
Pagi harinya Leo sedang memberi pengarahan pada pegawai restoran milik sahabatnya itu. Saat telah selesai dan hendak berbalik ke ruangannya seseorang mendekat dan menyapanya.
" Leo " sapa wanita cantik itu.
Leo menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Grace ... , gumam Leo memegang dadanya yang tiba-tiba berdebar tak karuan. Leo menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya.
" Grace sepagi ini datang ke sini ada apa ? " Leo bicara setenang mungkin.
Grace mendekat dan berdiri di depan Leo.
" Xander mana ? " Grace.
Leo mengusap tengkuknya ditatap oleh wanita yang pernah ada dihatinya dan sedekat ini membuat Leo sedikit gugup.
" Hm dia masih di atas mari aku antar " tawar Leo.
" Ah tidak usah tunjukkan saja di mana kamarnya " Grace.
" Naiklah ke tangga itu " tunjuk Leo.
" Terimakasih Leo " menampilkan senyum manisnya lalu melangkah pelan mendekat ke tangga.
Leo mengangguk pelan dan membalas senyum Grace. Mungkin wanita itu tidak melihatnya karena keburu menaiki tangga.
Leo masih berdiri di tempatnya memandang tak berkedip Grace sampai wanita itu naik ke anakan tangga.
" Cantik ya kak " Simon tersenyum simpul di dekat kakaknya.
' Iya cantik... " Leo tanpa sadar berucap.
" Kenapa hanya diliatin saja " Simon.
Leo menggeleng pelan lalu menoleh ke samping. Ternyata di sebelah ada adiknya.
" Kalau suka ngomong saja, entar diambil orang baru nyesek " Simon.
Leo mendelik ke arah Simon.
" Ngomong apa kamu dah sana kerja " Leo.
" Ish kakak ini... " Simon terkekeh.
" Apa " Leo menatap garang.
" Jangan marah entar keburu tua nggak ada yang suka " tawa Simon meledak.
Ha ha ha.
__ADS_1
" Sudah sana kerja " Leo.
Simon terkekeh.
" Iya iya ... " Simon masih tertawa lalu melirik ke arah kakaknya.
Simon sebenarnya kasihan dengan kakaknya, karena selama ini hanya memikirkan orang tua dan adik-adiknya saja tidak mempedulikan kebahagiaannya sendiri. Kakaknya tidak pernah cerita pada keluarga nya tentang wanita yang dicintainya karena kakaknya itu termasuk orang yang tertutup. Tapi begitu peduli pada keluarga dan sahabatnya.
Setelah Simon pergi Leo berjalan masuk ke ruang kerjanya. Leo duduk bersandar memejamkan matanya. Memindai pertemuan nya dengan Grace beberapa hari yang lalu dan juga beberapa menit tadi.
Aaarggh, aku sudah bisa melupakan mu kenapa kau datang lagi ke sini. Leo memijat dahinya yang berdenyut. Leo melihat dirinya sendiri lalu membayangkan Grace yang begitu sempurna dimatanya. Perbedaannya sangat nyata sekali bagai bumi dan langit. Dia hanyalah pria miskin sementara Grace lebih cocok dengan yang sederajat dengan nya. Hm, tidak mungkin dia bersaing dengan sahabatnya sendiri meski dia tahu hati sahabatnya itu tertuju pada siapa.
Leo mengacak-acak rambutnya jelas-jelas wanita itu menyukai Xander, gumam Leo. Huh! Leo membuang nafasnya kasar menghilangkan sesuatu yang menyesakkan dadanya.
Sementara itu di lantai dua Nathanael sedang menikmati kopi hitam buatannya sendiri. Grace melangkah pelan mendekati teman semasa kecilnya dulu.
" Xander " sapa Grace.
Pria tampan bertinggi 170 cm itu menghentikan gerakannya. Lalu menoleh ke arah suara yang memanggil namanya.
" Grace " Nathanael menatap wanita itu yang mendekat ke arahnya.
Grace duduk di sebelah Nathanael menatap lekat pria tampan yang dikaguminya itu.
" Kau tidak apa-apa " Grace.
" Berita itu membuatku khawatir lalu cepat-cepat ke sini " Grace meraih tangan Nathanael dan menggenggamnya.
" Ah kau terlalu berlebihan Grace " Nathanael.
" Aku benar-benar khawatir padamu berita itu tidak benar kan " Grace.
