
"sampai"
kami terkejut dengan apa yang kami lihat.
"K-Kak Alfiiiiii?!" ucap kami serentak
"hai" sapanya
Dia menyebrangi sungai lewat jembatan, kami duduk bersama.
"Sejak kapan kakak pulang?" tanyaku
"hari ini, aku mendengar seseorang memanggilku" ujarnya
"Rena sangat merindukan mu lhoo" ejek ku
"Oh ya?" ucapnya tertawa
Kami membicarakan masa lalu kami di tempat ini, sampailah pada pertanyaan
"Kekei, apa benar kau sudah bertunangan?"
Aku terdiam, melihat Rena sedikit murung
"ya,,, aku sudah bertunangan, kau tahu?! dia adalah orang yang selalu aku kagumi" ucapku berbinar-binar
"hihihi, Kekei selalu gembira saat membicarakan nya"
"Tentu saja" jawabku
"Selamat untukmu" ujar kak Alfi
"Su-sudahlah, ayo kita pulang, hari sudah mulai gelap" ucapku
"Ta-tapi,," ucap Rena
"Baiklah, aku akan pulang lebih dulu" ucapku
"kenapa kau sangat buru-buru?" tanya Rena
"apa kau tidak melihat, di atas sana?"
"P-paman kecil mu" ucapnya berbisik
"Kak Alfi, antar Rena pulang yaa" ucapku pergi
aku masuk mobil bersama paman
"pergi begitu lama, apa kau tidak ingat alasanmu pergi kesini? nenek dan kakek mu ingin melihat mu di rumah"
"paman kecil jangan marahlah" ejek ku
kamipun pulang,
"dari mana saja kau?" tanya kakek
"dari mana lagi jika bukan diam di tepi sungai" jawab paman kecil
"sudah kakek bilang jangan bermain di sana, di sana terlalu sepi"
"sudahlah, aku sudah pulangkan?"
"kemari, cepat makan"
Aku duduk, dan nafsu makanku hilang saat melihat Rara
"Nenek, mengapa paman kecil tidak sekolah di sekolah?" tanyaku
"paman kecilmu sangat sibuk,,"
"aku belajar di rumah dong, siapa suruh kamu tidak mau tinggal di sini" ejeknya
"haihhh, sekolah itu seru lhoo" ejekku balik
Kamipun makan. Selesai makan, kami pergi menonton TV, kakak dan Rara sedang tertawa bermain bersama anak kecil itu.
sangat mengganggu!
"nenek, aku ingin istirahat, sangat lelah hari ini, apa nenek mau menemaniku tidur" ucapku memelas
__ADS_1
"kau sudah besar tidak pernah berubah" ucap paman
"biarkan saja, jika tidak seperti itu siapa lagi yang akan melakukannya? dia masih bayi kesayangan nenek mu" ujar kakek
aku dan nenek pergi ke kamar,
"mengapa nenek menerima dia untuk menginap di sini?"
"semua terserah pada kakakmu, kebenaran akan terungkap seiring dengan berjalannya waktu" jelas nya
"aku merasa, kemiripan anak itu bukan pada kakak, walau sepertinya ada kemiripan dari keluargaku Ray" ujarku
"tidurlah"
akupun pergi tidur. Esoknya,,,
Aku sedang menyiram tanaman di halaman bersama paman dan kak Alfi,
"kapan kau akan pulang?" tanya kak Alfi
"hari ini, aku akan sering berkunjung kemari jika kakak tidak pergi lagi, kita jadi bisa bermain di tepi sungai lagi bersama Rena" ujarku
setelah selesai menyiram tanaman kami tergeletak di rumput, menatap langit, terdengar suara klakson mobil, dan masuklah mobil ke halaman.
dari atas aku melihat ada air susu yg di tumpahkan dari lantai dua, aku menyadari nya tapi tidak bergerak sama sekali, kak Alfi menerima airnya agar tidak mengenaiku.
