
sore itu Zara datang ke rumah untuk menjemput ku. Aku pulang bersamanya,,,
"soal yang tadi,,, aku benar-benar minta maaf, aku sudah menghukum nya" ucap Zara
"oh, ya terimakasih"
Aku sedang tidak ingin bicara dengan orang lain. Zara tampak tidak senang, tapi aku juga tidak terlalu memikirkan hal itu, dia percaya atau tidak bukan urusanku.
setelah sampai kami menuju ruangan kami dan aku buru-buru masuk ke kamarku,
"huhhh,, apa yang membuatku jadi begini?"
Zara mengetuk pintu,
"kekei,,, apa kamu masih marah?" tanya nya
"nggak"
"tapi kau tidak membuka pintunya" teriak nya
aku membuka pintu dan sangat kaget, dia langsung memelukku saat aku membuka pintu.
"aku tidak senang ketika kau bersikap dingin padaku, aku sungguh meminta maaf, apa yang harus aku lakukan agar kau kembali tersenyum?" ucapnya
tentu saja aku sangat kaget dan malu, walau hati ku sedikit senang tapi,,, ini terlalu mendadak. Aku membalas pelukan nya
"a-aku-" ucapku terpotong
"Pangeran!" teriak seseorang membuka pintu
kami kaget dan serentak melepaskan pelukan
"Kaafffftaaaaaa" Zara kesal
"ma-maaf, aku tidak sengaja hehehe"
"untuk apa pintu terbentang di sana jika kau tidak mengetuk pintu dulu" ucap Zara kesal
aku hanya diam menunduk
a-apa yang baru saja aku lakukan?!
"maaf, tapi ada tamu yang ingin bertemu denganmu" ucap kafta
"timing nya sangat tidak passs! aku akan ke sana, keke-"
"ce-cepat pergi te-temui tamu, a-aku akan memasak makan malam untuk mu" ucapku langsung masuk dan menutup pintu
"ka-kaaafftaaaaaaa" teriak Zara
"maaaaafff yang muliaaaa" teriak nya berlari
setelah mereka keluar, aku pergi ke dapur.
"tuan putri, anda akan memasak lagi?" tanya koki
"ya,,, untuk Zara"
"wahh, kau memang tunangan yang perhatian" ucap mereka serentak
aku mulai memasak
"oh ya, katanya ada tamu untuk Zara, siapa tamu itu?" tanyaku
"entah,, sepertinya dari negara sebelah"
negara tetangga?
setelah selesai, aku membawanya ke ruangan dan meletakannya di meja, lalu pergi mandi dan mengganti baju. Aku keluar, menuju ruangan musik.
"tuan putri, sepertinya anda sudah terbiasa dengan pakaian-pakaian itu, apa anda ingin pakaian baru untuk di kirim?" tanya pelayan
"tidak perlu, lemari ku tidak akan cukup untuk banyak baju, lagian nggak akan kepake semua"
aku masuk ke ruangan musik dan bermain piano sambil bernyanyi, tidak lama dari itu, ada seseorang yang ikut bernyanyi bersamaku, aku membereskan lagu, lalu melirik ke arah pintu.
Seorang laki-laki tampan yang sangat berwibawa.
__ADS_1
"apakah anda tunangan nya Zara?"
"oh, yaa aku keiza" jawabku
tiba-tiba kalung yang ada di leher nya bersinar terang, lalu dia memegang kepala kesakitan.
"tuan, apa yang terjadi?! aku akan panggilkan tabib istana" ucapku panik
"tidak, tidak perlu, ucapnya berdiri" kalung itu mulai meredup
aku heran, ada apa,,, tentu nya aku panik jika dia pingsan di sini, apa lagi jika Zara melihat nya.
"akhirnya,,, "
"akhirnya?" tanyaku
"tidak, kalau begitu aku permisi, lain kali ayo kita bermain piano bersama" ucapnya pergi
"ya,,, aku menunggu kehadiran mu lagi tuan" ucapku
diapun pergi. Dia benar-benar misterius,
"kekei, sedang apa kau berdiri di situ"
"Za-zara, tidak tadi aku sedang bermain piano, lalu tadi seperti ada yang berisik, jadi aku keluar" ucapku kaget
"berisik? di mana? aku akan kesana"
"ti-tidak tidak, sekarang sudah berhenti, lebih baik kita makan, ini sudah malam" ucapku langsung menggandeng tangannya
***
esok nya,,, kami ke sekolah, dari jauh sudah terlihat mereka sedang mengecat.
