
Sebelumnya ,
"Halo ! , apakah benar benar ini nomor telepon bapak..." ucap Sinta di telponnya . Sinta membuat suara kertas yang berkali-kali di bolak balik , seakan sedang memeriksa nama orang yang di ajaknya bicara di berkas yang ia bawa.
"Bapak Ahmad , ini siapa ?" tanya pak Ahmad . Sinta berhenti membalik kertas itu , "Oh iya pak Ahmad ! , ini saya asisten bapak Hamdan ingin menyampaikan berita bahagia pada pak Ahmad !" ujar Sinta bohong .
"Berita bahagia ?" balas pak Ahmad bingung ,
"Iya pak !, Anda mendapatkan undian berhadiah satu rumah di kompleks perumahan elit dan tiket wisata ke Raja Ampat ." Bohong Sinta lagi .
"Benarkah ?, tapi saya tak memasukan undian ," ucap pak Ahmad memastikan . Sinta memberikan foto Hamdan dan Devi yang berada dibelakangnya ,
"Agar bapak lebih percaya saya akan mengirim foto kami sedang mengundi pemenang beserta nomor telepon pak Hamdan ."
\*\*\*\*
"Saya pak Ahmad yang memenangkan undian itu ," balas pak Ahmad semangat .
Hamdan terdiam kebingungan karena ia tak mengadakan undian . "Saya cuma memastikan saja takut ditipu asisten bapak !" ucap pak Ahmad lagi .
Langkah Sinta perlahan mulai mendekat , senyap dan sepi keadaan parkiran mobil malam itu . Dengan pisau yang masih diangkat kedua tangannya terus mengintai Hamdan dari belakang ,
"Asisten ?" tanya Hamdan ,
"Iya , asisten bapak yang perempuan ." Jelas pak Ahmad pada Hamdan . "Tapi saya tak punya asisten perempuan dan saya juga tidak mengadakan..."
Pisau itu sudah menusuk kedalam jaket yang dikenakan Hamdan , beruntung Hamdan membalikkan badannya sehingga hanya tergores sedikit .
Hamdan melempar ponselnya ke dalam mobil sambil terus menatap tajam mata pelakunya yaitu Sinta . "Kenapa kamu menusuk ku ?" tanya Hamdan ,
Sinta tak menjawab , dia kembali menghunuskan pisaunya ke arah dada Hamdan . "Ini yang membuatku takut dan pergi , lawan bisnis ayah akan mengincar kami !" ucap Hamdan sambil menagkis pisau itu .
"Bukan !, bukan itu...," ucap Sinta dengan mata mengerikan .
Hamdan berhasil mendorong Sinta hingga terjatuh , ia membuka jaketnya untuk dibalutkan ke tangannya yang mengeluarkan banyak darah .
__ADS_1
\*\*\*\*
Note : Kasih like dulu ya guys sebelum lanjutin bacanya..
Di rumah tuan Andilah ,
"Malam tuan !" sapa kapten dan teman wanitanya.
"Ada apa ?" balas tuannya tanpa melirik padanya . Kapten kembali bicara "Kami sudah tahu siapa gadis misterius itu !, malam ini jika tuan mengizinkan akan kami tangkap dia,"
Tuannya tak mau tertipu laporan macam ini , "Jika kalian salah tangkap cukup sampai malam ini saja kalian bekerja untuk ku !" penuh keyakinan keduanya menyanggupi resiko itu .
"Karir kami taruhannya , tuan !" ucap teman wanitanya .
"Untuk membuktikan kemampuan tim kalian , malam ini saya akan ikut ," ujar tuannya . Tanpa berbalik badan dan menghisap tembakau yang membara itu , tuannya memberi kode untuk segera pergi .
"Baik tuan !" Membungkuk dan berjalan mundur hingga di pintu .
\*\*\*\*
"Aku tak tahu kenapa kamu menyerang ku !" ucap Hamdan menahan perih luka di tangannya . Sinta kembali berdiri tanpa memberikan jawaban , mengambil pisaunya yang terjatuh .
Posisi Hamdan sangat tidak menguntungkan , belakangnya sudah tembok tinggi sementara kanan kirinya berjajar mobil .
Diantara waktu yang singkat dan sulit itu dia sempat terfikir untuk melompati beberapa mobil di sampingnya , "Tapi dia pasti akan mencegahku melakukannya ." Batin Hamdan membatalkan niatnya ,
Dari belakang Sinta muncul seorang wanita , semakin lama semakin jelas . Devi ?, tentu Hamdan menyuruhnya menjauh agar tak menjadi terluka .
"Jangan ! , Jangan maju!" larang Hamdan pada Devi , tapi Sinta mengira kalimat itu untuknya . "Baik !, Aku akan maju ," Sinta mengayunkan pisaunya ke belakang....,
Blluuss...!!!!
Ternyata pisaunya mengenai sesuatu yang berada dibelakangnya , "Siapa ?, beraninya mengganggu ku !" marah Sinta padanya .
Namun orang itu malah memeluknya erat , "Jangan kamu sakiti Hamdan ," suara itu sangat ia kenal . "Kakak ?, kenapa kakak kembali ?" tanya Sinta .
__ADS_1
"Ada barang kakak yang ketinggalan !" ucap Devi dengan suara yang makin lemah , serta pelukannya juga semakin terlepas. Sinta membalikkan badannya untuk menahan agar kakaknya tak jatuh ,
Perlahan ia mendudukkan Devi bersandar mobil disampingnya , "Aku lakukan untuk kakak !" ujar Sinta pada kakaknya .
Di saat itu juga Hamdan menyergapnya dari belakang dan mencekik leher Sinta , "Pecundang !, lelaki pecundang !" teriak Sinta sambil berusaha lepas .
Hamdan berhasil membuat Sinta tak memiliki banyak ruang gerak , tetapi ia lupa Sinta memegang sebuah pisau .
"Jllebbb...," Menembus perut Hamdan ,
"Sial !, tak kusangka kau masih bisa melawan ." Rintih Hamdan , ia melepaskan Sinta dari dekapannya .
Sialnya lagi , Sinta yang sudah dipuncak emosi menyerangnya balik . Hamdan tak bisa menghindari laju pisau yang mengejutkannya .
Tepat di titik yang akan segera membuatnya tewas , lehernya tertancap pisau namun ia masih belum jatuh . Sinta ganti menolong kakaknya yang terkena pisaunya ,
Beberapa detik berselang Hamdan duduk dan jatuh tersungkur tanpa nyawa . Peristiwa fahisyah yang mewarnai bumantara malam ini menutup hidupnya .
Di benaknya sekarang mengingat bagaimana kakaknya menyelamatkan nyawanya saat di ujung antara mati dan hidup .
"Aku akan menyelamatkan kakak seperti kakak menyelamatkan aku dulu !" batin Sinta sambil memapah kakaknya yang tak sadarkan diri .
"Bertahanlah !, teruslah bertahan dan kita akan hidup bahagia...," ujarnya di perjalanan pulang . Ia membawa Devi dengan mengikatkan jaket Devi pada badannya agar tak jatuh .
Bahasa baru - Bumantara , langit atau angkasa
Fahisyah , keji atau kejam
Note : kalo lupa like silahkan like sekarang yah , tambahin komen , rate , dan vote juga yah...
Kalo ada yang salah boleh di benarkan yah !!!
__ADS_1