PSIKOPAT CANTIK | Setan Kembar

PSIKOPAT CANTIK | Setan Kembar
WARISAN


__ADS_3

"Dev tadi ada yang nelpon ." Keduanya memeberi tahu Devi setelah kembali , "Siapa ? , Tapi kalian angkat nggak ?" Devi langsung mengecek ponselnya , bukan dari nomor yang dikenal .


"Nomor gak dikenal , tadi dia bilang apa ?" keduanya menahan senyum tipis , "Dia gak kenalin namanya tapi dia bilang mau ketemu kamu jam satu bisa nggak." Sempat terbesit nama Hamdan dibenaknya tapi sepertinya itu tak mungkin karena ia belum memberikan kontaknya.


"Terus kalian jawab gimana ?"


"Ya aku bilang kamu lagi keluar , eh langsung dimatiin." Keduanya menjelaskan itu sambil menahan tawanya . "Terus kalian kenapa senyum-senyum gitu ? , atau kalian bilang yang aneh-aneh padanya ?" Tuduh Sinta .


"Enggak kok ."


"Itu cowok kamu ya Dev , keliatannya dia salah tingkah pas tau yang megang hp mu temennya." Tanya salah satunya. "Kalo dia cowok aku mana mungkin nomornya gak aku simpan , ngotak dong ."


"Ya mungkin aja kan baru ganti nomor !! , Ya nggak , Des ?" Akhirnya Devi memutuskan untuk menelpon balik nomor itu , "Hallo.., ini nomor siapa ya tiba-tiba nelpon ?" Sinta membuka percakapan lebih dulu.


"Ini benar nomor Devi kan ?" Dia malah balik bertanya . "Betul , dan ini saya sendiri..,anda siapa ?" baru pemuda itu memeberi tahu siapa dia "Baiklah , aku Hamdan dan tujuan ku untuk mengajak mu bertemu , bisa ?"

__ADS_1


"Jika jam satu siang aku pastikan tidak bisa , aku masih kerja ." Hamdan hanya bisa menghela nafas , "Akhir pekan ini bisa ?"


"Bahkan hari libur pun aku harus tetap kerja , memang apa yang ingin kau bahas ?" Devi menginginkan agar urusan itu disampaikan lewat telepon saja . "Tidak ! , Aku tak bisa menyampaikan ini di telepon , kita harus bertemu ."


"Begini saja , nanti sore aku bisa bertemu kamu , gimana ?" meski sebenarnya dia sangat sibuk setelah ayahnya meninggal , Hamdan mengalah demi titipan ayahnya. "Ya udah , ketemuan di kafe dekat taman kota habis magrib." Tanpa menyampaikan satu kata pun mereka serempak menutup telepon.


***


Pukul 18.05


"Selamat malam tuan muda !, sebenarnya aku malas jika harus bekerja diluar jam kerja ku ." Sapa orang itu , "Aku tak mau menunda urusan ini , makannya aku paksa kau tuk lembur hari ini." Orang itu mengangkat bahunya dan berdiri untuk memesan minuman.


Devi melambaikan tangan ke arah Hamdan duduk , dan dibalas oleh Hamdan . "Kamu sudah lama ?, maaf aku telat sedikit." Ujar Devi . "Ya nggak papa , yang penting kamu bisa dateng."


Hamdan membuka map yang dibawa orang tadi dan membacanya sekilas , "Ini , baca dulu !! , dan jangan kaget dengan isinya." Menyerahkan map itu pada Devi . "Ini orangnya , Dan ?" tanya orang itu sambil membawa segelas juz , Hamdan mengangguk .

__ADS_1


Surat itu berisi tentang pembagian warisan dari ayah Hamdan . Di urutan pertama dan paling banyak mendapatkan hak atas harta ayahnya adalah Hamdan , lalu ibunya yang mendapat simpanan sebesar lima miliyar .


Di urutan ketiga ada nama keluarga Danuarta , tentu itu membuat Devi terkejut . "Benar ini daftar penerima warisan dari ayahmu ?" Keduanya mengangguk membenarkan.


"Jika anda sudah membacanya ini adalah surat hak terima atas warisan itu , silahkan dibaca dan ditandatangani." Sahut orang itu .


"Sebentar ! , boleh aku menanyakan satu hal ?" dan Hamdan juga memperbolehkan .


"Kenapa tertulis keluarga kami , bahkan kami tak mengenal siapa ayahmu ." Hamdan hanya menggeleng , "Tidak ada yang tau alasannya , tapi saya menyaksikan almarhum bapak menulis surat itu secara langsung ." Orang itu yang menjawabnya .


"Baiklah , aku tanda tangani tapi aku tak bisa percaya jika mendapatkan warisan sebanyak ini ." Warisan yang diberikan padanya adalah tanah kosong seluas satu hektar , dan uang sebesar dua ratus lima puluh juta . Meski jauh lebih kecil dari bagian Hamdan dan ibunya tapi itu sangat mengejutkan .


"Sudah terima saja ! , Aku tak akan mengganggu bagian kalian." Tegas Hamdan , "ya sudahlah , terima kasih banyak.., dan salam untuk ibumu ."


"Karena urusan kita telah selesai , aku pamit duluan ." Hamdan beranjak dari tempat duduknya diikuti orang itu , "Silahkan ." ✓

__ADS_1


__ADS_2