
"atas perintah kerajaan cepat ikut kami!" ucap Zara tegas
Semua terkejut dengan perkataan Zara, dia begitu sangat marah. Shasya tampak sedikit senang aku khawatir ada yang sedang dia rencanakan.
"jika bukan karena perlindungan dari kekei, perusahaan keluargamu tidak akan bertahan saat ini!!" ucap Nadya membemtak shasya
"dia memicu kemarahan pangeran" "keluarga Ray tidak akan memaafkannya sekarang" "aku heran dengan pemikirannya" desas desus
"Shasya, saya mohon untuk ikut saja dengan mereka" ucap Shela
Shasya adalah anak manis yang terlihat samgat lugu, dulu dia sangat ceria dan menyenangkan, aku heran, apa rasa iri begitu hebat pengaruhnya?.
Aku, Zara, Nadya, dan Shasya keluar dan pergi ke ruang OSIS, yang lainnya tetap mengerjakan tugas.
Shasya duduk di kursi
"sebenarnya apa yang kau mau?!!" ucap Nadya
"a, aku hanya ingin menjadi bagian dari kalian, aku ingin menjadi sekretaris OSIS aku ingin membantu, apa itu salah?" tanya shasya menangis
"hah? Apa kau pikir harus mempercayai seseorang yang memperburuk nama seseorang?" tanya Nadya
Zara hanya berdiri memegang bahuku, aku tak tahu harus mengatakan apa, hal yang paling menyakitkan dalam hidupku adalah kejadian tahun itu.
"apakah kita tidak bisa menjadi seperti dulu? Apakah kita tidak bisa bersenang-senang bersama? Aku ingin kita kembali bersama, aku ingin mengejar kalian, aku mohon berikan aku kesempatan, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini" jelas Shasya
"kita bisa seperti dulu lagi,, aku memberimu kesempatan lagi,, jangan menyia-nyiakan kepercayaanku kali ini," ucapku
Nadya tampak terkejut,
"ikuti jalan yang dipilihnya,," bisikku pada Nadya
Nadya terdiam,
"kau boleh membantuku mengurus tugas sekretaris" jelas nadya
Akupun kembali duduk dan mengerjakan tugas, Zara duduk membantuku. Shasya terus melihat ke arah kami, aku tidak tahu apa yang dipikirkannya sekarang.
"ketua, sudah dikumpulkan!" teriak arga dari luar
"Zara, urusi saja olehmu, tolong yaa" ucapku
"tenang saja, aku akan mengurusnya" jawabnya sambil pergi
Aku kembali mengerjakan tugas,
"shasya, kenapa kau masih diam? Bukankah kau ingin membantu Yaya?" tanyaku
"se-sepertinya aku ingin ke toilet,, sebentar saja kok" ucapnya
"k-kau-" ucap Nadya terpotong
"ya,, silahkan," ucapku
Dia pun keluar, Nadya tempak sangat suram, dan marah, aku tahu dia pasti marah besar, tapi aku tidak bisa seperti ini terus,
"Yaya, coba lihat kesini, cewek pembohong itu berbohong dengat tidak rapi" ucapku sinis bersandar di jendela menatap lapangan
"Dimana akal sehatnya ya ampuun" jawab Nadya kesal
Aku hanya tertawa
"aku tidak mengerti apa isi otak seorang jenius sepertimu, mengambil keputusan ini" ucapnya heran
__ADS_1
Aku tertawa pada Nadya, dan mengajaknya keluar, diperjalanan kami terus ditatap oleh para siswa, mereka selalu mengagumi pekerjaan kami,
"m, maaf nona,,," ucap salah satu murid "a, aku melihat pangeran Zara bersama shasya tadi, terlihat sangat dekat dam akrab, ini fotonya" lanjutnya menunjukan
"wahhh,, dekat sekali,,, pangeran jahat padaku" ucapku
"yaa,,, tinggalkan saja, biarkan mereka hidup bahagia, mencintai bukan berarti harus memiliki" jawabnya
"ohh, siapa yang mengizinkanmu mengambil foto tuanganku? Mengapa kau ada di sana? Megapa kau memintaku meninggalkan tunanganku? Bagaimana kau melihat mereka? Jika kekurangan uang, katakan saja padaku, tidak perlu bekerja menjadi seorang penjahat untuk orang lain, aku akan mengurusmu nanti" ucapku sambil kembali berjalan
Sudah sangat jelas foto itu di crop, apa dia pikir aku bodoh?. Nadya terus terlihat sangat kesal, sampai kami tiba di lapangan. Aku melihat Shasya sedang menggenggam tangan Zara.
