
"ka-kauu!"
aku heran dengan ekspresi mereka. Mereka cepat-cepat menghampiri,
"Nadya,,, ayoo cepat kemari dan duduk lah, kita akan membahas tentang pertunangan mu, Tante nggak sabar deh" ucap bunda sambil menggandeng Nadya
"e-ehhh, y-ya Tante"
"ayah, bunda melupakan anaknya sendiri" ucapku memelas
"uuuhhh sayang, peluuuk"
"nggak mau, mau sama bunda aja wleee" ledekku "ayo kita ke atas" lanjutku
kami pergi ke atap, duduk dan menyalakan tungku pembakaran.
"tolong ya Zara, aku, Fuji, dan Talita mau ganti baju dulu" ucapku
"aku akan membawa bahan-bahannya" ucap kakak
kami pergi ke kamarku dan mengganti baju
"menyebalkan, kita menyelidiki ini malah kejadian kaya gini" keluh ku
"sebaik apa dia sebenarnya" tanya Fuji
"entahlah, aku tidak melihat aura kebaikan muncul padanya"
"sudahlah, lagian sebentar lagi kakak mu akan bertunangan, tidak ada yang bisa mengganggu gugat keputusan ayahmu" ujar Talita
"tapi aku memikirkan kebahagiaan Yaya, walau tampak kuat, tapi dia tetap rapuh seperti normal nya wanita" ucapku
kami kembali ke atap, aku kesal dengan apa yang ku lihat.
"Zara, aku sudah menyiapkan bajumu, cepat ganti" ucapku
"hahaha, oke oke"
kami menghiraukan Rara dan duduk di sofa bersama
"kakak lama sekali ya" ucapku
"aku lihat tadi dia sedang duduk mengobrol bersama keluargamu dan keluarga Nadya" ucap Fuji
"kenapa hanya baju Zara yang di siapkan" keluh Yoga dan Arga
"kalian pinjam saja pada kakak" ucap ku
"adik Ray-" ucap Rara
"sejak kapan aku punya dua kakak"
"Keiza Ray, biar aku ambilkan bahan-bahannya"
"tidak perlu, kakak sebentar lagi sampai kok" ucapku
"bicaralah yang sopan kekei" ucap kakak tiba-tiba datang
aku berbalik badan "Yayaa," teriakku " kau memakai baju kesayangan ku" lanjutku
"Tante yang menyiapkannya" ucap Nadya
"sudahlah, kamu juga kan kesayangan ku" jawabku
"sini, biar aku bantu bawakan" ucap Rara menghampirinya
"ah, tidak apa, sudah dekat" jawab Nadya
kami menyalakan tungku.
"Kekei"
"sudah Zara?" ucapku berbalik
"kita harus pulang sebelum gelap" ucap Zara "ibu merindukan makan malam mu"
__ADS_1
kami cukup lama kami bercanda dan tertawa. Hingga kami selesai,
"biar aku bawa" ucap Rara
"tidak perlu, ini berat" jawab kakak
"lagian dari awal kita nggak perlu pelayan tambahan" ucapku
"Kekei! siapa yang mengajari mu ini?" bentak kakak
"siapa yang mengajari ku ini? siapa yang mengajari kakak menjadi buta karena cinta?" bentak ku balik
"keke-!" bentak Rara
"hentikan, jangan berteriak lagi pada putri mahkota" ucap Zara sinis
"pu-putri mahkota?!" ucapnya kaget
"sudahlah hentikan ini, kekei kau sudah bukan anak kecil lagi" ucap Nadya
"Aku tidak pernah marah sampai seperti ini, jika bukan karena Yaya, aku tidak akan pernah kau melirik mu" ucapku
"oke sekarant aku akan perjelas" ucap Rara
"tidak perlu di perjelas lagi"
"kalian dari tadi tidak menganggap ku ada, dan ingin mengusir ku sesegera mungkin karena aku tidak ada hubungannya dengan kalian" ucap Rara
"tidak seperti itu Ra" ucap kakak
"itu kenyataannya" ucapku
"terimakasih telah mengingatkan posisi ku, tapi aku juga sudah melahirkan seorang anak" ucap Rara
"a-apa?!"
kami terkejut tentunya, tapi aku merasa lega sesaat.