" Berita apa pun itu tidak akan mempengaruhiku. Hanya orang yang kurang kerjaan saja dan memanfaatkan nama Xander agar dia dikenal banyak orang " Nathanael melirik Grace.
Grace mendengus sebal mendengar jawaban Nathanael yang terlalu percaya diri menurutnya. Nathanael sendiri menyesap kopi hitam kesukaannya yang mulai dingin.
" Lalu apa rencana mu selanjutnya " Grace masih menatap pria yang disukai nya itu.
" Tidak ada " Nathanael.
" Gimana dengan keluarga mu, kalau papamu..." ucapan Grace terhenti.
" Papa sudah tahu " potong Nathanael santai.
Grace menatap tak percaya pada jawaban pria di sampingnya.
" Kalian sudah berbaikan " Grace.
__ADS_1
Nathanael menggeleng. Grace menunggu penjelasan dari Nathanael. Menyadari wanita di sampingnya menunggu dirinya Nathanael memijat dahinya.
" Tanpa aku minta orang-orangnya akan melindungi ku " Nathanael.
" Iya kau benar. Ini juga untuk melindungi perusahaan papa mu " Grace.
Nathanael menatap wanita cantik disampingnya sambil melampirkan senyum hangat. Membuat yang memandang menjadi salah mengartikannya.
" Hm, apa kau datang sepagi ini untuk berita itu atau ada yang lain " Nathanael.
Grace ragu untuk mengatakan pada Nathanael. Beberapa saat Grace memberanikan diri mengutarakan keinginannya.
" Selain tentang berita itu mau tidak menemani ku " Grace.
" Kemana " Nathanael.
" Ke mall pusat kota sudah lama aku tidak ke sana " Grace.
" Oke, tapi kamu harus sarapan dulu " Nathanael.
Grace mengangguk pelan.
" Sudah kuduga kau pasti melupakan satu hal kalau sedang terburu-buru " Nathanael.
Nathanael bangkit berdiri melangkah ke dapur Grace mengikuti dari samping sambil bergelayut di lengan Nathanael. Keduanya sibuk di dapur lebih tepatnya Nathanael yang memasak dan Grace hanya melihat saja. Keduanya berbincang ringan hingga makanan itu telah matang. Grace membawa makanan itu ke meja dekat sofa. Nathanael membawa satu gelas jus alpukat untuk Grace dan sebotol air mineral untuk dirinya sendiri.
Sandwich isi sayuran dan jus alpukat kesukaan Grace telah tandas tak tersisa masuk ke perut Grace. Grace makan tergesa seperti orang yang tidak makan berhari-hari. Nathanael hanya melihat teman sekaligus sahabat semasa kecilnya itu melahap makanan buatannya. Sesekali tertawa kecil melihat cara makan Grace yang seperti anak kecil. Nathanael mengambil tissue dan mengelap sisa makanan yang menempel di sudut bibir Grace.
" Ternyata kebiasaan mu tidak berubah kalau makan selalu belepotan begini " Nathanael membuang tissue ke tempat sampah.
Grace tersipu malu dia suka dengan perhatian kecil dari Nathanael. Membuat dia menaruh harapan besar pada pria teman semasa kecilnya itu. Sementara Nathanael menanggapinya biasa saja.
Semua itu tak luput dari pandangan sepasang mata yang melihat kebersamaan Nathanael dan Grace. Dialah Eli gadis kecil yang manis bak lolypop itu memandang tak suka pada Grace. Eli melangkah dengan menghentakkan kakinya menuju tangga. Menatap Nathanael dan Grace sebentar lalu menuruni tangga dengan mulut bergumam tak jelas.
Nathanael melirik sekilas keberadaan Eli lalu kembali berbincang dengan Grace. Selesai makan sandwich buatan Nathanael, Grace menunggu pria tampan itu berganti baju.
Beberapa saat kemudian keduanya turun bersama. Nathanael dan Grace berjalan beriringan menuju mobil Grace. Nathanael membuka pintu untuk Grace lalu berjalan memutar dan duduk dibalik kemudi.
Nathanael melajukan mobil milik Grace ke mall pusat kota.
**************
Ada sedikit perubahan termasuk judul yang author ganti menjadi Pria Patah Hati.
Semoga suka dengan ceritanya maaf kalau up nya lama.
Jangan lupa like, komen dan vote nya ya.
__ADS_1
Oke, terimakasih.