
Kamipun pergi
"Zara, berhenti" ucapku
"ada apa?"
"a-aku yakin, i-itu paman kedua" jawabku
"aku harus segera memberitahu kakek"
Zara menahan tanganku
"tunggu, kita harus memiliki bukti yang kuat dulu, sekarang lebih baik kita ikuti rencananya untuk menjebaknya"
"hah? bagaimana?" tanyaku
dia menarikku pergi. Dia juga mengajak Nadya dan kakak.
"jadi untuk apa kau menarikku?" tanya kakak
"mungkin kau tidak akan percaya tapi, aku ingin kau mengetahui nya sendiri, mau?" tanya Zara
"apa?" tanya kakak balik
Kamipun mulai berunding.
"jangan kacaukan rencana ini" ucap Zara
"ayo kita buktikan" ucap kakak menantang
"emm, Kekei, maaf aku sudah mengatakan hal yang buruk" ucap Nadya
"tidak apa-apa tidak perlu di pikirkan-" belum selesai bicara
"hei apa yang kalian lakukan?! apa kalian tidak mendengar Rena memanggil kalian dari tadi?!" bentak paman kecil
"haaa! maaf Rena aku tidak mendengarmu" ucapku
"iya, ini aku bawakan camilan" Rena meletakkan di meja
"humphh" paman kecil
"ayolah paman, ikut bersama kami,,, Rena juga, aaahh aku hampir melupakan kak Alfii" ucapku berdiri pergi
aku berkeliling mencari kak Alfi,
"Kak Alfii" teriakku berulang-ulang
"aku di sini"
"ohh, kak Alfi sedang melakukan apa di sini? memasak? ah camilan tadi kak Alfi yang buat? sudahlah, ayoo ikut berkumpul, jangan sendiri di sini" ucapku menarik tangan kak Alfi
"oke oke oke, tunggu, aku matikan dulu microwave nya"
kami kembali, lalu melanjutkan mengobrol
"oh ya, kapan kapan kita makan restoran baru dekat sekolah, katanya restoran nya di bangun sama pangeran negri tetangga, aku penasaran" ucapku
"boleh" ucap Nadya
"ngikut ajalah" ucap mereka serentak
"jalan jalan yuk" ajakku
kami pun keluar, dan menaiku mobil, aku bersama Zara, Kaka dan Yaya, Rena ikut bersama kak Alfi
kami membuka atap mobilnya agar bisa saling melihat. Kamipun berangkat
jalanan sepi karena tidak dekat jalan raya besar
"huuuu" teriak kami serentak
menikmati angin
setelah berkeliling, kami kembali, dengan penampilan yang berantakan karena angin.
"haihh, aku akan pergi mandi dulu, panaass" ucapku
aku pun menuju kamar mandi di kamarku
"untuk apa kau mengikutiku?" tanyaku
"kau akan pergi ke kamar kan? aku ingin tiduran, kau mandi saja" jawab Zara
__ADS_1
kamipun masuk, Zara langsung membanting tubuhnya ke kasur
"kita akan pulang setelah makan siang" ucapku "jadi, tidur saja dulu"
"oke"
aku pergi mandi, setelah selesai mandi aku keluar.
aku berjalan pelan karena tak mau membangunkan Zara, tapi tiba-tiba telpon ku berdering, hingga Zara pun bangun
"ma-maaf" ucapku
"angkat telpon nya" jawabnya
akupun melihat telpon dan ternyata ibu menelpon, aku pun mengangkat telponnya
"ya ibu" ucapku
"kapan kau pulang, ibu merindukanmu dan juga masakanmu"
"ya ibu aku juga merindukan ibu, aku akan segera pulang setelah makan siang" jawabku
kami mengobrol sedikit lama dan menutup telponnya
"Maaf membangunkan mu" ucapku
"tidak apa-apa"
aku pun membuka pintu balkon lebar-lebar, aku menyisir sambil mengeringkan rambutku di balkon, Zara terus menatapku sambil tiduran
"ada apa?" tanyaku
"sini aku bantu" ucapnya menghampiri
jantungku berdegup kencang, dia membantuku menyisir dan mengeringkan rambut.
