi " Steve.


Dave terkekeh pelan.


" Rupanya pak dokter yang satu ini ketinggalan berita ya " ejek Dave.


Hah! Steve mengambil ponselnya dan membukanya. Steve menggeleng tak percaya dengan apa yang barusan ia lihat.


" Xander, ini maksudnya apa. Apa kau ingin mematahkan harapan Leo. Kita semua sudah tahu kalau Leo menyukai Grace " Steve.


" Apa kau pikir aku seburuk itu " Nathanael.


Steve menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Ada yang lebih penting dari itu " Nathanael.


" Apa ? " Steve.


Nathanael sedikit ragu tapi ia harus memastikan apa yang sempat terlintas di benaknya.


" Dave bisakah kau lakukan satu hal lagi " Nathanael.


Dave dan Steve saling berpandangan lalu keduanya melihat ke arah Nathanael.


" Cari keberadaan suami mamaku sampai ketemu " Nathanael.


Dave mengangguk meski dia bingung karena setahunya suami ibu Ratih adalah tuan Alexander. Lalu untuk apa mencari suami ibu Ratih apakah ibu Ratih memiliki suami selain tuan Alexander.


" Sudah malam aku mau tidur aku pinjam kamarmu " Nathanael berlalu menuju kamar Steve.


Steve tidak mau berdebat karena dia terlampau letih hari ini akhirnya ia tidur di sofa dan Dave mengambil kasur lantai lalu tidur.


Pagi harinya setelah minum secangkir kopi Dave pergi mengurus seorang wanita yang ada di rekaman cctv dan menyerahkannya pada yang berwajib. Sementara berita viral mengenai bosnya sudah dilaporkan pada Nathanael. Dave sudah meredamnya dan tugas Dave selanjutnya mencari informasi keberadaan suami ibu Ratih.

__ADS_1


Setelah minum segelas susu karena drama pemaksaan dari Steve. Nathanael ikut ke mobil Steve ke rumah sakit untuk mengambil mobilnya. Steve menyadari sahabatnya akan mengabaikan kesehatannya sendiri kalau tidak orang terdekatnya yang mengingatkan. Itu sebabnya Steve menyuruh Leo untuk mengawasi dan menjaga Nathanael.


Sampai di rumah sakit Nathanael langsung masuk ke mobilnya dan melajukan mobilnya menuju kontrakan yang akan ditinggali mama Ratih dan Vivi. Setelah melihat kontrakan yang nantinya ditinggali oleh mamanya Nathanael melajukan mobilnya menuju restoran miliknya.


Seharian ini Nathanael bergelut dengan berkas-berkas yang menumpuk di mejanya. Hingga tak terasa hari beranjak siang. Seseorang berpakaian khas dokter masuk ke ruangannya. Memastikan sahabatnya itu baik-baik saja setelah bertemu dengan wanita dari masa lalunya.


Steve mengajak sahabatnya itu untuk makan siang. Nathanael merapikan berkas-berkas lalu mematikan laptopnya. Nathanael keluar dari ruangannya beriringan dengan Steve untuk mengisi perutnya yang sedari tadi berdemo.


Leo tidak bergabung dengan dua sahabatnya. Ia berada di ruangannya pandangannya tak lepas pada layar ponselnya. Karena kemarin ikut sahabatnya mengantar wanita hamil ke rumah sakit. Dan hari ini ia sibuk mengurusi restoran sahabatnya. Baru siang hari saat jam makan siang ia bersantai.


Leo menggeleng pelan sambil tertawa getir melihat sahabatnya sedang makan bersama Grace. Leo menekan dadanya yang terasa sesak tidak dipungkiri hatinya terasa nyeri saat wanita yang dicintai pergi bersama orang lain. Dan orang itu sahabatnya sendiri.


Steve dan Nathanael duduk berhadapan. Steve mengeryit heran ketika tidak menjumpai Leo.


" Kau tidak merasakan sesuatu " Steve.


Nathanael yang sedang menikmati makanannya menghentikan gerakannya. Nathanael menoleh ke arah Steve.


" Dari tadi aku tidak melihat Leo. Apa dia sudah melihat berita itu " Steve.


" Mungkin " Nathanael.


Ck, Steve berdecak sebal. Nathanael masih memikirkan gimana caranya menjelaskan pada Leo.


Nathanael telah selesai dengan makanannya bersamaan datangnya seorang gadis manis yang duduk di sebelahnya.


