PSIKOPAT CANTIK | Setan Kembar

PSIKOPAT CANTIK | Setan Kembar
KEMATIAN IBUNYA


__ADS_3

Jam masih menunjukkan pukul empat lebih dua belas menit tapi Sinta sudah terbangun karena mendengar nada panggilan dari neneknya.


"Hallo Sin , kakak kamu kemana ditelpon nggak bisa ?" Neneknya nampak tergesa-gesa hingga lupa mengucapkan salam. "Kurang tau Nek , kan Sinta kost sendiri , emangnya ada apa Nek nelpon pagi-pagi gini ?"


Neneknya tak langsung menjawabnya tetapi samar-samar terdengar suara orang riuh di sekitarnya , "Kok kayaknya nenek di tempat rame." Barulah neneknya menjawab pertanyaan Sinta beberapa saat kemudian "Ibu kamu drop , kamu kabarin kakak kamu terus cepetan ke sini."


Tanpa menjawab kalimat neneknya Sinta menutup panggilan itu dan berlari keluar menuju tempat kakaknya . Di saat matahari belum menampakkan sinarnya Sinta sudah berlari-lari menembus gelap.


Meski dengan nafas terengah-engah dan otot kaki yang keram ia akhirnya sampai . "Hah...,hah...,hah Assalamualaikum kak ini Sinta." Sambil menunggu di bukakan pintu ia berusaha mengatur nafasnya yang kacau itu. "Iya bentar.." akhirnya Devi memberikan respon.


"Ada apa Dek ? , Masih gelap gini udah kesini ?." Tanya Devi . "Hp kakak mati ? , Kok nggak bisa di telpon." Sinta balas bertanya , "Iya , soalnya tadi malam lowbat jadi belum kakak nyalain lagi , emang kenapa pagi-pagi nelpon?"


Dengan nafas yang mulai teratur Sinta menjelaskan alasannya , "Bukan aku tapi nenek yang nelpon , katanya ibu lagi drop dan kita harus kesana ." Mendengar itu Devi mengajak Sinta masuk dan menyalakan ponselnya . Devi mencoba menelepon balik neneknya "assalamualaikum Nek , beneran nenek tadi nelpon?"


"Iya , kamu sama adik kamu cepetan ke sini keadaan ibu kamu sangat lemah , tapi udah nenek bawa ke puskesmas." Devi langsung mengiyakan permintaan neneknya , "Iya Nek , kami segera ke sana."

__ADS_1


"Dek , kakak mau minta izin ke bos kakak , kamu mau kakak anter pulang sekalian nggak ?" Devi menawarkan tumpangan karena kasihan adiknya berlari dari kostnya sampai ke rumah. "Iya , kaki aku juga masih keram langsung dibawa lari."


Sementara Devi ke rumah bosnya untuk meminta izin , Sinta segera shalat subuh dan lanjut bersiap ke kantor . Ya karena Sinta tak tau harus menghubungi siapa untuk mendapatkan izin . "Masih jam segini sih , tapi aku kan harus cepet-cepet." Ia tampak gundah sambil terus melirik jam tangannya.


"Dek , kakak udah dapet izin tinggal nyari tiket bus , kamu mau di cariin sekalian nggak ?" Tanya Devi . "Enggak usah kak , nanti aku cari sendiri aja takutnya aku nggak bisa bareng." Kalimat Sinta cukup beralasan karena hingga jam enam lebih belum ada seorang pun yang datang. "Ya udah , tapi kamu cepetan nyusul yah."


Baru jam tujuh lebih ia baru menemui tuan Darwin , "Lho kenapa kamu disini nak ?" tegur tuan Darwin pada Sinta. "Maaf pak , saya hari ini nggak bisa kerja , Ibu saya sakit keras dan sekarang saya mau minta izin." Ucap Sinta dengan sangat gundah.


Sekarang sudah jam delapan lebih , bahkan matahari pun mulai terasa membakar . Dengan buru-buru ia ingin segera sampai ke terminal , "Semoga masih ada bus yang ke sana." Batin Sinta selama perjalanan.


Kakaknya yang sudah berangkat lebih pagi sampai di terminal kota neneknya pukul sepuluh siang . Sedangkan Sinta harus naik bis jurusan lain untuk bisa ke rumah neneknya.


Devi juga sempat menghubungi neneknya untuk menanyakan keadaan ibunya. Sebenarnya kondisi ibunya sudah lebih baik dari tadi pagi , tetapi ibunya memaksa untuk dirawat dirumah. Ibunya ingin yang merawatnya untuk terakhir kali adalah anak-anaknya sendiri.


"Ibu...,(Devi langsung memeluk ibunya) Bu ini Devi." Wajah pucat nan lemas itu tersirat senyum. Ibunya juga membalas pelukan Devi dan menanyakan adiknya. "Adikmu mana ?, Dia pulang kan?" Devi mengangguk sambil mengusap air matanya. "Sinta pulang kok , sebentar lagi pasti sampai."

__ADS_1


Setengah jam berlalu tetapi adiknya belum jua datang, "Bu , Devi mau keluar sebentar yah." Tanpa menunggu lama ia terus saja menghubungi adiknya , tetapi karena tak sempat mengisi ulang daya , ponsel adiknya tak bisa dihubungi.


Tepat pukul dua belas siang Sinta baru sampai di sana , memang setelah sampai di terminal pertama ia tak melanjutkan ke terminal berikutnya tetapi langsung mencarter mobil sehingga bisa langsung sampai di rumah lebih cepat.


"Kak, ibu dimana ?" tanya Sinta penuh cemas , tetapi Devi berusaha meyakinkan jika ibunya baik . "Ibu dikamar , ibu sudah mulai baik keadaannya." Sinta langsung mencari ibunya dan memeluknya sama seperti yang dilakukan Devi .


"Dek , kenapa ditelpon nggak bisa ?" tanya Devi pada Sinta , "Tadi malam kan aku nggak sempat ngisi baterai dan tadi aku on terus jadi lowbat." Tiba-tiba saat keduanya membicarakan itu neneknya berteriak.


"Devi , sinta..., ibumu !!, Cepat kesini." Keduanya refleks melompat dari kursi dan melihat ibunya. Keadaan ibunya kini langsung turun derastis bahkan nafasnya juga sangat berat . Devi hendak mencari bantuan untuk membawa ibunya ke rumah sakit tapi tangannya ditahan oleh ibunya.


Genggaman tangan ibunya tidaklah kuat tetapi sanggup untuk membatalkan niat Devi untuk pergi. Keduanya memeluk ibunya bersamaan sambil terisak-isak , detak jantung ibunya mulai melambat dan nafasnya juga semakin berat.


Sambil menggenggam jemari ibunya , Devi memandu ibunya mengucap dua kalimat syahadat . Memang berat melepas ibunya tetapi harus ia lakukan agar ibunya meninggal dalam keadaan Islam.


Belum sempat menyelesaikan kalimatnya ibunya mulai melepaskan genggamannya , teriakan Sinta dan Devi telah bersahutan dengan tangisnya. Ketakutan yang tak pernah ia alami sebelumnya muncul dan menjadi lebih berat karena banyak mimpi yang belum ia laksanakan.

__ADS_1


Hay guys , author balik lagi nih..,ayo dukung author lewat like, komen , vote , dan rate kalian..,like dan komen nggak ngurangin harta kalian kok , karena harta paling berharga adalah keluarga...


__ADS_2