"baguslah, jika sudah berkeluarga, jangan mengganggu keluarga ku" ujarku
seketika aku tak terkendali dan tiba-tiba menampar nya,
"ke-kekei" ucap mereka serentak
"jangan merendahkan keluargaku, tidak mungkin kakak melakukan itu!" ucapku marah
aku melihat kakak yang terkejut dan Nadya yang syok
"ayolah Rara bercanda mu terlalu berlebihan" ucap kakak
"kau pikir aku bercanda? kau pikir aku mau? kau pikir aku bahagia dengan ini? aku tidak menginginkan anak itu" jawabnya
"aku tidak ingat-" ucap kakak terpotong
"jika kau tidak percaya, akan aku bawa besok dengan hasil DNA nya!"
"kakak, apa yang kakak lakukan?" ucapku menahan tangis "ini mempermalukan keluarga Ray, ini menyakiti hati Yaya, aku benci kakak" menangis
"a-aku tidak, aku tidak ingat, jangan mempermain kan keluarga ku" ucap kakak
"a-ayah?!" ucap Nadya
aku melirik, mereka ada di sana,
"ayah!!"
"pertunangan itu akan di percepat" ucap mereka serentak
"bunda, aku tidak melakukan kesalahan, wanita itu memalukan dan aku menampar nya itu bukan salahku" ucapku
"Gaharu, kau mengecewakan seluruh keluarga Ray, aku ingin kau pergi menemui rumah besar kakek dan nenek besok, dan kekei, nenek dan kakek merindukan mu" ucap bunda mengelus kepala ku
"jika orang lain mengetahui tentang ini, jangan harap kau bisa berdiri lagi di dunia" ucap ayah
"aku ingin tinggal bersama Ray di sini sebagai gantinya"
__ADS_1
"kau terlalu menyombongkan diri"
"kalau begitu aku tidak mau bertunangan" ucap kakak
"Gaharu!!!"
"ku mohon ayah"
"jangan mengharapkan yang lebih" ucap ayah
"terimakasih ayah"
aku sangat kesal, dan tidak percaya dengan apa yang terjadi,
"kekei, sudah waktunya kita pulang, ibu menunggu" ucap Zara
"hati-hati di jalan yaa" ucap bunda
kami pun pergi. Masuk ke mobil,
"sudahlah, kebenarannya pasti terungkap" ucap Zara
"yaa aku tahu" ucapku
"lalu mengapa kau melamun terus"
"aku bingung harus memasak apa" memelas
"eh'?! apapun itu pasti enak, jangan pikirkan yang tidak perlu kau pikirkan" ucap Zara
"oh ya, besok kan libur selama 3 hari setelah festival, aku akan pergi ke rumah nenek, aku akan pulang lusa" ucapku
"akan ada yang menjemput mu lusa, jangan nakal, jika ada sesuatu telpon aku se segera mungkin" jelasnya
"aku tidak pernah nakal" ucapku
***
kami sampai di istana, aku langsung pergi ke dapur dan memasak, setelah nya aku bergegas mandi dan pergi ke ruang makan.
"ahh sudah datang, ibu sudah mencoba nya sedikit tadi, maaf ya mendahului, masakanmu enak sihh" ucap ibu
aku duduk di sebelah Zara
"ibu, Yang mulia kaisar-"
"panggil aku ayah saja, tidak perlu panjang-panjang" ucap nya tersenyum
"ah, terimakasih yang- ayah, aku akan pergi menemui rumah besar, dan akan pulang besok lusa, apa aku boleh pergi?" tanyaku
"tentu saja," jawab kaisar
"hihihi, seperti nya akan ada yang kesepian" ejek ibu
"Huh" Zara memalingkan wajah
"aku tidak akan lupa menelpon mu kok, tenang saja" ucapku
"kau sudah lama sekali ya tidak mengunjungi rumah besar, sampai mereka sendiri yang memanggil mu" ujar ibu
"sudah hampir setengah tahun mungkin" ucapku
***
esoknya,,,
aku sudah siap berangkat, aku memasuki mobil yang di siapkan khusus untuk mengawalku,
"jangan lupa telpon aku, hati-hati di jalan" teriaknya
mereka melambaikan tangan, aku membalasnya.
akupun pergi.
bersambung...
__ADS_1