
"Kost kamu jl. Kartini yang sebelah mana, Sin ?" tanya Bu Ratih karena sudah memasuki jalan Kartini , "itu Bu di depan minimarket setelah lampu merah." Jawabnya agak terbata-bata karena kedinginan , ia tak terbiasa terkena AC mobil.
Saat itu mobil memasuki antrean di lampu merah yang perlahan dipenuhi truk-truk besar pengangkut barang . Untuk mengisi senyap-nya suasana Bu Ratih memutar radio .
Dilihat dari suaranya penyiar radio itu masih muda dan penuh semangat , seperti tak ada kantuk yang perlahan merayu .
Diantara singkatnya perjalanan itu , ia sudah memutar dua lagu keroncong yang membuat para pendengarnya semakin pulas tidur .
"Enak ya pulang kerja jam segini ada lagu keroncong seperti ini , jiwa serasa diambang sadar dan mimpi," Ujar Bu Ratih sambil terus memejamkan matanya menikmati lagu . "Iya Bu , tapi sayang gak bisa ikut nikmatin lagunya," sahut sopirnya.
"Kenapa ?" supirnya tersenyum dan mengatakan "bahaya Bu , masa bawa mobil sambil tidur ." Melihat dari sikapnya kepada orang lain Bu Ratih memang benar-benar orang baik. Jarang sekali ada supir yang berani bercanda dengan majikannya .
__ADS_1
Hingga di kostnya kantuk itu tetap menggerogoti kesadarannya , "hampir jam sepuluh..," membaringkan tubuhnya di kasur tipis itu . Ia sempatkan mengabarkan kabar baik itu pada kakaknya , Sinta memang tak tinggal dengan Devi karena ia ingin lebih mandiri dan bebas meski jaraknya tak sampai satu kilometer.
***
Tepat pukul sepuluh , pemuda misterius itu kembali datang setelah lama tak muncul. Karena ini sudah kesekian kalinya Devi memilih untuk meminta bantuan kepada tetangganya.
Tok...tokkkkk..., Keras ketukan pintu itu.
"Iya bentar ." Suara lelaki setengah baya yang amat serak menyahuti , "pak , tolong pak !!!, Di depan rumah ada pemuda yang mencurigakan." Sambil membenahi gulungan sarungnya pria itu melihat sekejap siapa pemuda yang mencurigakan itu .
"Coba kalo tiba-tiba dia masuk rumah kamu gimana ? , Kamu kan nggak bisa melawan." Kalimat itu membuat Devi tak memiliki alasan lagi untuk menolak. "Udah sana !! , Jangan lupa pak RT juga."
__ADS_1
Setelah mengumpulkan masa , ada seorang yang pura-pura mendekat . Merasa terusik pemuda itu segera menyalakan motornya , mungkin saking paniknya motornya tak bisa menyala sehingga membuatnya semakin panik. Seorang yang berusaha mendekatinya semakin mempercepat langkahnya , tapi motor pemuda itu terlanjur melesat .
Bruakkk...!!!!!!
Pemuda itu seperti sedang main prosotan di tengah jalan malam itu , jatuh tersungkur hingga helm yang belum sempurna terpasang dikepalanya terpelanting . Tiga orang yang telah menunggu di ujung jalan menghadang pemuda itu dengan balok kayu . Karena sikapnya yang semakin mencurigakan salah satu orang itu memberikan bogem mentah saat hendak kabur.
Pukulan orang itu melesat menghantam dagu , pipi ,dan pelipisnya dalam sekali pukulan . Seketika pemuda itu kembali tersungkur di jalanan , sebelum datang masa lainnya .
Beruntung ketua RT disana bisa menjadi penyelamat pemuda itu . "Tahan pak , tahan !!!." Dua orang yang paling dekat dengannya memegangi tangan pemuda itu , "dia belum terbukti melakukan kriminalitas , jadi tahan emosinya." Kembali ketua RT menegaskan ucapannya.
Mereka berkumpul di rumah Devi , sambil di cecar pertanyaan pemuda itu diberi obat oleh Devi . Luka di siku dan lututnya cukup lebar dan mengeluarkan banyak darah , apalagi lebam bekas bogem mentah itu. "Wah , lihat akik pak Di membekas ." Celetuk seorang disana.
__ADS_1
Seorang yang merasa dirinya pak Di menyahuti "ditangan saya aja kerasa sakit apalagi di pelipisnya ." Disambut tawa lainya . ✓
jangan lupa like , komen , rate and vote ya guys !!!, kritik dan saran kalian sangat berharga bagi author thx 😄