
"a-apaa inii?!" teriak kami serentak
ruangan itu tak nampak seperti gudang sama sekali, sangat rapi.
"ru-ruangan ini,,, " ucap kakak gemetaran
"ada apa?" tanyaku
dia tak menjawab, dia terus menatap ke arah sebuah lukisan dengan tubuhnya yang gemetar tak henti. Kami masuk.
"tepat nya tempat ini adalah ruang istirahat, banyak sekali buku di sini" ujar Fuji
"entah mengapa, tubuhku rasanya dingin, ini terasa sedikit menakutkan" ucap Yoga
aku menyalakan lampu dan membuka gorden jendela agar lebih terang. Kakak semakin mendekati lukisan besar yang di pajang di dinding itu.
"ihh sepertinya di sini agak berdebu" ucap Nadya memegagi meja
tak sengaja aku melihat sebuah buku di bawah sofa, buku yang sedikit tebal dengan warna silver yang sangat mencolok. Aku mengambil nya
"ada apa disana kekei?" tanya Zara
aku berhasil menjangkau nya, saat ku lihat, sepertinya itu buku diary
"buku ituu,,, " ucap kakak semakin gemetar
aku heran tentunya, sikap kakak sangat aneh. Dia tidak pernah seperti ini sebelum nya, setakat apapun dia, dia tidak pernah gemetaran, aku menghampiri nya dan menyuruh dia duduk.
"ada apa kak?" tanyaku
dia belum menjawab, kami membuka buku itu bersama-sama
"hari pertama aku bersekolah di sekolah yang aku mimpikan. Dila, 17 Juli 2013" baca ku
"Dila ini sepertinya nama sang pemilik buku" ucap Arga
"lihat ini, di sini ada tanda tangan orang bernama Dila itu" ucap Talita sambil menunjukan
kami kembali membaca buku nya,
"ini hanya cerita kehidupan sehari-hari nya, mengapa kakak mu begitu gemetar, lihat dia" bisik Zara
kami membuka buka buku
"aku terpilih menjadi ketua OSIS, hati ini begitu senang. Dila 20 Juli 2013" baca Nadya
"jadi dia seorang ketua OSIS ya" ujar Fuji
kami terus membuka buka
"stop stop" ucapku "Aku di kalahkan oleh siswa baru, dua malaikat sekolah,,, sang genius keluarga ternama, dan seorang kelinci kecil yang marak di luar sana. Dila 23 Juli 2014"
"setiap kalimat nya seperti terdapat teka-teki" ucap Zara
aku tiba-tiba kaget, kakak memegang bahuku keras dengan tatapan serius yang sangat mencekam.
"aaaa" teriakku, sedikit menangis memeluk Zara
"ada apa kak?" tanya Zara
"di sinilah misteri terjadi" ucap kakak
kakak sangat mengagetkan ku, semua kalimat di buku itu membuatku sedikit tegang.
"misteri?" tanya mereka serentak
"oh ya, tahun yang di cantumkan di sini, tepatnya saat kakak masuk sekolah, berarti sang genius keluarga ternama itu,,, kakak?" ujar ku
kakak mengangguk,
__ADS_1
"dia sekretaris ku saat itu" ucapnya
"lalu di mana letak misteri nya?" ucapku heran
"itu di-" ucap nya belum selesai
"Ketuaaaa,,, ada di dalam? anggota osiisss? ini kepala sekolah" teriaknya sambil menekan belum terus menerus
suasana tiba-tiba hening, kami cepat-cepat keluar dan mengunci pintu. Kami berlari duduk dengan rapi di posisi masing-masing. Aku menghampiri pintu, dan membuka nya
"pak kepala sekolah, ayo silahkan masuk, maaf tadi kami sedang fokus" jelas ku
"oh tidak apa-apa" ucap nya masuk
dia pun duduk.
"ada apa hingga bapak datang kemari sendiri?" tanya Zara
"oh,, aku mau menanyakan tentang pertunjukan kalian" ucapnya "apa yang akan kalian tunjukan di akhir acara nanti?" tanya nya
"kami akan melainkan drama Cinderella" jelas Talita
"oh? bagus, aku menantikan kalian ya" ucapnya pergi
dia pun pergi menutup pintu
"eh? hanya itu yang ingin dia tanyakan?!" teriak kami heran
"sekarang lebih baik kita fokus untuk festival, soal misteri tadi, kita selesaikan setelah selesai festival sekolah" ucap ku
kami membeli peralatan, dan membuat semua nya di sekolah. Laki-laki mulai membuat properti dan perempuan menjahit.
