
kami mencari Rena berkeliling rumah
"bibiii" sapa ku
"ehh nona muda, ada apa anda sampai pergi ke dapur?" tanya bi Lia
"Rena di mana bi?" paman
"Rena sedang menjemur baju di belakang"
Kami pergi ke belakang. Rena adalah anak dari pembantu rumah kami, mereka sudah tinggal di rumah sejak Rena masih dalam kandungan.
"Renaa!" panggil ku
Rena melirik pada kami,
"Kekei?! ehh nona,,, ehh tuan putri maksudku" jawabnya
"panggil aku kekei aja kali, aku bantu jemur baju nya yaa"
"tidak, jangan, ini pekerjaan ku" ucap Rena
"sudahlah, aku bantu, paman kecil, ayo cepat bantu" ajakku
"aku?"
"kalau tidak mau tidak perlulah"
"Kevin,,, Kevin,,," panggil dari dalam
"yahh aku di panggil" ucap paman
"ya sudah, pergi saja, aku akan bermain bersama Rena" ucapku
diapun pergi, aku membantu Rena hingga selesai, kami berkeliling rumah
"aku tidak menyangka impianmu bisa benar-benar tercapai"
"oh ya? aku juga masih tidak percaya sekarang aku adalah tunangan dari Zara" jawabku
"pasti banyak orang yang iri pada mu, kau harus menjadi lebih kuat untuk menghadapi mereka semua"
"itu sudah pasti, bagaimana dengan kau? apa kau sudah menemukan cintamu?" tanyaku
"cinta? tidak, aku belum memiliki niat untuk jatuh cinta" jawabnya
"aku yakin kau akan mau, secepatnya"
Kami pergi ke gazebo,
"Nadya?"
"Kekei?, siapa yang sedang bersamamu itu?"
"ouh, perkenalkan, ini Rena" jawabku
"ouhh dia Rena yang suka kau ceritakan itu?"
"yaa"
"hai Nadya, Kekei juga sering menceritakan mu padaku, kau secantik yang di bicarakan Kekei"
kami duduk dan mengobrol bersama
"Kekei, maaf, aku memberitahu Zara tentang kau pingsan, aku sangat khawatir"
"tidak apa-apa Yaya, dia akan menjemput ku besok" jawabku
"maaf gara-gara aku kau jadi bertengkar dengan kakak mu" ucap Nadya
"sudahlah, jangan dipikirkan, kakakku memang harus diberi pelajaran" ucapku
"kau tidak perlu bertengkar lagi, lagian aku dan kakakmu sejak awal memang tidak memiliki perasaan apapun"
"kalau begitu, paksa saja ayahmu untuk membatalkan pertunangan ini"
__ADS_1
"ti-tidak mau"
"aku tau, kau tidak perlu bersembunyi lagi" ucapku
"sudahlah, jangan bahas ini lagi" ucap Nadya
Kami membicarakan hal lain.
Tiba-tiba jepit rambut Nadya jatuh ke sungai kecil dekat gazebo, Nadya mau turun untuk mengambil nya,
"ini"
"kakak?" ucapku
"nggak sengaja lewat" jawabnya
"oke kalau begitu, aku dan Rena pergi dulu ya, kami mau jalan-jalan"
Kamipun pergi, kami naik mobil.
"tuan putri, kita akan pergi kemana?" tanya supir
"hmm,,, ke,,, sungai?" jawabku
"sungai?" tanya supir
"iya, tidak perlu banyak bicara, ayo kita pergi saja"
kamipun berangkat, sungai itu adalah tempat aku, Rena, dan Alfi bermain saat kami masih kecil.
***
Kamipun sampai, aku dan Rena turun.
"pemandangan nya masih tidak berubah" ucapku
"kau masih ingat tempat ini?" tanya Rena
"tentu saja, aku tidak akan pernah lupa, apalagi sekarang kak Alfi tidak pernah ada kabar" ujarku
"kau bahkan lebih merindukan nya dibandingkan aku" ledekku
"Ke-kekei" ucapnya malu
Rena menyukai kak Alfi sudah sejak lama, tapi kak Alfi tidak pernah menyadarinya, dia sangat polos dan ceria, tidak pernah ada orang yang berani membentaknya, tetapi saat aku berumur 10 tahun, dia dan keluarganya ada pekerjaan di luar negri, dia hanya berjanji pada kami, bahwa dia akan kembali setelah urusan pekerjaan keluarganya selesai, tapi dia tidak pernah kembali lagi.
