
"Kita sudah sampai tuan !" ucap kapten , mobil itu berhenti di balik tembok rumah tetangganya .
"Aku akan melihat bagaimana anak buah mu bekerja !" respon tuannya . Tuan Andilah membuka pintu mobil tetapi dihalangi oleh Tan yang duduk disampingnya .
"Singkirkan tangan mu !, aku akan menilai kerja mereka ," bentak tuan Andilah , namun Tan tetap menghalangi tuannya turun .
"Kita nilai nanti , dia bisa kabur jika tuan ikut turun ." Tan membela dirinya ,
"Benar !, gadis itu kenal tuan jadi mungkin akan kabur jika tuan turun sekarang ," Kapten membantu Tan untuk menghalangi tuannya .
"Baiklah !, aku akan menunggu kabar baiknya saja !" balas tuan Andilah . Ia hanya melihat dari jendela mobil sambil menghisap cerutunya .
Kapten mengirim pesan kepada agennya yang telah menyamar disana . "Lakukan apa yang harus kalian lakukan !" tanpa membalasnya mereka masuk ke rumah Devi .
Berkali-kali pintu diketuk tetap saja tak mendapat jawaban . "Dobrak !, cepat sebelum dia kembali kabur !" perintah kapten lagi.
Ternyata pintu itu bukan dikunci dari dalam tetapi di ganjal dengan kursi , "Cuma kursi !, apa dia mau mempermainkan kita ?" tanya si agen perempuan .
Dari balik tembok ruang tamu , mereka menemukan Devi yang terduduk di lantai . "Ah !, ini kakaknya , tapi kenapa dia disini ?" tanya agen perempuan kaget .
"Darah ini sepertinya juga darah dia !" agen laki-laki itu menemukan bercak darah yang menetes dari tubuh Devi . Saat di angkat posisi kepalanya mereka kaget karena ada luka di dada sebelah kanannya.
__ADS_1
"Ini luka tusuk !, apa mungkin Sinta yang melakukannya ?" tanya agen laki-laki kembali . "Apa yang kalian lakukan , cepat cari dia !" kembali perintah kapten ,
Agen perempuan mencari Sinta di dapur dan kamar mandi sedangkan agen laki-laki mencarinya di ruangan lainnya .
Hampir seperempat jam mencari Sinta dan tak ada hasil mereka hampir saja menyerah . "Dia tak ada di dapur dan kamar mandi !, bagaimana denganmu ?" tanya si perempuan .
Agen laki-laki menggeleng , tapi melarang partnernya melaporkan kegagalan mereka . "Shusssst !" agen laki-laki memberikan kode dengan tangannya .
Dia menunjuk sebuah ruangan yang belum mereka periksa sama sekali , "Kita belum memeriksa ruangan itu !" agen perempuan mengangguk dan membuka pintu ruangan itu .
Note : like dulu ya guys sebelum lanjutin bacanya , dukungan kalian akan membawa semangat baru untuk author...
Hwaaaa....!!!!
"Bagaimana ?, kita kabari kapten atau urus dia dulu ?" tanya agen perempuan meminta saran . Agen laki-laki menatap serius Sinta yang sudah tak bisa kabur .
"Suruh tuan masuk !, tuan pasti sangat ingin melihat dia sekarang ." Agen perempuan meminta mereka yang menunggu di mobil untuk masuk .
Dengan ekspresi senang tuan Andilah keluar dari mobilnya . Keadaan hatinya mungkin separuh puas setelah menanti waktu seperti saat ini dan separuh marah karena telah menghilangkan nyawa anak perempuan satu-satunya .
"Dimana gadis itu ?, aku tak sabar memberi satu dua bogem di hidungnya." Tanya tuannya penuh emosi . "Dia di dalam dan kita pastikan tak akan melawan !" balas agen laki-laki .
__ADS_1
Agen-agen itu memeriksa kondisi Devi yang masih dibiarkan duduk tertunduk dan tertusuk di dadanya . "Meninggal !, dia telah meninggal ," ujar agen laki-laki setelah memeriksa kondisinya .
"Selamat malam gadis ku !" sapa tuan Andilah saat membuka pintu . Namun yang ia dapati tak sesuai dengan keinginannya , "Hah !, dia bunuh diri ?" ucap Tan kaget .
Mereka mendapati Sinta dalam kondisi tergantung di kamarnya dulu . Mungkin mereka hanya telat lima belas menit dari keputusan Sinta untuk mengakhiri hidupnya .
"Sial !, harusnya kau masih berdiri disini dan menerima pukulan ku , nak ." Ujar tuan Andilah yang semakin menjadi . Beberapa pot kecil dan hiasan dibanting oleh tuan Andilah .
Kekecewaannya bukan hanya karena tak jadi melayangkan bogem mentah saat itu , tapi karena seorang gadis muda yang ia kagumi kepandaiannya adalah pembunuh anaknya sendiri .
Tuan Andilah menyuruh kapten untuk menghubungi polisi , sementara Tan untuk mengurus Devi bersama dua anak buahnya .
"Tak kusangka kaulah pengkhianatnya nak !, mengkhianati kebaikan yang kuberikan ." Ucap tuan Andilah sambil menyibak rambut Sinta yang menutup wajah cendayam nan imut itu .
"Setelah putriku pergi aku rasa kamu akan menggantikannya , nak ." Ekspresi tuan Andilah sangat kecewa saat itu . "Aku menganggap mu keluarga , jadi tak ada curiga padamu ." Tuan Andilah memegang wajah Sinta dengan kedua tangannya sambil mengingat saat putrinya masih kecil .
"Dulu dia sangat kesepian , sering berpindah sekolah karena ancaman lawan bisnis ku ," tuan Andilah menceritakan kesepian putrinya .
"Kelas satu SMA aku bawa dia pulang ke rumah ibunya , dan disini putriku mendapat teman baik yaitu kamu !" tidak ada orang yang menganggu tuan Andilah menceritakan kisah itu .
"Tapi kematiannya juga ditangan mu teman baiknya ! , ternyata kau lebih fahisyah daripada lawan bisnis ku , nak ." Mengungkapkan cerita itu membuatnya meneteskan air mata .
__ADS_1
Note : kalau belum like , boleh like dulu guys . terus lanjut tulis komentar kalian , vote dan rate 5 yah...
Aku kasih bocoran yah , ini bukan episode terakhir lho setelah ini ada kejutan pokoknya...,thx