"a, apa aku datang di saat yang tidak tepat yaa" ucapku
"Kekei" ucap Zara
"tadi pangeran Zara terlihat ingin mengelus kepalaku, aku langsung menahan tangannya saja" ucapnya dengan mata berkaca-kaca
"ha?" semua setentak
"pangeran jahat padaku, mengapa kau lakukan ini?" ucapku dengan nada terpukul
"maaf yaa, aku tidak akan mengulanginya lagi" jawabnya memelas
"hah?" serentak heran
"suruh saja mereka membersihkan toilet selama 1 minggu, ayo kita kembali" ucapku tersenyum
Aku sudah sangat sulit mengontrol ini, aku berjalan menggandeng Zara
"apa kau tidak marah?" tanya shasya
"tidaak, mengapa aku harus marah dengan hal sepele?" tanyaku so polos
Kami kembali bekerja, yang lain hanya duduk di sofa,
"Nadya, ini aku tidak mengerti" ucap shasya
"coba tanyakan pada ketua" jawab Nadya
Dia berjalan ke arah meja aku dan Zara
"pangeran, aku tidak mengerti ini" ucap shasya
"maaf apa kau lupa ingatan? Ketua kita itu keiza, kasihan kan kalau kamu malu salah manggil ketua" ucap Talita
Aku menahan tawaku ketika dia bertanya dan aku menjelaskannya, lalu kembali duduk. Beberapa menit kemudian
"Zara apa kau lapar?" tanyaku
"yaa, sedikit" jawabnya
Tiba-tiba..
"biar aku yang memasak untuk mu" teriak shasya
"kau bisa memasak?" tanya Yoga
"aku juara 1 memasak antar kelas, jangan ragukan itu pangeran" ucapnya
"oh kalau begitu kami lapar, jadi buatkan juga ya" ucap Fuji
Dia mulai memasak dengan wajah kesal, meraung di tempat yang salah pikirku. Dia membawakan masakannya ke meja, kami berkumpul untuk mencicipinya
"aku tidak tahu selera kalian, tapi anak remaja yang bisa memasak saja sudah terhitung hebat sekarang, mustahil bila ada yang sempurna" ucap shasya
__ADS_1
Kami mulai mencicipi masakannya
"bagaimana menurutmu kekei?" tanya Yoga
"emm,, lumayan" jawabku
"Lu, lumayan?!" ucap shasya heran
Sebenarnya masakan nya sangat biasa saja, tidak ada selera. Haduhh
"sepertinya aku masih lapar, tuan putri masakin aku makanan dong" rayu Zara
"kami pun" serentak
Aku pergi belanja sebentar lalu pergi memasak. Aku memasak makanan kesukaan Zara.
"wangi sekali," serentak
"ternyata kekei bisa memasak ya" ucap shasya
Aku menghidangkan makanan ku, dan mereka mencicipinya
"enak bangeet" ucap Nadya
Shasya tampak sangat terkejut.
"Zara tolong temani aku membeli minuman" ucapku
"biar bersamaku saja, kekei kamu kan udah masak, jadi biar aku saja" ucapnya
"ouhh kalau begitu terimakasih" ucap ku
"untukku juga ya" ucap Zara
"untukku juga ya" ucap yoga
"kamipun, kau sangat bisa diandalkan" ucap Nadya Fuji Talita dan Arga
"sendirii?! " tanyanya
"aku harus menemani kekei bekerja, jika mau di antar, antar saja oleh Yoga" ucap Zara
"tidak perlu" ucapnya pergi
Mereka mulai menatapku
"apa yang ada di otak tuan putri sekarang,,?" tanya Zara
"Untung aku mengikuti skenario dengan baik" ucap Talita
"tidak ada maksud tersembunyi" ucapku tertawa
"bohong!! " serentak
Aku hanya tertawa
"entahlah, sudah jelas perempuan itu genit, aku ingin memarahinya!!" ucap Fuji
"si jenius ini sedang bertingkah bodoh" ucap Nadya
Mana ada perempuan yang mau cowok nya di genitiiin!! Pikirku
"aku kembali!!" teriak shasya menggebrak pintu
Bersambung
__ADS_1