"siapa kak Alfi?" tanya nya
aku kaget dengan pertanyaan nya
"dia sahabatku sejak kecil, aku kak Alfi dan Rena sering bermain bersama, ada apa? kau cemburu?" ejekku
"ti-tidak" jawabnya
"tidak boleh!! oke oke kau menang" jawabnya
"hahaha, mana mungkin aku pergi dengannya" tawaku
"ka-kauu"
"Rena menyukai kak Alfi, jadi aku selalu mendukung nya, tenang saja" jelasku
Zara tersenyum malu
"aww, hei, sisir dengan pelan"
"y-ya maaf"
Tiba-tiba,,,
"hei, apa yang kalian lakukan?"
"pa-paman kecil!" ucapku "kau mengagetkan ku
"apa kalian tidak bisa mengetuk pintu duluu" ucap Zara
"kami sudah mengetuk tapi tidak ada jawaban jadi kami masuk deh, taunyaa,,," ejek Nadya
Kakak, Nadya, dan Paman kecil masuk.
"jangan sentuh ponakanku, huh,,, belum menikah, menjauh Sanaaa!" ucap paman merebut sisir dan hairdryer
"hahh?! apa katamu?!!"
"apaa?!!"
mereka malah bertengkar di belakangku
"hentikan! aku akan mengeringkan sendiri" ucapku merebut
"Gara-gara-" ucap mereka serentak terpotong
"berisik!" ucapku memotong
__ADS_1
Aku pun selesai. Kami duduk sambil menonton TV tiba-tiba
"nona, tuan, makan siang sudah siap, tuan dan nyonya besar sudah menunggu" ucap pelayan dari luar
"baik kami segera turun" jawab paman
kamipun turun dan makan
"kau akan pulang sekarang Kekei?" tanya Kakek
"ya kakek"
"haishh, kau sangat jahat padaku" ucap nenek
"dia kan sekolah" saut kakek
"nenek, aku akan sering menjenguk kemari, tenang saja" ucapku
setelah selesai makan aku pun berpamitan
"Jika aku mendengar kau menyakiti ponakanku, aku akan hancurkan istana kesayanganmu itu" teriak paman
"jangan bercanda paman" teriakku sambil melambaikan tangan
kamipun pergi. Di perjalanan kami di perhatikan karena kami tidak kembali menutup mobil.
"kau barusaja mandi dan bersiap, tidak akan berantakan lagi? lebih baik aku tutup" ucap Zara
"ini sudah agak sore, kamu juga tidak akan ngebut kaya tadi kan? biarkan aku menikmati angin ini" jawabku
setelah sampai, aku menemui ibu tentunya, lalu pergi ke tempat Zara menemaninya bekerja.
"apa Zara ada di dalam?" tanyaku
"ada yang mulia, sialahkan masuk" ucap penjaga
akupun masuk
"kekei, apa yang kau bawa?" tanya nya
"ini coklat panas buatanku" ucapku meletakkan nya di meja lalu duduk
diapun meminumnya
"di tanganmu tidak ada yang tidak enak" gombalnya
"berisik, kerjakan saja tugasmu, aku akan di sini" ucapku
aku mencari buku lalu duduk sambil membaca buku. setelah lama sekali tiba-tiba Zara duduk di sampingku
"a-apa yang kau lakukan" aku kaget Zara tidur di pahaku
"kau harus terbiasa dengan ini" ejek Zara
"k-kau"
tiba-tiba ada yang masuk, Zara segera bangun karena kaget
"Y-yang mulia"
"kaftaa, apa kau tidak bisa pelan setiap membuka pintu?" ucap Zara kesal
"m-maaf, emm ini, itu ada pangeran Kara negri tetangga"
"biarkan dia masuk" jawab Zara
Diapun masuk
dia lagi, jadi pria aneh yang kalung nya bersinar itu pangeran negri tetangga itu
"Zara, salam tuan putri"
"ah, salam yang mulia" jawabku
aku melihat tatapan nya sangat tajam padaku, Zara juga menyadarinya
"eem Kekei, bukankah kau akan memasak untuk ibu?" ucap Zara
aku langsung mengerti
"ah iya aku begitu ceroboh bisa lupa ini jam berapa, saya mohon undur diri" ucapku membungkuk
akupun keluar dari ruangan
__ADS_1