
"Temannya kenapa dek kok di ikat jaket ?" tanya seorang pria saat menunggu lampu hijau menyala . Otaknya bekerja cepat dalam sepersekian detik mencari jawaban yang sesuai .
"Mabuk pak , jadi saya ikat biar nggak jatuh ." Bohong Sinta , lampu hijau menampakkan warnanya Sinta langsung memacu motornya cepat membelah dersik malam .
Bumantara sepi tanpa betari menyiratkan eunoia untuk kakaknya , "Tetaplah bertahan !, kita akan sampai ." Pinta Sinta pada Devi ,
\*\*\*\*
"Itu kost gadis itu !, dua anak buah ku ini akan masuk dan menangkap dia ," ujar kapten dari dalam mobil yang diparkir tiga puluh meter saja dari kost Sinta .
Kedua anak buahnya dengan penyamarannya sebagai tetangga kost mengetuk pintu . Lima menit..., sepuluh menit tidak ada jawaban .
"Sinta belum pulang dari tadi , Din !" Asih tetangga kost lainnya yang menjawab . "Kemana yah dia ?, aku ada urusan penting dengannya." Tanya anak buahnya lagi ,
Namun Asih juga tak tahu kemana Sinta pergi , "Tadi dia keluar bawa jaket tebal mungkin ke rumah kakaknya !"
Kedua agennya menginfokan Sinta pergi ke rumah kakaknya , "Bos !, gadis itu pergi ke rumah kakaknya ." Tuannya yang mendengar jika mereka salah tempat marah .
"Apa ? , dia tak ada disini !" hampir hidung mancungnya dihantam bogem tuannya ,
"Sabar dulu tuan !, kami juga menurunkan agen disana jadi tak mungkin kabur ." Tan berusaha menurunkan emosi tuannya .
Kapten kembali bicara "Ini tugas penting , tak mungkin kami melepasnya !"
"Sudah cepat kita pergi !, aku tak sabar melihat mukanya !" ujar tuan Andilah berapi-api . Tak seperti saat berada di dunia bisnis yang nyata , saat ini dia menunjukkan keluarga Nataraharjan yang sebenarnya .
__ADS_1
Di tengah perjalanan kapten mendapatkan info jika Sinta benar ke rumah kakaknya . "Dia kesini , tapi kakaknya sepertinya pingsan ." jelas agennya yang disana,
"Tetap awasi mereka , dan jangan lakukan apapun sebelum ada perintah !" perintah kapten penuh ketegasan .
Jalanan yang masih ramai agak menghambat laju mereka untuk segera ke tempat sasarannya , "Sial !, jam segini masih saja ramai ." Keluh kapten yang memegang kemudi .
\*\*\*\*
"Ah !, kondisinya semakin lemah ." Ucap Sinta saat menggendongnya ke dalam . Postur tubuh keduanya tak berbeda jauh jadi mudah saja untuk Sinta menggendong kakaknya .
Dia mendudukkannya di kursi dan melihat luka tusuk di dada Devi ,
"Lukanya cukup dalam karena kakak berusaha menghalangi ku , harusnya kakak tak usah kembali biarkan aku menyelesaikan ini sendiri !" Sinta mengucapkannya di iringi air mata .
Lalu ia mencari kotak P3K di lemari berharap kakaknya masih bisa selamat .
"Dia sudah tiada Sinta !" Dara mengingatkan Sinta yang masih menganggap kakaknya hidup .
"Jangan bicara yang tidak-tidak , kakak hanya pingsan karena kehilangan banyak darah !" bantah Sinta .
"Periksa detak jantungnya !, apakah masih berdenyut ?" suruh Rara yang selalu memberi solusi .
Sinta menempelkan telinganya di dada Devi dan juga telunjuknya di urat nadi tangan kakaknya , "Kak !, apa kakak benar-benar telah tiada ?" tanya Sinta yang sia-sia .
Dia terus mengguncang-guncangkan tubuh Devi yang mulai kaku . Air mata yang menetes semakin deras , penyesalan juga bermunculan .
__ADS_1
"Ini semua salah kalian !, kalau kalian tidak menyuruhku menghabisinya kakak tak akan jadi korbannya !" Sinta benar-benar kecewa dengan keduanya .
Penyesalan dan kemarahan Sinta semakin menjadi mengingat pertama kali ia membunuh dua nyawa sekaligus .
"Pertama aku membunuh juga karena kalian !, Aku membunuh seorang sahabat baikku dan seorang lagi yang tak tau masalahnya !" Marah Sinta pada mereka .
"Dasar setan candik !, menuruti perintah mu adalah musibah ." Umpat Sinta melampiaskan emosi dirinya .
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan ?, kenapa baru menyesal sekarang ? , apa karena kau membunuh kakakmu ?" Balas Dara , semakin membakar emosi Sinta .
"Akan ku bunuh kalian !, semua orang di samping ku lenyap biarlah kalian yang jadi penutupnya !" ucap Devi . Lalu menggapai sebuah tongkat kayu untuk menyerang setan itu .
Tapi semuanya sia-sia , mereka tembus dari kayu itu . Tak ada rasa sakit pada keduanya meski tak menghindar , bahkan hanya akan menguras tenaga Sinta .
"Sudah..., sudah lelah ? , emsoi mu mengalahkan akal mu Sinta !" Ganti Rara yang berbicara .
****
Bahasa baru -dersik , desir angin
-candik , wanita yang diperlukan seperti istri tapi tak dinikahi
-betari , dewi
Note : yang belum like ayo kasih like dulu , terus komen , rate 5 , dan vote .
__ADS_1
Bagi yang kemarin berharap Sinta gak ditangkap polisi , silahkan lihat episode selanjutnya....