Steve menatap tak berkedip gadis manis di depannya itu sambil menyapa ramah.


" Wah lihat yang bening kayak gini bikin betah duduk di sini " Steve tersenyum ramah.


" Tuh mata dikondisikan " seru Nathanael.


Steve mengabaikan sahabatnya lalu berbicara pada Eli. Keduanya tampak asyik berbincang dan tertawa sehingga melupakan ada Nathanael di antara mereka. Nathanael menggerutu sebal. Setelah cukup lama berbicara dengan Steve barulah Eli menyadari tujuannya.


" Maaf kak Steve aku mau ngomong sebentar sama kak Xander " Eli.


Steve mengangguk sambil mengedipkan matanya. Eli sedikit terkejut lalu mendelik ke arah dokter muda nan tampan itu.


" Kak Xander " Eli.


" Hm " Nathanael.


" Kak boleh minta tolong " Eli duduk menyamping dan menghadap Nathanael.


Pria tampan itu melirik sekilas lalu sibuk memainkan ponselnya.


" Kak antar aku ke tempat saudara aku ya " Eli.


" Aku sibuk " Nathanael bangkit.


Segera Eli menahan lengan Nathanael.


" Kak please " mohon Eli.


Nathanael membuang nafas kasar. Sebenarnya ia malas pergi karena ia mau menemui Leo dan bicara pada sahabatnya itu. Agar Leo tidak salah paham dengan berita yang sempat viral.


Nathanael hendak menolak tapi mulutnya terkunci saat pandangannya tertuju pada manik mata gadis itu. Nathanael diam terpaku pada gadis di sampingnya. Mata itu dan senyum itu mengingatkan dirinya pada seseorang.


Beberapa saat Nathanael terdiam lalu menyadari satu hal. Secepatnya pria tampan itu mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


Ada yang bergejolak di dadanya sesuatu yang asing menelusup di hatinya. Menimbulkan getaran halus tak kasat mata. Perasaan apa ini, gumam Nathanael. Pria tampan itu memijat pelipisnya.


" Ayo lah kak mau ya ya ya " Eli menggoyangkan tangan Nathanael.


Steve yang sedari tadi asyik dengan ponselnya mendongak.


" Sudahlah Xander mau saja " Steve.


" Gimana kak " Eli.


Entah mengapa ia tidak bisa menolak saat Eli meminta dirinya menemani gadis itu ke tempat saudaranya. Sedetik kemudian Nathanael mengangguk pelan.


" Makasih kak " Eli.


Saking senangnya Eli memeluk erat lengan kekar Nathanael sambil tersenyum.

__ADS_1


Membuat pria bertinggi 170 cm itu menahan nafasnya. Ini kali pertama dirinya sedikit merasakan aneh didekat gadis yang mirip cinta pertamanya itu. Huh! Nathanael kembali lagi menekan sesuatu yang baru saja mengaliri tubuhnya. Terasa seperti aliran listrik yang menyengat memenuhi hatinya yang membeku. Nathanael berusaha menetralkan detak jantungnya yang berpacu lebih cepat dari sebelumnya.


" Nanti sore jangan lupa ya kak " Eli mengembangkan senyumnya dan beranjak pergi.


Sebelum benar-benar pergi Eli mengacungkan jempolnya ke arah Steve. Tanpa sepengetahuan Nathanael tentunya. Steve membalasnya sambil tersenyum tipis.


Nathanael menatap kepergian gadis manis itu dengan perasaan tak menentu. Nathanael menggelengkan kepalanya.


Lebih baik aku kembali ke ruang kerja dan menyelesaikan berkas yang harus diperiksa, gumam Nathanael.


Nathanael bangkit menuju ruang kerjanya meninggalkan Steve sendirian. Sedangkan Steve pergi meninggalkan restoran milik sahabatnya itu.


Waktu merambat sore Nathanael telah menyelesaikan pekerjaannya. Huh, selesai juga akhirnya, gumam Nathanael.


Nathanael merentangkan kedua tangannya lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Tidak berapa lama pintu ruangannya diketuk.


Tok tok tok.


" Masuk. "


Sosok manis bak permen lolypop itu muncul dari balik pintu.


" Sudah jam berapa ini kak " Eli mendekat ke arah Nathanael.


Ah sudah sore rupanya, gumam Nathanael saat melihat jam dinding di ruangannya. Pria tampan itu teringat janjinya untuk mengantar Eli ke tempat saudaranya.