"Woii siapa di sana!!" teriak paman kecil
aku hanya diam karena sedang melamun,
"untung sempat"
"ah, maafkan aku kak, aku malah diam" ucapku langsung berdiri
"apa yang sedang kau lamunkan" ucap paman mendorong kepalaku
aku melihat ke atas
"maaf, aku kita tidak ada siapa-siapa" ucap Rara
"untuk apa kau memiliki mata?!" ucap paman
"sudahlah" ucapku "bibiii" teriakku ke dalam
"ya kei,"
"tolong antar kak Alfi ganti baju" ucapku
"tidak, tidak perlu" ucap kak Alfi
"jangan membantah!"
"kau selalu seperti itu" ucapnya mengelus kepala
"Kekei,,"
aku berbalik
"Zara?" ucapku kaget
"salam pangeran" mereka memberi salam pada Zara
"wahh cepat sekali kau datang, sejak kapan?" ucapku
"di sana sepi sekali tanpa mu, ibu menyuruhku menjemputmu cepat-cepat"
aku sadar, klakson mobil yang kudengar tadi adalah mobilnya. Dia merangkul bahuku dan menarikku kedalam
"terima kasih" ucap Zara pada kak Alfi
terimakasih??
"tentu saja" jawabnya
kami masuk dan duduk di sofa bersama kakek dan nenek, mengobrol untuk waktu yang cukup lama
mengapa dia bisa akrab secepat ini dengan kakek dan nenek?!
"kekei, ajak cucuku ini berkeliling" ucap kakek
__ADS_1
"hooo, kakek sudah punya cucu baru ya"
"hahaha"
aku mengajak nya berkeliling, kami melihat Nadya sedang duduk melamun sendiri
"Nadya? kenapa dia ada di sini?" tanya Zara
"biarkan dia sendiri" ucapku
melihat Rara berkeliaran bersama anak itu seperti di rumah nya sendiri membuatku sangat jengkel
"ehh adik, pangeran" sapanya
"aku bukan adik mu" ucapku
"tunggulah sebentar lagi, mau tidak mau kau harus menerima kakak iparmu dan ponakan kecilmu ini" ucapnya
"Kau begitu percaya diri, apa yang membuat mu sangat yakin?" tanyaku
"karena, aku tidak mungkin gagal" ucapnya sambil pergi
"ka-" Zara menahanku
kami kembali berkeliling,
"mengapa kau terlihat sangat senang?" ucapku masih sedikit kesal
"tentu saja, aku sedang berkeliling di tempat kau di besarkan, seperti melihat kau sedang berlari dan bermain disini" ujarnya
wajahku mulai memerah,
apa-apaan itu
"hemm, kau suka dengan perkataanku?" ejeknya
"Ti-tidak"
"aku bisa mengucapkan hal-hal manis setiap hari, karena kau adalah milikku selamanya" ujarnya
aku tertegun,
"bahkan jika nanti kau menemukan seseorang yang lebih baik dariku dilihat dari segi apapun, kau tetap akan berpaling, dan lagi kau bisa memiliki selir kapanpun kau mau, aku sangat takjub pada ayah mu yang sangat setia pada ibumu" ucapku
Zara tertawa
"apa itu? itu tidak mungkin terjadi" ucapnya tertawa
"apa yang lucu, aku serius" ucapku murung
"hahaha, tenang saja"
setelah berkeliling, kami berjalan kembali ke dalam.
"aku sudah tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk Yaya, mungkin dia hampir membenciku karena aku terlalu ikut campur" ucapku menunduk
"kau sudah melakukan yang terbaik, jika dia mengatakan kau terlalu ikut campur, maka berhentilah, mungkin dia merasa dirinya mampu" jelas Zara mengusap kepalaku
mungkin ucapannya masuk akal juga, apa aku membuat masalah untuk Yaya? apa aku terlalu ikut campur? apakah orang lain tahu bahwa aku hanya ingin dia bahagia
kami berjalan dan mendengar suara anak kecil
"pa-papaa"
aku melihat Rara dan anaknya di balik tanaman rambat di dalam kebun bunga, aku dan Zara menghampiri,
papa? untuk apa kakak dan Rara di sana
saat kami lihat lebih dekat, aku melihat seorang pria,
*prakkk*
aku menyenggol pot, kami langsung berlari bersembunyi di belakang kebun
"siapa di sana?" teriak Rara
~hening~
"sayang, kita tidak melihat siapa pria itu" ucapku
__ADS_1
"ayo cepat, kita harus segera pergi dari ini" ucap Zara menarikku
bersambung...