"dia sangat baik dan lembut, bagaimana mungkin dia tidak akan menyukai Rena" ujarku
"tidak, tidak, kak Alfi selalu menyukaimu, kau tidak pernah melihatnya" jawabnya
"wanita kasar sepertiku? mana mungkin, jangan bercanda" ucapku tertawa
"kau memang lucu Kekei"
"nona, apa diam di sini tidak panas? apa perlu saya ambilkan payung?" tanya supir
"tidak perlu, aku sudah terbiasa" jawabku
Aku dan Rena memandamgi air sungai yang mengalir cepat bagaikan kenangan kami, kami mengobrol mengenai masa lalu yang kami habiskan di tepi sungai ini.
Tiba-tiba ada yang menelponku, aku mengangkat telponnya,
"Kekei?"
"ya Zara?" tanyaku
"haiihhh, cepat pulang" ujarnya
"besok, sabarlah sebentar" jawabku
"di sini sangat sepi, dan masakan para koki juga tidak enak" ucapnya
"masak sendiri, aku akan pulang besok, padahal baru saja aku berangkat dari sana" ucapku "bekerja saja dulu, aku sedang bermain dengan teman lama" ucapku
"jahat" ucapnya
__ADS_1
aku menutup telpon.
"pangeran?"
"yaa,, dia mengganggu saja" ucapku
"enak yaa, kau ada seseorang spesial yang selalu menunggumu" ucapnya
"berjuanglah, aku yakin sebentar lagi kak Alfi akan pulang, saat itu, kau harus lebih berani untuk menunjukkan perasaanmu padanya" ucapku
"ya, aku akan berusaha, sama sepertimu" ucapnya
"ya, berusahalah sebaik mungkin" ujarku sambil menepuk-nepuk pundak nya
Aku melihat pedagang ice crime keliling yang biasa kami beli dulu,
"lihat itu, ayo kita beli" ucapku berlari menarik Rena
"aduduh, tunggu, pelan-pelan" ujarnya
kami menghampiri pedagang itu.
"paman, selamat siang" sapaku
"Rena,,, anda,,,, ah yang mulia" ucapnya menunduk
"aku masih Kekei yang dulu paman, paman tidak perlu begitu" ucapku
"sudah lama sekali paman tidak melihat kalian bermain di tepi sungai ini semenjak Alfi pergi" ucapnya
"hehehe" kami serentak tertawa
Pamanpun memberikan kami ice crime yang biasa kami pesan dulu, kami dan paman duduk di tepi sungai bersama sambil memakan ice crime
"Aku seperti tidak ingin pulang" ujarku
"Kau akan segera menjadi anggota keluarga kerajaan, jangan bicara seperti itu" jawab paman
"Tapi, aku juga ingin menunggu kak Alfi pulang bersama mu Kekei" ujar Rena
"yaa,,, Kak Alfiiiiii cepat pulang!!!" teriakku
"Kak Alfiiiii kami rindu!!" lanjut Rena
"haiihh,,, kalian benar-benar tidak pernah berubah ya,"
Kami terus berteriak, berharap ada seseorang menjawab, tapi sekeras apapun kami berteriak, tidak akan pernah di jawab oleh kak Alfi.
"sekeras apapun tidak akan di jawab, di sekitar sini hanya ada air, tanah, rumput, dan batu" ucap paman
"batu?,,, itu dia!" ucapku
"apa?" jawab mereka serentak
"kita sering bermain lempar batu menyebrangi sungai, siapa yang sampai duluan itu yang menang" ucapku
"kau masih ingat cara melempar nya?, aku sepertinya jadi semakin kaku" ucap Rena
"jika tidak di coba, bagaimana bisa tahu?" jawabku
Aku berdiri dan mengambil sebuah batu,
"lihat ini, perhatian baik-baik, kali ini juga pasti sampai
aku melempar batu nya, dan malah langsung tenggelam,
"oke sekarang pasti bisa" ucapku
aku memegang nya dengan baik, lalu melemparnya dengan teknik yang di ajarkan kak Alfi, dan ternyata Samapi di tepi, tapi,,,
"Yeeeee sam-" ucap kami serentak terpotong
"sampai"
"!!!!"
__ADS_1
Bersambung...