PSIKOPAT CANTIK | Setan Kembar

PSIKOPAT CANTIK | Setan Kembar
NENEK


__ADS_3

"Ahh...,telpon nenek aja , siapa tau bisa bantu." Kalimat itu muncul dalam benaknya saat berjalan ke rumah sakit, tapi meski telah menggeledah semua isi tasnya Devi tak menemukan ponselnya . "Ihh...mana lagi ponselku , pas penting gini ngilang lagi ." Akhirnya ia tak jadi naik angkutan umum , Devi duduk di kursi pinggiran trotoar mengingat terakhir ia menaruh ponselnya .


"Aku tak mengeluarkan semua isi tasku perasaan...," tiba-tiba suara klakson motor terngiang jelas di telinganya , seorang pemuda yang tak sabar menelusuri kemacetan naik ke trotoar . "Hey...ini bukan jalanan nenek moyang kamu ya !" umpat Devi kesal . Pemotor itu tak menggubris teriakan Devi dan menambah kecepatan motornya .


Setelah itu Devi baru ingat jika tadi pagi alarm ponselnya yang membangunkannya tapi karena tak ingin mengganggu adiknya ia langsung pergi tanpa memasukkan ponsel itu dalam tasnya . "Wah...bawa berkah juga klaksonnya ." Entah mengapa ia malah berterimakasih pada pemotor ugal-ugalan itu . "Eh , kok malah berterimakasih...udah lah yang penting aku udah inget ponselku ."


Devi segera melompat masuk angkutan umum melenggang ke rumah sakit sementara adiknya ditemani kedua teman khayalan barunya itu .


Sampai di lorong dekat kamar Sinta Devi mendengar adiknya sedang berbicara dengan seseorang , dalam hati ia amat senang adiknya telah siuman tapi dihatinya juga tersirat sebuah pertanyaan "Siapa yang berbicara dengan sinta ?, kan belum ada yang tau masalah semalam ?"

__ADS_1


Tepat di depan pintu kamar Sinta , Devi disambut panggilan adik kesayangannya . "Hallo kak...," Sinta ingin mengenalkan kedua sahabat barunya itu , tapi Rara dan Dara memberi kode agar tak melakukan itu . "Iya kenapa , kamu udah makan ?"


"Udah...nggak papa kangen aja ." Balas Sinta , "Lho kok nggak ada orang dek , tadi kakak denger kamu bicara sama seseorang lho." Tanya Devi sambil mengecup kening Sinta . "Emang nggak ada orang kak ," Sinta menekankan kalimatnya agar Devi percaya .


"Nggak mungkin kakak salah denger...," Devi masih belum percaya . "Udah ah kak , nggak penting tau ," pungkas Sinta . "Eh...iya juga sih ."


"Dek kamu itu jangan banyak pikiran ya...kalo ada masalah bilang ke kakak ya , pasti aku bantuin ." Ucap Devi tanpa menanyakan kenapa adiknya sampai bunuh diri . Jika pun ditanya Sinta sendiri juga tak tau kenapa ia sampai melakukan itu . Kejadian itu muncul begitu saja dari dalam dirinya .


"Hallo nek !!" sapa Devi setelah menunggu beberapa saat . "Hallo nak , ada kabar apa tumben telpon ."

__ADS_1


"Ini nek Devi mau minta bantuan nenek , bisa ?"


"Kalo nenek bisa bantu pasti dibantu ." Balas nenek . "Devi mau minta nenek kesini , bisa ?" pinta Devi agar neneknya mau kesana . "Ada apa nak , sampe nenek harus kesana ?"


Dalam batinnya "jangan...jangan beritahu nenek pasti akan kaget ." Lanjut ia berbohong agar neneknya mau kesana . "Anu...ibu kangen nek makannya Devi hubungi nenek ."


"Ya udah...besok pagi nenek kesana tapi jangan lupa di jemput ya , nenek udah lupa jalan kerumah kamu ." Nenek menyetujui permintaan Devi . "Alhamdulillah...baik besok Devi jemput di terminal ."


Sebenarnya jika ditarik garis lurus jarak rumah neneknya mungkin hanya dua puluh kilometer saja , tapi mereka tak hanya terpisah kota tetapi juga provinsi , ditambah lagi rumah neneknya berada dibalik gunung . Jadi tak mungkin ada alat transportasi umum melewati daerah itu .

__ADS_1


Untuk sampai disana neneknya harus turun gunung untuk ke terminal dan dua jam lebih baru sampai di terminal kota Devi . Perjalanan yang dilalui pun juga sulit oleh sebab itu tak setiap hari ada perjalanan ke kota Devi . ✓


__ADS_2