"pagii" sapaku
"pagiii" jawab mereka serentak
"Nadya mencari menunggu mu" ucap kakak
akupun masuk, mereka serentak memanggil namaku
"ada apa?"
"kau tidak akan percaya dengan apa yang kita temukan" ucap Talita
"apa?"
"tadi Nadya sedang membuka-buka laci, di bawah lemari ada sebuah amplop surat dengan ini soal R" ucap Fuji
"R?!" ucapku heran
kami membuka amplop surat itu,
"yang baik pasti akan mati" tertulis seperti itu
"ini seperti sebuah kata amanat" ucap Nadya merinding
kami memasukkan kembali kertas kedalam amplop, dan menyimpan nya ke laci.
"lebih baik kita fokus untuk tampilan esok, setelah nya baru kita cari tau tentang ini" ucapku
kami kembali menjahit. Ibu kantin sekolah furuko datang membawa banyak makanan.
"ahh,, bibi, terimakasih ya bibi" ucap ku
"haha, tidak perlu di pikirkan," ucapnya
"apa bibi sudah menghafal naskah nya?" tanyaku
"tenang saja, peran ku sedikit, jadi sudah hafal"
kami melanjutkan hingga sore,
"sedikit lagi selesai padahal" ucap Nadya
"kita pulang ke rumahku bawa semua baju yang belum selesai" ucapku
__ADS_1
"ru-rumah mu?!" ucap Fuji dan Talita serentak
"ya, ada apa?"
"tidak"
aku keluar dan memberitahu para pria, mereka setuju untuk menyelesaikan di rumahku.
kami pulang membawa semua barang yang belum selesai.
"ayahhh, bundaaa" teriakku masuk duluan
aku menemui mereka,
"ada apa ?" tanya ayah
"ayah hari ini teman-teman ku akan menginap, untuk menyelesaikan properti untuk kami tampil besok boleh ya" ucapku
"tentu saja, ajak mereka masuk, jangan biarkan di luar, dingin" ucap ayah
aku membuka pintu
"dimana yang lain?" tanyaku
"mereka bersama kakak mu masuk ke GOR"
"eeee?" aku heran "kak Adiii" teriakku
diapun datang menghampiri
"ada apa nona?" tanya nya
"tolong bawakan barang-barang ini ke kamarku ya" ucapku "ayo masuk"
mereka mengikuti ku,
"ehh,, hanya berempat?" tanya bunda
"yang lain di ajak kakak mengerjakan di GOR" ucapku
"bukannya di bawa masuk dulu, malah di bawa langsung kerja" ucap Ayah
"tidak perlu Sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri" ucap ayah "ya kan Nadya, tidak perlu pura-pura pendiam" ejek nya
"oommmm" ucap Nadya kesal
kami naik ke kamarku. Kami pun masuk.
"kau tunangannya atau fans nya?" ucap Talita heran
aku tertawa kecil
"rumah mu besar sekali" ucap Fuji
"mereka biasanya selalu memperbesar nya setiap 2 tahun sekali" ucap Nadya
aku menelpon Zara
"Ya, ada apa. kekei?"
"kau,,, apa kau tidak akan di cari oleh ibu dan kaisar?" tanyaku
"tenang saja, aku sudah mengatakan semua nya pada ayah, kita di izinkan untuk malam ini saja"
"oh, baiklah, jika sudah selesai, ajak semua nya untuk ke atap ya" ucapku
"baiklah, selamat malam. istri ku" ucapnya
"is-is,,,selamat malam" aku menutup telpon
kami melanjutkan menjahit sambil membicarakan misteri itu
"aku menemukan foto saat kakak menjadi OSIS, orang yang ada di foto itu salah satunya pasti adalah Dila sang penulis buku itu" ucapku
"aku jadi semakin penasaran, apa yang membuat orang menyebalkan itu takut" ucap Nadya
"itu dia yang aku pikir kan, mungkin nanti kita punya cara untuk mengejek nya dengan kelemahan nya, hihihi" ucapku
__ADS_1