"aku tidak bisaaaa" teriak Talita
"ayo, berusahalah Talita, baju itu buat Arga lohh" ejek Nadya
"sudahlah, kau juga membuat itu untuk peran kakak nanti" ejek ku
"heeee'? mana mungkin, untuk apa aku malu, kau juga membuat baju itu untuk Zara" ejek nya *memerah
"ehh,, aku memang membuat nya untuk Zara ku pria paling tampan sedunia yang paling aku cintai" ejek ku
mereka terdiam mengaku kalah. Kami melanjutkan nya hingga sore, lalu menyimpan barang-barang di dalam.
***
HARI FESTIVAL MAJESTIC
Pagi-pagi sekali aku dan Zara sudah berangkat, kami menuju gedung OSIS
"heyy, bagaimana caramu mengecat? lihat itu! itu! itu! dan itu! salah, harusnya kau mengecat seperti ini" Teriak talita
"ya ya ya,,, terserah kau saja" jawab Arga
"huh" Talita memenangkan wajah
kami masuk pun masuk ke dalam.
"aku mau warna biruuu Yaya jelekkkk" ucap kakak
"aku udah bikinin semua kompak warna merah, nggak usah banyak komen" jawab Nadya
"tapi aku mau beda dari yang lain" ucapnya
"ya sudahh,,, warnain aja pake sipdol sanaa" teriak Nadya kesal
Aku dan Zara duduk. Aku tiba-tiba teringat satu hal,
"Zara, aku baru ingat,,, ayo ikut aku" ucapku menarik tangan Zara
__ADS_1
kami pergi ke gedung sekolah, banyak orang yang menawarkan kami masuk, bahkan gratis.
"kita,,, mau kemana?" tanya nya
"ini diaa" ucapku berhenti di depan pintu
"kafe Romantis?" tanya Zara
"hiraukan nama nya, tapi aku yang memberikan resep dan menu nya, ayo masuk" ucapku
kami pun masuk, "selamat pagii" sapaku
"selamat datang pasangan, semoga hubungan kalian dapat terus berlanjut sampai akhir hayat" ucap mereka membungkuk
"ehhh ketua ternyata" ucap mereka "ayo silahkan duduk" lanjut mereka
Aku dan Zara pun duduk, mereka membawakan berbagai menu spesial mereka ke meja kami.
"silahkan menikmati, tuan, nona" ucap mereka
aku dan Zara pun mencicipi nya
"emmm,, enak kan? " ucapku
"yaa,,, enak, tapi lebih enak masakanmu" rayu nya
"hentikan, jangan membuat wajahku matang di sini" ujarku
kami tertawa bersama
"haa,,, yang mulia" teriak seseorang
kami melirik dan ternyata itu adalah kafta
"ada apa?" tanya ku
"tidak, hanya menyapa saja" ucapnya
"waktu menyapa mu tidak pas, apa kau tidak lihat kami sedang romantis berdua" ucap Zara kesal
aku dan kafta tertawa, "kalau begitu, aku pergi dulu" ucapnya pergi
"sepertinya para siswa sekah furuko sudah datang, sebaiknya kita cepat selesaikan makan, aku tidak mau di kerumuni banyak orang" ucapku
"hemm,, oke" ucapnya
kami menyelesaikan makan dan membayar nya. Lalu kami bergegas keluar, Zara memegang tanganku selama kami melewati keramaian tadi.
"hahh *hela nafas,, akhirnya keluar juga" ucapku
kami saling menatap dan tertawa
"huh, apa kalian tidak malu terus bergandengan seperti itu?" ejek
"Vi-via?!" ucapku kaget "mengapa kau ada di sini?" tanyaku
"ini terbuka untuk umum, terserah aku dong" ucapnya "udah sih, apaan pegangin kakak terus" lanjutnya
lagian yang pegang juga bukan aku Pikirku
Aku kaget, Zara tiba-tiba menggendong ku, Via tampak sangat terkejut
"kau menghalangi jalan kami nona, istriku terpeleset tadi, aku akan menggendong nya pergi" ucap Zara pergi
"ka-kakak?!!" via Heran
aku dan Zara pergi menuju gedung OSIS, aku terdiam dan tak bisa mengatakan apa-apa
Bersambung...
__ADS_1