Nathanael membereskan berkas-berkas dan mematikan laptopnya lalu keluar dari ruangannya.


Eli menunggu di bawah tangga sementara Nathanael naik ke kamarnya dan membersihkan diri. Kini Nathanael telah rapi dengan baju kaos lengan panjang warna putih dan celana panjang jeans warna hitam. Tak ketinggalan sepatu sneaker nya Nathanael berjalan menuruni anak tangga.


" Ayo " ajak Nathanael setelah sampai di anak tangga terakhir.


" Astaga, kakak ini ngagetin saja " gadis manis itu mengelus dadanya.


Nathanael mengacak rambut gadis manis itu lalu melangkah keluar menuju mobilnya. Eli menggerutu sebal ketika rambutnya diacak-acak. Untung cinta, gumam Eli tersenyum sambil merapikan rambutnya. Eli masuk ke mobil duduk di sebelah kemudi sedang Nathanael duduk dibalik kemudi. Pria tampan itu melajukan mobilnya ke suatu tempat yang diberitahukan oleh Eli.


Nathanael mengeryit heran saat ia melewati jalanan yang tidak asing baginya. Apalagi setelah Nathanael turun dan keduanya masuk ke sebuah rumah sakit di mana saudara Eli di rawat.


Nathanael mengerutkan dahinya saat berdiri di depan ruang rawat saudara Eli. Ini kan ruang rawat Shasha, gumam Nathanael. Keheranannya berlanjut saat gadis manis itu memanggil kakak pada Shasha. Ada hubungan apa Eli dan Shasha kenapa gadis itu memanggil kakak pada Shasha.


Pertanyaan yang sempat muncul di benaknya hanya ia pendam di hatinya. Di sana ia juga bertemu dengan suami Shasha. Kelihatannya mereka cukup bahagia. Membuat Nathanael tersenyum masam. Ada nyeri yang seketika menghantam di dadanya.


Setelah Eli ngobrol cukup lama dengan sepupunya. Akhirnya Eli pamit pulang karena hari sudah malam. Nathanael dan Eli masuk ke dalam mobil, pria tampan itu melajukan mobilnya di jalanan yang tidak begitu padat.


Entah apa yang ada dibenak Nathanael saat ini. Pikirannya menjadi kacau hatinya sedikit tercubit saat melihat hal yang baru saja ia dengar. Nathanael sedang menebak tentang hubungan Eli dan Shasha. Tidak mungkin ini tidak benar ia berusaha menghilangkan rasa yang baru saja menyelinap masuk tanpa diminta oleh hatinya.


Berulangkali Nathanael menyakinkan dirinya hingga tanpa pria itu sadari ia telah menambah laju kecepatan mobilnya. Nathanael mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa mengindahkan tanda lalu lintas di depannya. Pria itu menerjang lampu merah begitu lah ia kalau pikirannya sedang kalut. Nathanael hampir tak terkendali kalau saja tidak mendengar jeritan gadis di sampingnya.


" Kak kakak berhenti kak, Eli takut hiks hiks " tangis ketakutan menyadarkan Nathanael.


Pria itu lalu menoleh ke sebelah dilihatnya tubuh gadis itu menggigil ketakutan. Nathanael yang merasa bersalah mengurangi kecepatan mobilnya. Lalu menepikan mobilnya dan mematikan mesin mobilnya.


Eli, gumam Nathanael pelan sambil menepuk jidatnya. Nathanael merengkuh tubuh yang gemetar itu masuk dalam dekapannya.


" Maaf " ucap Nathanael masih mendekap tubuh mungil itu yang sesenggukan.


Nathanael menyesal membuat gadis itu ketakutan.


" Maaf maaf Eli sudah tidak apa-apa kan " Nathanael menenangkan gadis itu.


Perasaannya sedikit khawatir melihat gadis itu menangis sesenggukan.


Natanael mengusap lembut pucuk rambut gadis itu lalu menghapus air bening yang menetes di kedua pipi gadis itu. Beberapa saat gadis itu mulai tenang Nathanael mengurai dekapannya.


" Maaf Eli maafkan kakak " gadis itu mengangguk.


Setelah di rasa gadis itu sudah tenang Nathanael melajukan kembali mobilnya pulang ke restoran miliknya.


******************


Semoga suka dengan ceritanya.


Cerita di bab ini ada di novel Maafkan Aku, Istriku...bab 89 dan 90 dengan perbaikan di sana-sini.


Okey, terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2